Tautan-tautan Akses

Budaya di AS: Menggabungkan Pendidikan Tinggi dan Olahraga


Travis Trice, kiri, berada di bawah Josh Gasser (21) di paruh kedua pertandingan bola basket kampus NCAA di kejuaraan turnamen Big Ten Conference di Chicago, Minggu, 15 Maret 2015. (Foto: AP / Nam Y. Huh )

Bagi banyak orang yang belum terbiasa dengan kebudayaan Amerika, menggabungkan pendidikan tinggi dengan olahraga adalah konsep yang aneh.

Menurut National Collegiate Athletic Association atau NCAA, di seluruh Amerika ada lebih dari 460 ribu mahasiswa atlet yang tergabung dalam organisasi itu. Namun menurut pakar pendidikan, Christopher Saffici, program olahraga di banyak perguruan tinggi dan universitas tidak konsisten dengan tujuan perguruan tinggi yang sebenarnya.

Istilah 'student-athlete' berarti tugas mereka yang pertama adalah untuk belajar sebagai mahasiswa. Yang kedua barulah sebagai atlet kalau masih ada waktu senggang. Tapi, kata Saffici, kini pengertiannya justru terbalik, yaitu mereka pertama-tama adalah atlet, yang kebetulan menjadi mahasiswa.

Kendati bertentangan dengan peraturan NCAA sendiri, banyak 'student-athlete' itu mendapat perlakuan istimewa dalam bidang akademis dan mendapat berbagai extra benefits atau keuntungan tambahan sebagai atlet.

Banyak mahasiswa yang direkrut dan disponsori menjadi atlit tidak sanggup memenuhi semua tugas dan kewajiban akademis sambil menyelesaikan persyaratan yang ditentukan oleh NCAA.

Persyaratan yang ditentukan oleh NCAA untuk menjadi sponsor bisa membuat mahasiswa yang bersangkutan tidak punya cukup waktu untuk mengejar kegiatan akademis mereka.

Program olahraga di banyak perguruan tinggi dan universitas seringkali tidak konsisten dengan misi akademis lembaga pendidikan itu sendiri. Fokus untuk mempertahankan program olahraga yang kuat dianggap lebih penting dari kualitas pencapaian akademis student-athlete yang mendapat bantuan dan dukungan NCAA.

Duke Zion Williamson duduk di lantai setelah sepatunya terbuka selama paruh pertama pertandingan bola basket perguruan tinggi NCAA melawan North Carolina di Durham, N.C., 20 Februari 2019. (Foto: Reuters)
Duke Zion Williamson duduk di lantai setelah sepatunya terbuka selama paruh pertama pertandingan bola basket perguruan tinggi NCAA melawan North Carolina di Durham, N.C., 20 Februari 2019. (Foto: Reuters)

Bagi banyak mahasiswa seperti itu, ini berarti syarat-syarat akademis yang diperlukan untuk masuk universitas diturunkan. Kebanyakan mahasiswa seperti itu tidak punya waktu untuk belajar, karena harus bekerja keras dalam bidang olahraga. Menurut Christopher Saffici, “kita sudah mencapai titik dimana kita bisa menyebut mereka sebagai 'atlet mahasiswa', dan bukan lagi mahasiswa atlet."

Program olahraga tadinya dimasukkan ke dalam kurikulum perguruan tinggi untuk “membina karakter, untuk hiburan dan sekaligus menciptakan semangat persatuan yang positif antara sekolah dan masyarakat.”

Para administratur perguruan tinggi juga berpendapat diikutkannya atletik dalam kurikulum sekolah bisa menyumbang dana bagi sekolah. Dana tersebut diperoleh dari iklan. Selain itu hal ini juga dapat membuat sekolah tersebut terkenal, yang pada gilirannya akan menambah jumlah siswa yang mendaftar, sekaligus mendapatkan dukungan keuangan dari para alumninya yang sukses.

Sejak dimulainya program olahraga di perguruan tinggi pada akhir tahun 1800-an, para pendidik sudah melihat adanya masalah. Dalam pertandingan sepakbola Amerika yang pertama antara Universitas Rutgers dan Universitas Princeton, ada sejumlah pemain penting yang gagal dalam bidang Matematika.

Masalah itu bertambah buruk sehingga dalam tahun 1980-an, 57 dari 106 perguruan tinggi yang punya tim olahraga terkena peringatan, sanksi ataupun dikenai hukuman percobaan karena melanggar peraturan NCAA. Ini berarti hampir 54 persen.

Dalam tahun 1990-an, angka ini membaik sedikit, turun menjadi 50 persen. Namun banyak perguruan tinggi dan universitas lebih dikenal dari tim olahraga yang dibinanya, seperti American football, baseball ataupun basketball.

Hasil sebuah studi menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan universitas itu telah menjadi pemain penting dalam industri entertainmen komersial.

Coba lihat beberapa nama tim olahraga yang dikaitkan dengan nama perguruan tinggi dan universitas, seperti Alabama-Huntsville Chargers, American University Eagles, Bloomsberg University Huskies dan Brown University Bears.

Di California, ada California State University Hornets, di Sacramento ada Seawolves, dan Universitas A&M di Florida punya tim basketball yang bernama Rattlers.

Masih menurut Christopher Saffici, banyak atlet yang terdaftar di universitas bukan untuk belajar, tapi berharap bisa menggunakan pengalaman olahraga mereka untuk nantinya mendapat posisi dalam tim-tim olahraga profesional.

Salah satu atlet basket terkenal seperti itu adalah Kobe Bryant yang meninggal bulan lalu dalam kecelakaan helikopter. Ia mulai bermain bola basket sejak di sekolah menengah dan direkrut oleh tim NBA sejak berumur 17 tahun.

Ketika ia meninggal, kekayaan yang diperolehnya dari olahraga bolabasket, termasuk iklan barang-barang bermerk, dilaporkan mencapai AS$600 juta. [ii]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG