Tautan-tautan Akses

Untuk Pertama Kali, Prancis Catat Rekor 100.000 Kasus Harian COVID-19


Pasangan Amelie dan Ludo Khayat saling berpegangan di dalam ruangan perawatan khusus pasien COVID-19 di Rumah Sakit Timone, Marseille, Prancis, pada 23 Desember 2021. Ludo, 41, beranjak pulih setelah mengalami koma selama 24 hari akibat infeksi COVID-19. (Foto: AP/Daniel Cole)
Pasangan Amelie dan Ludo Khayat saling berpegangan di dalam ruangan perawatan khusus pasien COVID-19 di Rumah Sakit Timone, Marseille, Prancis, pada 23 Desember 2021. Ludo, 41, beranjak pulih setelah mengalami koma selama 24 hari akibat infeksi COVID-19. (Foto: AP/Daniel Cole)

Prancis mencatat lebih dari 100.000 kasus COVID-19 baru dalam satu hari, yang merupakan jumlah terbesar sejak pandemi melanda negara tersebut pada Januari 2020. Tingkat rawat inap akibat virus corona juga meningkat dua kali lipat dalam satu bulan terakhir ini.

Lebih dari seribu orang di Prancis meninggal karena COVID-19 dalam seminggu terakhir. Jumlah kematian secara keseluruhan akibat infeksi virus corona di Prancis kini menjadi lebih dari 122.000 orang.

Pemerintah Prancis akan melangsungkan pertemuan darurat pada Senin (27/12) untuk membahas langkah selanjutnya. Beberapa ilmuwan telah mendesak pemerintah Prancis untuk menangguhkan sekolah pasca liburan atau memberlakukan kembali jam malam. Tetapi saat ini pemerintah masih memusatkan perhatian pada upaya vaksinasi.

Sebelumnya, Presiden Emmanuel Macron telah mengingatkan warga untuk waspada saat merayakan Natal dan menikmati libur panjang. “Bahkan jika Anda sudah divaksinasi sekali pun, ada baiknya melakukan tes sebelum bertemu dengan anggota keluarga Anda, terutama jika mereka berusia lebih tua,” ujar Macron.

Belgia Berlakukan Langkah Pengetatan Baru, Ribuan Seniman Protes

Pemerintah Belgia mulai Minggu (26/12) memberlakukan langkah-langkah baru yang memerintahkan tempat-tempat budaya seperti bioskop dan gedung konser untuk tutup. Ribuan seniman dan penyelenggara acara berdemonstrasi di Brussels menentang keputusan itu. Mereka membawa papan dan poster bertuliskan “Show Must Go On” atau "No Culture No Future." Mereka menuduh pemerintah Belgia menetapkan standar ganda karena mengijinkan pasar Natal, restoran dan bar tetap buka; tetapi menutup tempat-tempat budaya.

Orang-orang membawa plakat dalam aksi demo menentang keputusan pembatasan aktivitas terkait dengan upaya melawan COVID-19 yang diberlakukan oleh pemerintah Belgia di Brussels, pada 19 Desember 2021. (Foto: Reuters/Johanna Geron)
Orang-orang membawa plakat dalam aksi demo menentang keputusan pembatasan aktivitas terkait dengan upaya melawan COVID-19 yang diberlakukan oleh pemerintah Belgia di Brussels, pada 19 Desember 2021. (Foto: Reuters/Johanna Geron)

Belanda Tetapkan Kebijakan Lebih Tegas

Sementara di Belanda, pemerintah Belanda telah menetapkan kebijakan lebih dulu dibanding kebanyakan negara Eropa, dengan menutup semua toko, restoran dan bar, memperpanjang libur sekolah dan memberlakukan lockdown terbatas.

Inggris Siap Berlakukan Kebijakan Baru Pasca Natal

Di Inggris, di mana varian omicron mendominasi perebakan virus corona, kebijakan pemerintah bersifat sukarela dan lebih ringan dibanding negara-negara lain di benua itu. Tetapi pemerintah konservatif mengatakan mereka dapat saja memberlakukan pembatasan baru setelah Natal.

Inggris pada Jumat (24/12) lalu mencatat jumlah kasus harian tertinggi yaitu 122.186 kasus, tetapi belum melaporkan kasus baru pada hari Natal 25 Desember kemarin.

Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara juga mulai memberlakukan pembatasan baru pada Minggu (26/12), terutama soal jumlah orang yang dapat melakukan pertemuan. Industri restoran, pub dan klub malam menyebut langkah ini sebagai tindakan yang menghancurkan perekonomian. [em/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG