Tautan-tautan Akses

Keterlibatan Politik Mahasiswa Perguruan Tinggi Meningkat


Mahasiswa tengah berbicara kepada orang banyak selama demonstrasi di University of Missouri. (Foto: AP/Jeff Roberson)

Di seluruh dunia, semakin banyak orang muda terlibat dalam kegiatan politik. Dalam banyak kasus, pendidikan tinggi sering terkait, atau bahkan menjadi pusat, aktivitas mereka.

Gerakan protes di Hong Kong adalah salah satu berita utama tahun 2019. Banyak di antara mereka yang memimpin protes anti-pemerintah adalah kaum muda. Sebagian demonstran mencari perlindungan dari kejaran polisi di gedung-gedung universitas.

Baru-baru ini, demonstrasi mulai menyebar di seluruh India setelah terjadi serangan terhadap pengunjuk rasa di sebuah universitas di New Delhi.

Sebagian aktivis usia kuliah bahkan menentang pendidikan tinggi. Beberapa waktu lalu, mahasiswa di Chili memulai kembali protes mereka terhadap apa yang mereka sebut sistem penerimaan mahasiswa di universitas yang tidak adil. Dan, beberapa tahun yang lalu, protes terhadap mahalnya biaya program studi terjadi hampir di setiap universitas di Afrika Selatan.

Noele Richard mengatakan siswa di banyak tempat menjadi lebih aktif secara politik dalam beberapa tahun terakhir karena mereka merasa lelah menunggu suara mereka didengar.

Richard, Manajer Youth Global Program (Program Global Pemuda) untuk Program Pembangunan PBB, berpendapat secara umum muda-mudi berpendidikan di hampir setiap negara melihat dunia dengan cara yang sama. Mereka sangat mengetahui tentang isu-isu penting internasional, seperti perubahan iklim, dan menginginkan perdamaian -baik di negara asal mereka maupun di seluruh dunia.

Dia mengatakan mereka juga ingin mengubah kondisi yang menyebabkan masalah pada masa lalu.

Tetapi orang-orang muda tidak melihat bahwa mereka yang berkuasa bekerja mengarah ke tujuan-tujuan itu, atau mewakili mereka dengan cara yang mereka inginkan, kata Richard. Jadi mereka memilih untuk mengambil tindakan-tindakan dan menghasilkan perubahan dengan cara yang berbeda.

Para pemrotes anti-pemerintah berkumpul dalam sebuah demonstrasi di dalam sebuah mal di distrik Sha Tin dalam solidaritas dengan para mahasiswa pemrotes yang ditembak oleh polisi dengan amunisi langsung di Hong Kong, Cina, 2 Oktober 2019. (Foto: Reuters/Athit Perawongmetha)
Para pemrotes anti-pemerintah berkumpul dalam sebuah demonstrasi di dalam sebuah mal di distrik Sha Tin dalam solidaritas dengan para mahasiswa pemrotes yang ditembak oleh polisi dengan amunisi langsung di Hong Kong, Cina, 2 Oktober 2019. (Foto: Reuters/Athit Perawongmetha)

Di Yaman, sebuah kelompok nirlaba telah bekerja dengan para pemuda untuk memerangi penyalahgunaan narkoba dan menghindari kelompok-kelompok ekstremis. Di Kosovo, organisasi yang dipimpin oleh kaum muda telah mengembangkan program pelatihan kerja. Dan, di Pakistan, kelompok pengusaha muda bekerja bersama untuk mencegah para ekstremis agama mengambil alih kendali atas usaha mereka.

Di Amerika Serikat, mahasiswa telah menunjukkan minat dalam politik dengan cara yang lebih tradisional: memilih dalam pemilihan.

September lalu, Lembaga untuk Demokrasi dan Pendidikan Tinggi di Universitas Tufts menerbitkan hasil Studi Nasional tentang Pembelajaran, Keikutsertaan, dan Keterlibatan dalam Pemilu. Studi ini meneliti catatan suara dan data untuk sekitar 10 juta mahasiswa Amerika. Dari studi itu ditemukan bahwa jumlah mahasiswa Amerika yang memberikan suara dalam pemilihan antara 2014 dan 2018 lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Adam Gismondi adalah Direktur Dampak di Lembaga itu. Dia mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan politik sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dalam politik Amerika, ada periode keterlibatan mahasiswa yang berat, seperti pada 1960-an, dan keterlibatan rendah, seperti pada akhir 1990-an. Selama pemilihan anggota kongres 2018, persentase keseluruhan suara orang Amerika mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari 100 tahun.

Sebagian pengamat politik mengaitkan hal ini dengan mencuatnya Presiden Donald Trump sebagai tokoh politik, sehingga banyak orang yang ingin memilih atau menentangnya.

Namun Gismondi berpendapat bahwa hal itu belum tentu demikian.

Banyak isu-isu besar yang menjadi perhatian saat ini tadinya merupakan masalah-masalah yang menjadi perhatian orang-orang Amerika yang berpendidikan tinggi, kata Gismondi. Isu-isu itu termasuk kontrol kepemilikan senjata api, reformasi imigrasi dan meningkatnya biaya perawatan kesehatan dan pendidikan tinggi.

Tapi alasan lain meningkatnya aktivisme politik di kalangan kaum muda adalah perguruan tinggi dan universitas Amerika sendiri, kata Clarissa Unger. Dia adalah Direktur Keterlibatan Masyarakat untuk Young Invincibles, sebuah kelompok nirlaba yang mendukung keterlibatan politik kaum muda.

Unger mengatakan bahwa banyak perguruan tinggi dan universitas telah berupaya meningkatkan keterlibatan politik mahasiswa. Mereka mengambil langkah-langkah untuk memastikan mahasiswa tetap mendapat informasi tentang berbagai isu. Sebagian bahkan menyediakan sumber daya yang memberikan informasi kepada mahasiswa tantang bagaimana mendaftarkan diri untuk memilih dan mengupayakan didirikannya TPS-TPS di halaman kampus.

Unger dan Gismondi setuju bahwa, sebagai akibatnya, banyak mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kampanye politik nasional, tetapi mereka juga memilih dan kadang-kadang bahkan bersaing secara lokal sebagai kandidat untuk memperebutkan posisi di pemerintahan.

Dan, para pemimpin yang mengabaikan minat dan kepentingan generasi muda berisiko kehilangan kekuasaan atau kalah dalam pemilihan. [lt/ab]

XS
SM
MD
LG