Tautan-tautan Akses

AS

Trump Bertekad akan Terus 'Bercuit' di Media Sosial


Presiden AS Donald Trump telah menulis hampir seribu pesan Twitter dalam enam bulan pertama kepresidenannya (foto: dok).

Presiden Amerika Donald Trump hari Selasa (1/8) mengisyaratkan ia berencana terus menyampaikan pandangannya dengan postingan berkala pada media sosial.

“Hanya Media Berita Palsu dan lawan-lawan Trump yang ingin agar saya menghentikan penggunaan media sosial, 110 juta orang,” kata Trump pada akun Twitternya. “Ini merupakan satu-satunya cara bagi saya untuk menyampaikan kebenaran”.

Bertentangan dengan pendapat Trump, media-media berita besar Amerika yang kerap dikecamnya sebagai “berita palsu” belum pernah memintanya agar berhenti menggunakan media sosial, justru mereka kerap mengutip komentarnya di Twitter dan menilai ini sebagai kesempatan untuk mengetahui jalan pikirannya setiap saat ia memasang pesan mulai dari dini hari sampai larut malam.

Meski demikian, beberapa pembantu Gedung Putih dan anggota legislatif dari Partai Republik dan Demokrat mengecam penggunaan Twitter oleh Trump yang total hampir seribu pesan dalam enam bulan pertama kepresidenannya.

Pesan Tweet Trump berkisar mulai dari ucapan selamat bagi juara olah raga dan kelompok dimana ia berpidato sebelumnya sampai kepada komentar sengit kepada anggota legislatif yang menolak kebijakan yang ingin diloloskannya dan media berita yang menerbitkan atau menyiarkan laporan yang tidak menggambarkan dirinya secara positif.

Hari Selasa (1/8) ia mengatakan “Pasar saham akan mencapai yang tertinggi lagi, 22 ribu hari ini. Enam bulan lalu hanya 18 ribu, pada hari pemilu. Media besar jarang menyebutnya. Perusahaan besar belum pernah untung seperti sekarang… lapangan kerja mulai merebak, amati terus.”

Kadangkala, Trump bahkan membuat pembantunya sendiri terkejut dengan komentar-komentarnya di Twitter, seperti minggu lalu ketika ia mengatakan akan membalikkan kebijakan yang diberlakukan mantan Presiden Barack Obama dan melarang orang-orang transgender mengabdi dalam militer Amerika.

Ternyata, Departemen Pertahanan dan anggota legislatif senior yang mempertimbangkan masalah-masalah militer tidak mengetahui perubahan kebijakan itu dan rincian pemberlakuannya masih belum jelas.

Trump menunjuk Kepala Staf Gedung Putih yang baru , John Kelly, pensiunan jenderal Marinir yang memulai jabatan barunya Senin, dan menugaskannya untuk menertibkan operasi Gedung Putih yang seringkali kacau.

Tapi pesan Trump di twitter mengenai media sosial tampaknya menunjukkan bahwa perubahan apapun di Gedung Putih tidak berarti membatasinya untuk menyampaikan pesan di Twitter. [my/jm]

XS
SM
MD
LG