Tautan-tautan Akses

Bahas Krisis Qatar, Utusan Uni Emirat Arab Temui Menlu Indonesia

  • Fathiyah Wardah

Utusan khusus Uni Emirat Arab (UEA) Abdurrahman bin Muhammad al-Uwais bertemu bertemu Menlu Retno Marsudi di kantornya di Jakarta, Kamis (15/6). (VOA/Fathiyah)

Utusan khusus Uni Emirat Arab (UEA) Abdurrahman bin Muhammad al-Uwais, yang juga menjabat menteri kesehatan, hari Kamis (15/6) bertemu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantornya di Jakarta. Keduanya membahas krisis Qatar.

Uni Emirat Arab bersama Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan Yaman Senin pekan lalu (5/6) memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pasca meruncingnya hubungan negara-negara tersebut karena Qatar dinilai menyokong terorisme. Keempat negara itu juga melakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap Qatar. Qatar membalas dengan penerbangannya ke empat negara Arab itu, sebagai tanggapan terhadap penghentian penerbangan Etihad milik Uni Emirat Arab; Emirates, FlyDubai dan EgyptAir milik Mesir; dan Gulf Air milik Bahrain – ke Qatar.

Tidak ada jumpa pers bersama setelah pertemuan berlangsung hampir sejam itu selesai. Namun seusai pertemuan Menlu Retno menjelaskan pada wartawan bahwa Abdurrahman al-Uwais datang ke Indonesia untuk menyampaikan sejumlah pesan terkait upaya penyelesaian krisis Qatar. Retno menambahkan Indonesia menjadi tujuan utusan UEA itu karena Jakarta dinilai memiliki hubungan baik dengan semua negara.

"Posisinya (Indonesia) dinilai berimbang dan Indonesia di dalam politik luar negerinya dinilai selalu ingin memberikan kontribusi bagi terciptanya perdamaian dunia. Oleh karena itu, beliau diutus untuk datang ke Indonesia menyampaikan beberapa pesan," papar Retno.

Lebih lanjut Retno mengatakan salah satu pesan yang disampaikan Abdurrahman al-Uwais adalah Uni Emirat Arab menyetujui dialog dan penyelesaian secara politik merupakan opsi tunggal paling memungkinkan yang dapat dicapai. Dia menegaskan tindakan militer bukanlah pilihan buat menyelesaikan sengketa diplomatik dengan Qatar. Dalam pertemuan tersebut, Retno juga menjelaskan kepada Abdurrahman al-Uwais mengenai posisi dasar Indonesia dalam krisis Qatar.

"Semua orang sudah tahu bahwa salah satu posisi dasar Indonesia adalah mengedepankan dialog, negosiasi, mencegah adanya peningkatan tensi, dan Indonesia siap untuk membantu," imbuhnya.

Kepada Abdurrahman al-Uwais, Retno mengungkapkan sejak pemutusan hubungan diplomatik terjadi pekan lalu, dirinya sudah melakukan komunikasi dengan sejumlah menteri luar negeri terkait. Dua hari lalu saat transit di Amsterdam, Belanda, Retno mendapat telepon dari Menteri Luar Negeri Kuwait Syekh Sabah al-Khalid as-Sabah. Keduanya membahas perkembangan mengenai krisis Qatar dan upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini berulang di masa depan. Retno semalam juga menerima telepon dari Menteri Luar Jerman Sigmar Gabriel.

Retno mengaku senang karena Abdurrahman al-Uwais menegaskan dialog adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan krisis Qatar. Indonesia – ujar Retno – akan mendukung segala upaya Emir Kuwait Syekh Sabah al-Ahmad al-Jabir as-Sabah sebagai mediator dalam penyelesaikan konflik diplomatik tersebut.

Pengamat Hubungan Internasional dari President University Teuku Rezasyah menilai datanganya utusan khusus Uni Emirat Arab tersebut merupakan bentuk pengakuan bahwa Indonesia punya sebuah kredibilitas yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Menurutnya dalam setiap persengketaan yang terjadi di Timur Tengah sikap Indonesia itu netral dan tidak pernah berpihak kepada siapapun.Selain itu Indonesia merupakan negara yang diterima oleh semua organisasi internasional termasuk organisasi di kawasan.

"Kemudian Indonesia mempunyai kredibilitas, muslim kita besar dan muslim kita tidak terpengaruh dengan sengketa berbasis etnis atau apapun di timur tengah. Kemudian kita cenderung konsisten dari dulu. Kita memiliki hubungan yang baik dengan pihak yang bersengketa maupun pihak yang dituduh. Misalnya Qatar, kita mempunyai hubungan baik dengan Qatar. Qatar dimusuhi oleh Arab Saudi, Mesir, UEA, kita juga dekat dengan mereka semua. Jadi kalau kita berperan sebagai penengah, mediator semua dengar. Kemudian juga pertumbuhan ekonomi kita yang stabil, kemudian krisis dalam negeri yang bisa dikelola dengan baik, ini merupakan modal kita," ulas Reza.

Reza menambahkan dalam menyelesaikan masalah ini, pemerintah bisa melibatkan tokoh-tokoh Indonesia dan juga para mantan duta besar Indonesia di Timur Tengah. Presiden bisa menunjuk mereka sebagai bagian dari utusan khusus Indonesia untuk membantu menyelesaikan krisis ini.

Konflik diplomatik terakhir antara Qatar dengan negara Arab tetangganya terjadi tiga tahun lalu. Ketika itu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain menarik duta besarnya masing-masing dari Doha.

Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain melarang warganya bepergian ke Qatar. Ketiga negara itu juga melarang warga Qatar ke negara mereka. [fw/al]

XS
SM
MD
LG