Tautan-tautan Akses

“Travel Bubble” Bukan Hanya Perhatikan Aspek Ekonomi, Tapi Juga Kesehatan


Sebuah desa dengan rumah-rumah kayu tradisional di Desa Limbungan, Lombok Timur sebagai tujuan wisata. (Foto:Courtesy/Badan Pariwisata Indonesia)
Sebuah desa dengan rumah-rumah kayu tradisional di Desa Limbungan, Lombok Timur sebagai tujuan wisata. (Foto:Courtesy/Badan Pariwisata Indonesia)

Indonesia berencana membuka perbatasan dengan beberapa negara tetapi menutup untuk negara lain –atau kini dikenal sebagai kebijakan “travel buble.” China, Korea Selatan, Jepang dan Australia adalah empat negara yang dipilih Indonesia, dengan memperhatikan nilai ekonomi dan faktor kesehatan.

Pemerintah Indonesia berencana membuka “travel bubble” dengan empat negara yaitu China, Korea Selatan, Jepang dan Australia ketika penyebaran virus corona telah mereda. Langkah ini diharapkan dapat menggairahkan kembali perekonomian lintas negara, termasuk juga mendatangkan wisatawan mancanegara. Namun Indonesia juga masih melakukan pembicaraan dengan beberapa negara ASEAN lain untuk menjalin kerja sama serupa.

"Travel bubble" adalah kebijakan membuka perbatasan negara secara terbatas dengan beberapa negara saja.

Para turis melihat-lihat patung Buddha di Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, 12 Agustus 2019. (Foto: AP/Slamet Riyadi)
Para turis melihat-lihat patung Buddha di Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, 12 Agustus 2019. (Foto: AP/Slamet Riyadi)

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Odo R.M Manuhutu mengatakan ada dua kriteria yang ditetapkan sebelum “travel bubble” dilakukan, yaitu adanya kesepakatan mengenai protokol kesehatan dan keputusan dari Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang terdiri dari para praktisi dan ahli epidemologi.

Jika “travel bubble” dibuka, kata Odo, maka yang akan melakukan kunjungan dalam waktu dekat mungkin bukan turis saja, tetapi para pelaku usaha. Dia menjelaskan alasan membuka “travel bubble” dengan China, Korea Selatan, Jepang dan Australia adalah karena Indonesia memiliki hubungan erat dengan keempat negara tersebut. Pertimbangan lainnya adalah banyaknya investasi dari negara-negara tersebut di Indonesia.

Untuk itu pemerintah, lanjut Odo, akan mendorong penerbangan langsung dengan negara mitra yang sama-sama menerapkan “travel bubble.”

Lebih jauh Odo menggarisbawahi pembukaan “travel bubble” tidak hanya akan memperhatikan aspek ekonomi semata, tetapi juga aspek kesehatan. Jika negara yang dituju masih tinggi tingkat transmisi dan trennya terus menerus maka “travel bubble” tidak bisa dilakukan.

“Kan sekarang Beijing tiba-tiba ada outbreak lagi, Seoul ada outbreak lagi. “Travel bubble” ini untuk menciptakan rasa aman bagi business traveler (maupun) pelancong. (Dengan) “Travel bubble” itu orang merasa yakin ketika melakukan perjalanan tidak akan tertular dengan Covid-19,” paparnya.

Ditambahkannya, jika melihat laporan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, tidak semua daerah di Indonesia terdampak pandemi Covid-19 dan tidak semua daerah di Indonesia masuk dalam zona merah.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. (Foto: Twitter/@Menlu_RI)
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. (Foto: Twitter/@Menlu_RI)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers hari Kamis (18/6) mengatakan beberapa negara telah memulai diskusi tentang pengaturan “travel bubble” ini, antara lain soal ruang lingkup koridor perjalanan, syarat dan ketentuan perjalanan dan protokol kesehatan yang akan diterapkan.

Seorang turis mengenakan masker di terminal kedatangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, 31 Januari 2020. (Foto: Reuters)
Seorang turis mengenakan masker di terminal kedatangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, 31 Januari 2020. (Foto: Reuters)

Kebijakan “Travel Bubble” Hidupkan Kembali Ide Sapta Pesona

Pengamat Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menilai langkah ini merupakan kesempatan Indonesia untuk menghidupkan kembali ide-ide Sapta Pesona yang sudah ada sejak lama tetapi tidak tersosialisasikan dengan baik karena adanya Covid-19 .

Pemerintah, tambahnya, harus benar-benar mempersiapkan kunjungan lewat “travel bubble” ini sehingga wilayah yang akan didatangi bukan hanya menarik untuk wisatawan dan pebisnis, tetapi juga aman.

“Dan mumpung kita unggul di wisata alam hendaknya kita cepat-cepat mengidentifikasi dan juga mempersiapkan kawasan-kawasan wisata tersebut, kawasan wisata yang eksotik, yang banyak diminati oleh wisatawan-wisatawan asing," katanya.

"Dan juga tidak kalah penting kita melakukan dokumentasi karena bagaimanapun juga ini nilai tambah untuk Indonesia jadi dunia bisa melihat Indonesia pada saat menghadapi wabah covid-19, kita bisa mengelola industri pariwisata dengan baik,” tambah Rezasyah.

Ia berharap “”travel bubble ini bukan hanya dilakukan dengan empat negara saja tetapi juga dengan yang lain agar tidak menimbulkan kecemburuan.

Lebih lanjut, Teuku Rezasyah mengatakan sesuai etika dalam hubungan antar bangsa, hendaknya China, Korea Selatan, Jepang dan Australia menyambut baik proposal Indonesia ini. Terlebih lagi tambahnya, hubungan perdagangan dan investasi keempat negara tersebut dengan Indonesia yang saling menguntungkan.

Rezasyah mengatakan walaupun penanggulangan Covid-19 di Indonesia membaik, namun di tingkat dunia sedang ada potensi terjadinya "Covid-19 gelombang dua". Dikuatirkan, hal ini akan juga berimbas ke Indonesia.

Terkait dengan Mutual Trust, Rezasyah, mengakui Indonesia dan empat negara tersebut saling memonitor pencapaian dalam penanggulangan Covid-19 sejak tiga bulan terakhir. Harus diakui, standar kesehatan di empat negara diatas adalah di atas RI. Untuk itu kata Rezasyah Indonesia hendaknya melakukan kampanye secara terukur ke empat negara diatas, disertai jaminan sudah sterilnya daerah tujuan wisata yang ditargetkan sesuai Travel Bubble.

Pemerintah Indonesia harus memberikan penjaminan, disertai bukti kehandalan daerah tujuan wisata sesuai persyaratan yang ditetapkan WHO.

Mengingat sedang menurunnya kredibilitas China di Indonesia akibat masalah tenaga kerja asing (TKA) dan LCS, maka diperkirakan China tidak akan mudah menyambut baik ide Travel Bubble dari Indonesia. Diharapkan Australia, Jepang dan Korea Selatan merespon positif hal ini.

Australia dan Selandia Baru merupakan dua negara yang pertama menggagas konsep “travel bubble,” dengan terlebih dahulu memperhatikan tren penurunan jumlah kasus Covid-19. [fw/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG