Tautan-tautan Akses

AS

Tekanan Meningkat Bagi Trump untuk Konfrontasi Saudi Terkait Khashoggi


Seorang pengunjuk rasa memegang potret jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, saat melancarkan aksi protes di depan Kedutaan Arab Saudi, Washington, 10 Oktober 2018. (Foto: dok).

Pemerintahan Trump menghadapi tekanan yang semakin kuat untuk memperoleh penjelasan Arab Saudi terkait hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi dari konsulat negara itu di Istanbul dua pekan lalu. Para penyelidik Turki mengatakan, mereka memiliki bukti bahwa jurnalis tersebut dibunuh di konsulat itu. Para pejabat Saudi membantah mengetahui kasus itu namun harus menjelaskan bagaimana Khashoggi dapat menghilang.

Reporter VOA Zlatica Hoke melaporkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada hari Kamis mengatakan bahwa Khashoggi sepertinya sudah pasti tewas, menghadapi kecaman karena dianggap memberi tanggapan lemah terkait insiden itu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama ini ragu untuk mengambil tindakan yang merusak aliansi AS dengan Arab Saudi. Namun, tekanan untuk menempatkan kepentingan HAM di atas kepentingan bisnis semakin meningkat.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo melawat ke Arab Saudi sebelumnya pekan ini di mana, katanya, para pemimpin negara kerajaan itu membantah terlibat dalam kasus itu.

"Mereka juga meyakinkan saya bahwa mereka akan melakukan penyelidikan yang lengkap dan menyeluruh atas semua fakta terkait Khashoggi dan mereka akan melakukan itu dengan segera,” kata Pompeo.

Kelompok-kelompok advokasi HAM mengatakan penyelidikan Saudi tidak kredibel dan menyerukan agar PBB melakukan penyelidikan independen.

Lynn Maalouf, direktur riset Amnesty International cabang Timur Tengah, mengatakan, "Mereka sudah memberikan informasi yang bertentangan. Mereka mengatakan, Khashoggi sudah pergi meninggalkan konsulat itu. Jadi, apapun hasil penyelidikan yang mulai dilakukan hanya sejak dua hari lalu itu tidak akan kredibel.”

Para petinggi kerajaan Saudi terkenal sering memberi perlakuan buruk terhadap para pembangkang di negara yang mereka perintah dengan tangan besi.

Sarah Margon dari organisasi Human Rights Watch mengatakan, "Pihak berwenang melarang protes. Mereka melarang suara-suara independen, serikat-serikat buruh. Mereka selama ini seperti itu.”

Kelompok-kelompok advokasi HAM mengatakan, PBB belum melakukan banyak hal untuk mengubah itu.

Sherina Tadros dari Amnesty International di New York mengungkapkan, "Negara-negara anggota, bahkan mereka yang mengaku pembela HAM, sangat munafik ketika berurusan dengan Arab Saudi, dan mereka melindungi sekutu utama mereka itu.”

Analis Larry Diamond dari Hoover Institution, lembaga risetdan pengembangan kebijakan di Washington DC, mengatakan, Jamal Khashoggi adalah penduduk legal AS dan Washington tidak bisa mengabaikan begitu saja kasus hilangnya Khasoggi.

"Saya kira kasus ini harus diperlakukan sebagai serangan terhadap Amerika Serikat dan demokrasi Amerika,” jelas Larry Diamond.

Para jurnalis termasuk di antara mereka yang paling vokal menuntut keadilan bagi sejawat mereka.

Robert Mahoney dari organisasi Komisi Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengatakan, "Saya ingin melihat Presiden Trump, misalnya, berbicara keras menuntut lebih banyak informasi, berusaha agar Saudi mengungkapkan kepada kita apa yang sesungguhnya terjadi. Saya kira penting untuk mendapat sinyal itu dari pucuk pimpinan pemerintah Amerika Serikat.”

CPJ mengatakan, jurnalisme independen dan kritis sedang menghadapi krisis di dunia. Saat ini, lebih dari 260 jurnalis dipenjarakan di berbagai penjuru dunia, dan 44 lainnya tewas dengan 27 di antara mereka dibunuh. [ab/lt]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG