Tautan-tautan Akses

Presiden Korsel akan Bahas Nuklir Korut dengan Presiden Jokowi

  • Fathiyah Wardah

Presiden Korsel Moon Jae-in, 1 November 2017 (Foto: dok).

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dijadwalkan berada di Indonesia pada 8-10 November. Dia akan diterima Presiden Jokowi pada 9 November di Istana Presiden di Bogor. Selain akan membicarakan kerjasama ekonomi antara kedua negara, Presiden Korea Selatan juga akan membahas soal nuklir Korea Utara dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Situasi di Semenanjung Korea menjadi tegang dalam beberapa bulan terakhir sejak Korea Utara mengadakan uji coba peluru kendali dan bom nuklir. Ketegangan kian memuncak setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengancam akan menembakkan peluru kendali nuklir ke wilayah Guam, Amerika Serikat. Kim juga memperingatkan perang nuklir dapat terjadi kapan saja.

Presiden Amerika Donald Trump menanggapi ancaman Kim dengan mengatakan negaranya akan membalas dengan tindakan lebih keras.

Isu nuklir Korea Utara ini pula akan menjadi salah satu bahasan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Indonesia. Presiden Moon akan mendiskusikan situasi di Semenanjung Korea dalam pertemuannya dengan Presiden Joko "Jokowi" Widodo.

Kepada wartawan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan Presiden Moon dijadwalkan berada di Indonesia pada 8-10 November. Dia akan diterima Presiden Jokowi pada 9 November di Istana Presiden di Bogor.

Arrmanatha menambahkan lawatan itu merupakan kunjungan pertama Presiden Moon ke negara Asia Tenggara sejak dia dilantik pada 10 Mei lalu. Dia menekankan kunjungan Presiden Moon tersebut menunjukkan komitmen tinggi Korea Selatan untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia dan ASEAN.

"Masalah Korea Utara dalam bulan terakhir ini bukan saja menjadi kepentingan di kawasan Semananjung Korea tetapi meluas ke kawasan kita,sehingga tentunya akan menjadi perhatian pembahasan kedua kepala negara," kata Arrmanatha.

Terkait persoalan Nuklir Korea Utara, Pengamat Internasional dari Universitas Padjajaran, Bandung,Teuku Rezasyah menilai Indonesia merupakan negara yang dapat berlaku adil atau netral dalam menyelesaikan persoalan nuklir ini. Rezasyah berharap kunjungan presiden Korea Selatan tersebut dapat memungkinkan Indonesia memperoleh informasi lebih mengenai masalah yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara.

Jika Indonesia akan menjadi negosiator antara Korea Selatan dan Korea Utara, pemerintah Indonesia juga harus menjelaskan kepada Korea Utara bahwa kedua negara adalah mitra yang baik. Selama ini kata Reza, Korea Utara menilai kerjasama militer antara Indonesia dan Korsel dapat merugikan negara itu,.

"Ini pertama kali yang harus kita sampaikan kepada Korea Utara bahwa memang betul ada manfaat daripada Indonesia namun konteksnya untuk ketahanan nasional Indonesia. Kemudian kita juga katakan manfaat ini tidak kami gunakan untuk mempersulit dengan negara manapun. Indonesia tetap mempertahankan prinsip netralitasnya dalam persoalan di semananjung Korea. Klarifikasi semacam ini baru bisa secara pelan-pelan menyampaikan aspirasi Korsel ke Korut melalui Indonesia," kata Teuku Rezasyah.

Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Edi Yusup menyatakan pertemuan antara Presiden Moon dengan Presiden Jokowi juga akan difokuskan pada upaya peningkatkan kerja sama ekonomi, investasi, perdagangan, perlindungan warga negara Indonesia, dan beragam isu regional dan multilateral, seperti Semenanjung Korea.

Menurut Edi, Korea Selatan merupakan salah satu mitra strategis terpenting bagi Indonesia di kawasan, terutama di sektor investasi dan perdagangan. Dalam pertemuan nanti, kedua pemimpin sepakat meningkatkan kemitraan strategis ke tingkat yang lebih tinggi, namanya menjadi kemitraan strategis khusus.

"Artinya kemitraan ini akan ciba dipertajam lagi ke kerja sama konkret, terutama untuk mendukung program akselerasi industri-industri di Indonesia dan perluasan kerja sama dalam kerangka kerja sama bilateral Indonesia-Korea dengan negara-negara lain, termasuk di Pasifik Selatan," jelasnya.

Lebih lanjut Edi mengatakan diharapkan dalam pertemuan kedua presiden akan ada tiga nota kesepahaman akan ditandatangani, yakni kerja sama di bidang industri, kerja sama di bidang perhubungan, dan kerja sama di bidang kesehatan.

Selain mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Jokowi, lanjut Edi, Presiden Moon juga yang akan menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Korea Selatan pada 9 November di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Dia menyebutkan forum bisnis tersebut akan dihadiri masing-masing sekitar 150 pengusaha dari Korea Selatan dan 150 pebisnis asal Indonesia.

Dalam pertemuan bisnis ini, menurut Edi, akan hadir beberapa konglomerasi asal Korea Selatan, termasuk Lotte Group dan Indo Kia Motors. Dalam forum bisnis ini dijadwalkan akan ditandatangani sepuluh nota kesepahaman antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Korea Selatan. [fw/gp]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG