Tautan-tautan Akses

Film LGBT+ Pertama Bollywood Picu Kontroversi


Seorang anggota komunitas transgender dalam aksi unjuk rasa menentang RUU Transgender di New Delhi, India, 28 Desember 2018.

Pengakuan yang dinanti-nanti dalam film LGBT+ pertama Bollywood “Ek Ladki Ko Dekha Toh Aisa Laga..” (“Ketika Aku Melihat Gadis Itu Aku Merasa..”) sudah muncul saat film separuh jalan.

Sweety, tokoh protagonis yang resah, diperankan oleh aktris Sonam Kapoor Ahuja, menjelaskan kepada teman pria yang jatuh cinta kepadanya bahwa ia jatuh cinta dengan perempuan lain.

Penulis film tersebut, Gazal Dhaliwal, sudah menonton film itu empat kali di berbagai bioskop India setelah dirilis pada 1 Februari. Pada setiap pemutaran film, setidaknya 10 pasangan atau keluarga meninggalkan gedung bioskop ketika adegan perjuangan Sweety untuk diterima menjadi perhatian utama dalam film.

“Orang-orang hanya terbiasa menonton konten homoseksual dalam konteks komedi atau dalam adegan yang memperolok-olok karakter homoseksual,” kata Dhaliwal, seorang perempuan trans yang menggambarkan film tersebut sebagai semi-autobiografi.

Seorang penonton bioskop memotret petugas yang memasang poster film Bollywood di luar Teater Maratha Mandir di Mumbai, 12 Desember 2014.
Seorang penonton bioskop memotret petugas yang memasang poster film Bollywood di luar Teater Maratha Mandir di Mumbai, 12 Desember 2014.

“Dalam film ini kami meminta mereka untuk berhenti, berpikir, mengintrospeksi perilaku mereka sendiri. Jelas kami masih harus menempuh jalan panjang dan banyak lagi yang bisa diceritakan sebelum orang menjadi nyaman,” katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Sejak India melegalkan hubungan pasangan sejenis pada September tahun lalu, penggambaran orang-orang LGBT+ dalam berbagai tayangan televisi India membaik. Tayangan-tayangan televisi mulai bergeser dari mengejek stereotip kaum gay, termasuk mengikutsertakan pria gay pada kencan dan membuatnya tampil dalam kompetisi menyanyi sebagai waria.

Pelopor keputusan-keputusan politis dan legal juga mengikis prasangka dan film Dhaliwal telah dipuji oleh komunitas LGBT+ sebagai pengubah praktik dalam industri Bollywood.

Ketakutan

Bollywood memiliki pengikut yang besar di antara kaum LGBT+, tetapi tidak pernah menggambarkan mereka secara akurat di layar kaca, kata Dhaliwal yang tumbuh besar dengan menonton karakter transgender yang selalu digambarkan sebagai laki-laki “yang suka berpakaian seperti perempuan dan tertarik dengan laki-laki serta tidur dengan laki-laki”.

Anggota komunitas transgender berswafoto sebelum mulai unjuk rasa menuntut hak-hak para transgender di Mumbai, India, 13 Januari 2017.
Anggota komunitas transgender berswafoto sebelum mulai unjuk rasa menuntut hak-hak para transgender di Mumbai, India, 13 Januari 2017.

“Itu membuat saya merasa bahwa ini adalah bagaimana cara orang melihat saya ketika saya mengaku kelak. Ini menanamkan rasa takut .. apakah ini yang akan saya rasakan?” kata Dhaliwal, yang seorang transpuan.

Terlahir sebagai laki-laki, Dhaliwal telah berbicara di berbagai kesempatan tentang pengalamannya diejek di sekolah karena sifat femininnya, perjuangannya untuk berperilaku seperti laki-laki, melarikan diri dari rumah, dan kembali pada orang tua yang mendukungnya.

“Komunitas LGBT adalah salah satu komunitas yang paling terpinggirkan dan terdiskriminasi di negara kami dan hanya karena mereka tidak nyaman dengan tubuh mereka atau tertarik pada jenis kelamin yang sama tidak lantas membuat mereka menjadi kurang manusiawi,” kata Dhaliwal.

Dhaliwal, yang seorang insinyur kimia, menjalani operasi penggantian kelamin lebih dari satu dekade yang lalu. Setelah menjalani operasi, orang tua Dhaliwal mengunjungi semua tetangga mereka di bagian utara Kota Patiala dan mengatakan kepada warga tentang perubahan kelamin Dhaliwal dan meminta mereka untuk memperlakukannya sesuai dengan perubahan itu.

“Saya telah menjalani hidup ini. Saya merasa bertanggung jawab untuk menceritakan kisah ini pada titik tertentu,” katanya, seraya menambahkan bahwa film ini dapat memberikan kenyamanan bagi anak-anak yang menjalani kehidupan berkonflik. Harapannya, film itu membuat mereka merasa “mereka tidak sendirian, masih ada harapan”. [er/ft]

XS
SM
MD
LG