Tautan-tautan Akses

Pengadilan “Cadillac Frank” Tunjukkan Keberadaan Mafioso Terakhir?


Dari kiri ke kanan: Francis "Cadillac Frank" Salemme, Stephen Flemmi, Francis Salemme Jr dan Luigi Manocchio hasil dari foto pengintaian pemerintah AS yang diambil pada tahun 1993 (foto: Kantor Kejaksaan AS via Reuters)

Francis Salemme membungkukkan tubuh ke depan kursi untuk melihat dengan lebih baik foto yang ditunjukkan kepada para juri. Di layar komputer tampak Salemme dengan rambut coklat ikal, ketika itu ia dikenal sebagai seorang pemimpin Mafia di New England yang dikenal sebagai “Cadillac Frank,” dikerumuni orang di luar sebuah hotel di bawah pengawasan ketat FBI.

Hampir tiga puluh tahun kemudian, Salemme yang kini berusia 84 tahun, diadili terkait insiden pencekikan seorang pemilik klub malam pada tahun 1993, yang akan lebih cocok berada di panti jompo dibanding memimpin rapat Mafia.

Bagi jaksa, Salemme mungkin merupakan orang terakhir dari era kejahatan terorganisir yang berkembang di Boston dan sekitarnya, yang diadili. Tokoh mafia yang duduk di kursi roda itu didorong memasuki ruang sidang pada hari pertama sidang dirinya, yang mirip dengan New England Mafia yang pernah dipimpinnya.

“Ini akhir sebuah era, setidaknya babak kejahatan terorganisir di Boston,” ujar Brian Kelly, mantan jaksa yang mengadili Salemme dalam kasus-kasus sebelumnya dan membantu menjatuhkan vonis terhadap gangster terkenal Whitley Bulger.

Mafia masih ada di kota-kota seperti New York, Chicago, Philadelphia dan Detroit, tetapi tidak sekuat atau melakukan kekerasan sekejam yang mereka lakukan puluhan tahun lalu, demikian ujar Scott Burnstein, yang menulis buku-buku tentang mafia. Ketika eselon tingkat elit seperti Salemme mulai bekerjasama dengan otorita berwenang, hal itu membuka peluang bagi anggota-anggota mafia itu untuk saling tuding satu sama lain, ujar Burnstein.

“Bagian terakhir masa keemasan kejahatan terorganisir Amerika turun berkat orang-orang seperti Cadillac Frank,” ujar Burnstein. “Kota itu tidak pernah lagi melihat pengadilan mafia seperti ini.”

Salemme, yang memimpin keluarga mafia New England ‘’La Cosa Nostra’’ beringsut keluar masuk ruang sidang, membungkuk, dan hanya sesekali mengangkat kepala untuk melambaikan tangan dan mengedipkan mata pada wartawan yang telah meliputnya selama puluhan tahun. Salemme tampak sangat berbeda dibanding mantan rekannya, Stephen ‘’The Riffleman’’ Flemmi – yang kini berusia 84 tahun – yang awalnya bahkan tidak dapat mengenalinya meskipun duduk hanya beberapa meter dari dirinya.

Pengadilan Salemme telah mengajak juri kembali ke masa ketika mafia merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan. Dan parade sekutu-sekutu lama mereka berupaya memberi kesaksian untuk menentangnya, menunjujkkan bahwa sumpah setia mafia telah sejak lama mati.

Salemme dan rekannya, Paul Weadick, dituduh membunuh Steven DiSarro karena Salemme khawatir ia akan bekerjasama dengan otorita berwenang. Salemme, yang telah mengakui beberapa pembunuhan lain, dan Weadick berkeras mereka tidak bersalah. Mayat DiSarrio ditemukan tahun 2016 setelah otorita berwenang memperoleh petunjuk bahwa ia dikubur di dekat sebuah pabrik di Providence, Rhode Island.

Argumen penutup kasus ini akan disampaikan hari Senin (18/6). [em/al]

XS
SM
MD
LG