Tautan-tautan Akses

Stok APD Langka, Pekerja Medis di Sejumlah Daerah Pakai Jas Hujan


Petugas medis yang menggunakan alat pelindung diri berupa jas hujan dan masker bedah di Rumah Sakit Seto Hasbadi di Kota Bekasi. (Foto: Rumah Sakit Seto Hasbadi/dokumentasi)

Sejumlah daerah, seperti Kota Bekasi dan Kabupaten Blitar, mengalami kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk para pekerja medis di tengah wabah virus corona atau Covid-19.

Kepala Tim Covid-19 Rumah Sakit Seto Hasbadi, Agus Arya Wardhana mengatakan stok masker dan jubah medis di rumah sakitnya mulai menipis. RS Seto Hasbadi terletak di Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Ia memperkirakan stok kedua Alat Pelindung Diri (APD) tersebut hanya cukup untuk dua minggu ke depan. Itupun, kata dia, APD yang dipakai sekarang di bawah standar karena menggunakan jas hujan sebagai pengganti juba medis dan masker bedah. Padahal, kata dia, rumah sakitnya kini sedang merawat satu pasien positif Covid-19 dan enam pasien dalam pengawasan (PDP).

Swafoto seorang dokter yang menggunakan jas hujan sebagai ganti alat pelindung diri (APD) di tengah wabah virus corona (COVID-19) di Bandung, Jawa Barat, 23 Maret 2020. (Foto: Nona via Reuters)
Swafoto seorang dokter yang menggunakan jas hujan sebagai ganti alat pelindung diri (APD) di tengah wabah virus corona (COVID-19) di Bandung, Jawa Barat, 23 Maret 2020. (Foto: Nona via Reuters)

"Karena kita sudah merawat PDP tentunya kita ODP (orang dalam pemantauan) tanpa gejala. Cuma yang bergejala 3-5 medis kita yang bergejala, sudah kita isolasi dan sudah sembuh," jelas Agus Arya kepada VOA, Rabu (1/4).

Adapun gejala yang dialami sekitar lima petugas medis tersebut adalah batuk, pilek dan demam. Agus menjelaskan kebutuhan masker dan jubah medis yang dibutuhkan berkisar 100 boks masker dan 200 jubah dalam sebulan. APD tersebut dibutuhkan untuk 100 pekerja medis di rumah sakitnya.

Ia menuturkan sudah meminta bantuan ke pemerintah dan masyarakat luas untuk pemenuhan APD. Dari dinas kesehatan setempat, ia mendapat bantuan 30 set APD yang sekarang digunakan petugas medis yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19. Sedangkan petugas lainnya menggunakan jas hujan dan masker bedah sebagai APD.

"Walaupun kami bukan RS rujukan, tapi kami tidak bisa menolak, kami tetap garda terdepan. Paling tidak seperti orang perang kita harus siap, sedangkan semua modifikasi. Harapannya pemerintah lebih memperhatikan tenaga medis," ujar Agus.

Kelangkaan jubah medis dan masker N-95 juga dialami Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar yang menjadi rumah sakit rujukan di Jawa Timur.

Para penjahit membuat baju pelindung untuk disumbangkan ke rumah sakit di tengah wabah virus corona (COVID-19), di sebuah tukang jahit, di Jakarta, 29 Maret 2020. (Foto: Reuters)
Para penjahit membuat baju pelindung untuk disumbangkan ke rumah sakit di tengah wabah virus corona (COVID-19), di sebuah tukang jahit, di Jakarta, 29 Maret 2020. (Foto: Reuters)

Ketua Komite Medik RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Didik Agus Gunawan mengatakan, pihaknya masih memiliki 150 set APD yang diperkirakan hanya cukup untuk 1 minggu ke depan. Ia menuturkan juga sempat membeli sekitar 300 jas hujan dan sudah habis terpakai pekerja medis di rumah sakit.

"Sudah order ke distributor, tapi tidak tahu. Distributornya kosong. Makanya ada beberapa teman sejawat ada yang membuat baju sendiri. Tapi kan tidak standar. Barangnya itu kosong, makanya saya minta bantuan itu dalam bentuk barang saja. Kalau uang percuma tidak bisa dibelikan," jelas Didik Agus Gunawan kepada VOA, Rabu (1/4).

Agus menambahkan RSUD Ngudi Waluyo juga memiliki hambatan dalam mendeteksi orang yang terinfeksi virus corona. Penyebabnya adalah terbatasnya virus transfer mediaatau tabung yang digunakan untuk wadahspesimen dari orang yang diduga terjangkit corona. Di samping itu, ia hanya mendapat 20 alat rapid test atau alat tes cepat untuk mendeteksi pasien.

"Kalau bisa semua APD segera didistribusikan apalagi menjelang mudik. Kasus di Jakarta bisa meluncur ke daerah semua, pasti itu karena tidak bisa dibendung," ujar Agus

Petugas medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar yang menggunakan masker yang tidak memenuhi standar. (Foto: RSUD Ngudi Waluyo Wlingi/Dokumentasi)
Petugas medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar yang menggunakan masker yang tidak memenuhi standar. (Foto: RSUD Ngudi Waluyo Wlingi/Dokumentasi)

Ratusan Ribu APD

Juru bicara pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan pemerintah telah mendistribusikan sebanyak 349 ribu APD ke beberapa daerah. Selain itu, kata dia, sekitar 5.000 petugas kesehatan telah diterjunkan ke tengah masyarakat untuk memutus mata rantai wabah Covid-19. Para petugas kesehatan itu juga dilengkapi dengan 4.727 alat rapid test untuk pengecekan awal virus Covid-19 dan menemukan kasus positif dalam rangka mencegah penularan.

"Ini jadi komitmen bersama kita. Ini permasalahan serius yang harus ditangani secara terintegrasi dari semua pihak,” tutur Yuriantodi Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Rabu (1/4)

Sebelumnya, Yuri mengatakan, kebutuhan APD untuk penanganan COVID-19 di Indonesia diperkirakan mencapai 3 juta hingga Mei nanti.

Berdasarkan data sementara, terdapat 360 rumah sakit rujukan yang telah disiapkan oleh pemerintah untuk penanganan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pasien positif Covid-19. Rumah sakit tersebut merupakan milik pemerintah dari unsur TNI, Polri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun milik swasta. [sm/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG