Tautan-tautan Akses

Tony Blair Siapkan Cetak Biru Kerja Sama Internasional untuk Pandemi


Mantan PM Inggris Tony Blair di Hallam Conference Centre, London, Inggris, 18 Desember 2019. (Foto: dok)

Mantan perdana menteri Inggris Tony Blair telah mempersiapkan cetak biru untuk digunakan para pemimpin dunia dalam mengatasi pandemi berikutnya.

Institute for Global Change yang dipimpin Tony Blair telah mengeluarkan laporan berjudul "The New Necessary: How We Future-Proof for the Next Pandemic" yang menyerukan kerja sama internasional pada masa depan untuk mengidentifikasi dan mengetes wabah baru. Laporan itu juga meminta negara-negara agar bekerja bersama memproduksi vaksin.

Blair mengatakan kepada harian The Guardian, “Seandainya ada koordinasi global setahun silam, saya pikir kita telah dapat mempersingkat wabah virus ini selama tiga bulan,” mengacu pada perebakan COVID-19 di seluruh dunia.

Blair juga meminta Inggris untuk mengambil peran memimpin dalam mendirikan infrastruktur keamanan kesehatan internasional untuk memastikan kerja sama global bagi pandemi pada masa mendatang.

Presiden AS Joe Biden mengadakan acara di Gedung Putih pada hari Kamis (25/2) sehubungan dengan vaksinasi COVID ke-50 juta yang dilakukan di Amerika.

“Lima puluh juta vaksinasi hanya dalam 37 hari sejak saya menjadi presiden,” kata Biden kepada wartawan dalam acara tersebut. Ia mengatakan, terlepas dari kondisi cuaca ekstrem, AS berada pada jalurnya untuk melampaui janjinya memvaksinasi 100 juta orang dalam 100 hari pertamanya berkuasa.

The New York Times melaporkan bahwa para peneliti di Caltech dan Columbia University telah mengidentifikasi varian virus corona yang perkembangan pesatnya mengkhawatirkan di Kota New York. Para peneliti mendapati, menurut pernyataan surat kabar itu, bahwa mutasi tersebut dapat melemahkan efektivitas vaksin.

Temuan para peneliti itu belum dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Brazil, Kamis (25/2) memperingati satu tahun sejak kasus virus corona terkukuhkan pertama muncul. Pada hari itu juga, Brazil mencatat total seperempat juta kematian akibat penyakit yang disebabkan virus itu.

Brazil memiliki catatan rata-rata 1.000 kematian akibat COVID-19 setiap hari dalam beberapa pekan ini, hampir seperti pada puncak perebakan wabah virus di negara itu pada Juli lalu, sebut data yang dilansir Kementerian Kesehatan Brazil.

Presiden Jair Bolsonaro, yang mengidap COVID-19 tahun lalu, telah berulang kali meremehkan seriusnya virus ini dan secara terbuka telah menyatakan ia tidak akan divaksinasi untuk melawan virus itu. Brazil telah mengukuhkan lebih dari 10 juta kasus COVID-19, sebut Johns Hopkins University Coronavirus Resource Center. Negara ini memiliki catatan kematian terbanyak ke-dua di dunia setelah Amerika Serikat.

Sekitar lima pekan setelah vaksinasi COVID-19 pertama diberikan di Brazil, negara itu telah memvaksinasi sekitar 3,6 persen populasinya, sebut sebuah situs riset "Our World in Data".

Juga Kamis (26/2), Dana Anak-anak PBB (UNICEF) mengumumkan bahwa fasilitas COVAX untuk vaksin virus corona akan segera mendapat akses ke 170 juta dosis vaksin buatan AstraZeneca.

Fasilitas COVAX ingin memastikan sedikitnya 2 miliar dosis vaksin tersedia bagi 85 negara miskin di dunia. UNICEF, Kamis (26/2) menyatakan bahwa pengiriman vaksin itu akan dimulai pada kuartal pertama 2021.

Ada lebih dari 113 juta kasus infeksi virus corona global, dan virus ini telah menewaskan lebih dari 2,5 juta orang. AS terus memimpin di dunia dalam hal jumlah kasus, dengan catatan 28,4 juta, diikuti oleh India dengan 11 juta kasus dan Brazil dengan 10,3 juta. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG