Tautan-tautan Akses

Perokok Lebih Berisiko Meninggal akibat COVID-19


Seorang pria Yordania merokok di ibu kota Amman, pada 17 Maret 2021. (Foto: AFP)

Dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, WHO mendesak perokok agar menghentikan kebiasaannya. Organisasi Kesehatan Dunia itu memperingatkan bahwa perokok lebih berisiko meninggal akibat COVID-19 daripada yang bukan perokok.

Kepala WHO untuk Program Pengendalian Tembakau, Vinayak Prasad, mengatakan kepada VOA bahwa banyak hasil penelitian ilmiah dalam setahun ini yang mengukuhkan perokok menghadapi risiko 50 persen lebih tinggi terkena penyakit parah dan kematian akibat COVID-19.

“Ini logis karena merokok mengganggu fungsi paru-paru dan virus corona memang menyerang paru-paru. Jadi, di situlah kami melihat kaitan logis mengapa orang sebaiknya bertindak untuk tidak merokok."

Seorang pria yang memakai masker pelindung wajah merokok di tengah penyebaran COVID-19 di kawasan tua Delhi, India, 20 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Adnan Abidi)
Seorang pria yang memakai masker pelindung wajah merokok di tengah penyebaran COVID-19 di kawasan tua Delhi, India, 20 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Adnan Abidi)

WHO mendesak perokok agar bergabung dalam kampanye berhenti merokok selama setahun. Kampanye itu akan membantu negara-negara meningkatkan layanan pengendalian tembakau, yang mencakup kampanye untuk membangun kesadaran nasional akan masalah rokok, membuka klinik-klinik baru untuk membantu orang berhenti merokok, dan menawarkan terapi pengganti nikotin.

Prasad mengatakan, sangat penting untuk membuat pengguna sadar akan risiko yang mereka lakukan. Sekitar delapan juta orang akan meninggal dalam usia yang relatif muda tahun ini, kata Prasad. Penyebabnya adalah penyakit yang berhubungan dengan tembakau, seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit pernafasan. Sebagian besar kematian ini akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah.

Biasanya perlu waktu puluhan tahun untuk mengembangkan penyakit-penyakit yang mematikan itu. Karenanya, kata Prasad, mencegah kaum muda melakukan kebiasaan ini sangat penting supaya mereka terhindar dari kecanduan seumur hidup.

Ia menuduh industri tembakau menarget anak-anak muda supaya ketagihan pada produk mereka dengan menawarkan berbagai hadiah gratis seperti tiket konser, kantong nikotin, dan rokok elektrik. Upaya itu terbukti berhasil di banyak negara, misalnya Indonesia, kata Prasad. Ia mencatat, 38 persen remaja laki-laki Indonesia merokok.

Seorang PKL memegang rokok saat melayani konsumen di Jakarta, 15 Maret 2017. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
Seorang PKL memegang rokok saat melayani konsumen di Jakarta, 15 Maret 2017. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

“Demikian pula di Eropa. Penggunaan tembakau di kalangan anak perempuan dan perempuan dewasa sangat tinggi sehingga perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak kentara. Industri ini terus menuai semua keuntungan karena mampu menarik lebih banyak perempuan, menarget anak-anak perempuan, para remaja dari kelompok ini, dan kemudian mendorong produk mereka agar laku di negara berkembang.”

Laporan WHO menunjukkan, penerapan cukai yang tinggi pada produk tembakau adalah salah satu cara paling ampuh untuk membuat orang berhenti merokok. Langkah-langkah lain yang berhasil mengurangi rokok mencakup larangan iklan dan promosi rokok, peringatan kesehatan pada produk-produk tembakau dan menetapkan berbagai kawasan sebagai zona bebas asap rokok. [ka/em]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG