Tautan-tautan Akses

Johnson & Johnson Pasok 400 Juta Dosis Vaksin ke Uni Afrika


Para petugas paramedik menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan Johnson & Johnson COVID-19 di RS Chris Hani Baragwanath Academic di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat, 26 Maret 2021.
Para petugas paramedik menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan Johnson & Johnson COVID-19 di RS Chris Hani Baragwanath Academic di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat, 26 Maret 2021.

Perusahaan obat-obatan Johnson & Johnson, Senin (29/3), mengumumkan pihaknya telah mencapai kesepakatan untuk memasok hingga 400 juta dosis vaksin COVID-19 buatannya ke Uni Afrika mulai musim panas ini.

Vaksin dosis tunggal itu masih harus mendapatkan otorisasi dari regulator di negara-negara Afrika. Namun, pihaknya telah mendapat persetujuan untuk penggunaan darurat dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Uni Eropa, and Amerika.

Studi yang dirilis Senin (29/3) oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) menunjukkan vaksin mRNA buatan Pfizer-BioNTech dan Moderna sangat manjur untuk mencegah COVID-19 dalam kondisi-kondisi “sesungguhnya.”

Studi ini dilakukan terhapda hampir 4.000 petugas kesehatan, tim penanggap pertama dan pekerja esensial lain di enam negara bagian, dari 14 Desember 2020 - 13 Maret 2021. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko penularan turun hingga 80 persen setelah satu dosis, dan menjadi 90 persen setelah dua dosis.

Kanada Setop Vaksin AstraZeneca

Di Kanada, para petugas kesehatan pada Senin (29/3) mengatakan akan berhenti menawarkan vaksin AstraZeneca kepada orang yang berusia di bawah 55 tahun karena keprihatinan terjadinya penggumpalan darah. Kondisi itu jarang terjadi, tapi serius, khususnya di kalangan perempuan yang berusia lebih muda.

“Kami menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca bagi orang dewasa berusia di bawah 55 tahun sambil menunggu analisa risiko manfaat vaksin ini lebih jauh,” ujar Wakil Pejabat Urusan Kesehatan Kanada Howard Njoo pada wartawan.

Penangguhan itu dilakukan setelah banyak negara di Eropa menghentikan untuk sementara waktu penggunaan vaksin AstraZeneca sementara dilakukan penyelidikan terhadap laporan penggumpalan darah. Hampir semua negara telah mulai menggunakan kembali vaksin itu setelah Badan Urusan Medis Eropa (European Medicine Agency/EMA) mengatakan vaksin buatan AstraZeneca “aman dan efektif,” dan menambahkan bahwa manfaat vaksin itu lebih besar dibanding risiko efek sampingnya.

Namun EMA mengatakan tidak menepis kemungkinan kaitan antara vaksin AstraZeneca dengan segelintir kasus penggumpalan darah, khususnya di kalangan perempuan yang lebih muda.

Merujuk pada keputusan EMA itu, Perancis mulai kembali menggunakan vaksin AstraZeneca pada orang yang berusia 55 tahun atau lebih tua.

Kajian Asal Virus Corona

Kajian bersama WHO dan China tentang asal muasal virus corona mengatakan virus itu tampaknya ditularkan dari kelelawar kepada manusia lewat hewan lain. Hal itu terungkap dalam salinan dokumen yang diperoleh kantor-kantor berita Amerika.

Rancangan laporan, yang diperkirakan akan disampaikan kepada publik pada Selasa (30/3), mengatakan bahwa “sangat tidak mungkin” kebocoran laboratorium disebut-sebut sebagai penyebab pandemi virus corona.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Senin (29/3) mengakui bahwa pada akhir pekan lalu ia telah menerima laporan itu, tetapi menolak mengonfirmasi rincian salinan dokumen yang telah dilihat oleh kantor-kantor berita, termasuk Associated Press, yang pertama kali melaporkan hal ini. [em/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG