Tautan-tautan Akses

500 Tahun yang Lalu, Puluhan Juta Orang Meksiko Meninggal karena Wabah Cacar


Antrean panjang penduduk New York untuk mendapatkan vaksinasi cacar di Bronx, New York, 14 April 1947, sebagai ilustrasi. (Foto: AP)

Pandemi sakit cacar air yang menghantam Meksiko 500 tahun yang lalu, tepatnya September 1520, cukup menjadi momok bagi negara tersebut. Virus yang dibawa oleh penjajah Spanyol menciptakan pemandangan yang mengerikan di Meksiko. Kremasi massal jenazah orang yang mengidap cacar, perobohan rumah yang di dalamnya terdapat satu keluarga yang meninggal karena cacar, menjadi salah satu pemandangan yang mengerikan di kota tersebut.

Kantor berita Associated Press melaporkan cacar air dan penyakit baru lainnya terus membunuh puluhan juta orang pribumi di Amerika yang tidak tahan terhadap penyakit yang berasal dari Eropa itu. Virus tersebut kemudian menyebar ke Amerika Selatan, dan menyebabkan kejatuhan dan penggulingan kerajaan seperti Aztec dan Inca.

Hernán Cortés dan kelompoknya yang terdiri dari beberapa ratus orang Spanyol telah diusir dari ibu kota Aztec Tenochtitlan, sekarang Mexico City, pada tanggal 30 Juni 1520. Mereka diusir leh penduduk yang marah setelah penjajah menculik Kaisar Moctezuma dan dia meninggal.

Namun, meski meninggalkan Meksiko, orang Spanyol tersebut tak membawa serta budak-budaknya yang berasal dari orang pribumi dan Afrika yang mereka bawa dari Kuba. Padahal beberapa dari mereka sudah terinfeksi cacar.

Sejarawan Miguel León Portilla dalam bukunya "The Vision of the Conquered" mengutip para penulis sejarah yang menggambarkannya sebagai "wabah yang hebat ... penghancur besar orang." Cuitláhuac, penerus Moctezuma, meninggal karena penyakit itu pada tahun 1520.

Suku Aztec, atau orang Meksiko, mencoba pengobatan tradisional yang telah lama dipercaya untuk memerangi penyakit yang tidak diketahui itu. Namun, ternyata gagal.

Mereka juga mencoba mandi uap obat yang dikenal dengan istilah "temezcales." Namun, karena orang-orang berdesakan begitu rapat ke dalam bilik batu dan lumpur yang tertutup, pemandian tersebut pada akhirnya hanya berfungsi sebagai tempat penyebaran penyakit.

“Itu adalah penularan massal,” kata sejarawan medis Sandra Guevara,

Cortés dan anak buahnya masuk kembali ke Meksiko dan menaklukkan kota yang dilanda penyakit itu setahun kemudian pada bulan Agustus 1521.

Pada saat itu, karena cacar, pertempuran, dan kekurangan makanan yang disebabkan oleh blokade penjajah, ada begitu banyak mayat membusuk di jalan. Akibatnya Cortés memutuskan untuk memindahkan ibu kota baru Spanyol ke kota yang letaknya lebih jauh ke selatan untuk menghindari bau yang menyengat.

Seseorang sedang mendapatkan vaksinasi cacar. (Foto: Reuters)
Seseorang sedang mendapatkan vaksinasi cacar. (Foto: Reuters)

Selama pandemi virus corona, terlihat banyak orang kembali menggunakan cara-cara kuno untuk mencegak perebakan virus, misalnya dengan melakukan karantina wilayah.

Dalam kasus cacar, umat manusia berhasil mengalahkan perang dengannya. Dunia berhasil mendapatkan vaksin pertama cacar pada tahun 1796. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan penyakit tersebut dapat iberantas pada tahun 1980.

Namun, para pakar menilai kemenangan seperti itu menimbulkan kesombongan.

"Dalam 50 tahun terakhir, keangkuhan tertentu muncul dalam komunitas medis, mengira bahwa kami telah mengendalikan semua penyakit menular," kata José Esparza, profesor kedokteran di Institut Virologi Manusia Universitas Maryland.

Umat manusia telah belajar dari penyakit, catat Guevara. Kolera mengajari kita betapa pentingnya air bersih dan sanitasi; AIDS mengubah perilaku seksual.

“Yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya,” kata Guevara. “Kita harus belajar bahwa umat manusia tidak dapat mengendalikan segalanya.” [ah/au]

XS
SM
MD
LG