Tautan-tautan Akses

Aktivis Lingkungan Ingatkan Pemerintah Soal Limbah Medis Corona


Masker dan APD yang digunakan para medis. (Foto: VOA/ Petrus Riski).

Aktivis lingkungan mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan dan mengawasi pembuangan limbah medis penanganan virus corona, agar tidak menjadi masalah baru di masyarakat.

Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto mengingatkan penanganan sampah atau limbah medis yang berkaitan dengan virus corona dapat dicarikan solusi penanganan dan pengelolaannya. Hal ini berkaitan peralatan medis yang akan menjadi limbah karegori bahan berbahaya dan beracun (B3).

Bagong Suyoto menyebut banyak rumah sakit yang dari awal tidak memiliki tempat pengolahan dan pemusnahan limbah medisnya, serta penanganan limbah medis oleh pihak ketiga yang sering kali bocor di tengan jalan atau dibuang secara ilegal di lahan terbuka.

“Diindikasikan kebanyakan (rumah sakit) tidak punya, terus kemudian dia kerja sama dengan pihak ketiga untuk melakukan, sebetulnya melakukan pemusnahan, tetapi mereka ini biasanya di lapangan mereka pilah-pilah, dipilih yang misalnya masih punya nilai ekonomi,” jelasnya.

Data tahun 2019 menyebutkan jumlah limbah medis di Indonesia mencapai 242 ton per hari, dari sekitar 2.800 rumah sakit di seluruh Indonesia. Ketua Umum Koalisi Kawali Indonesia Lestari Puput TD Putra, menyebut pengelolaan limbah B3 khususnya yang berkaitan dengan virus corona, seharusnya dilakukan dengan standard dan prosedur yang telah diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namunn, pada prakteknya tidak semua prosedur itu dilakukan dengan baik dan benar.

“Pengelolaan limbah B3, dia punya pengelolaan khusus, prosedur khusus, pengangkutan khusus. Berhubung virus ini juga penyakit yang khusus harusnya pengolahan sampahnya, atau bekas medisnya itu harus dikelola dengan pihak yang memang sudah profesional dan memahami prosedur dalam pengelolahan, pemusnahannya. Standard perlengkapannya dia sekarang sudah memenuhi proses sterilisasi dulu, baru masuk ke dalam boks mobilnya, dan terus dimusnahkan dengan pembakaran yang panas suhunya memang mematikan virus,” kata Puput TD Putra.

Selain Rumah Sakit, masyarakat umum juga banyak yang memakai peralatan perlindungan diri (APD) seperti masker, yang pengelolaan limbahnya tidak pernah dipikirkan. Bagong Suyoto menambahkan, pemerintah diminta segera menyikapi persoalan sampah medis dengan benar, termasuk menyiapkan dan melakukan pengangkutan sampah khusus limbah medis. Selama ini, kata Bagong, masyarakat cenderung mencampurnya dengan limbah rumah tangga, sehingga berpotensi menimbulkan masalah baru di lingkungan dan masyarakat.

“Masyarakat mungkin bingungnya kalau dia (sampahnya) sudah terkumpul banyak lalu siapa yang mengambil, ini kan masalahnya itu. Akhirnya dicampur dengan sampah rumah tangga,” jelas Bagong Suyoto.

Puput TD Putra mengatakan, koordinasi dan pengawasan masalah sampah medis penanganan virus corona ini harus segera dilakukan, agar sampah ini tidak malah menjadi media penularan ke para pekerja pengolahan sampah maupun masyarakat yang ada di sekitar tempat pengolahan sampah.

Aktivis Lingkungan Ingatkan Pemerintah Soal Limbah Medis Corona
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:45 0:00

“Ini akan menjadi media penularan yang spesifikasinya ke masyarakat yang dekat dengan pengolahan sampah, atau orang yang bekerja di lingkungan pengolahan sampah. Dan itu akhirnya akan berdampak ke semua lagi, berputar virus ini ke masyarakat yang bertetangga dengan pekerja di sampah ini," kata Puput.

"Jadi, memang harus ada koordinasi kolektif antar rumah sakit sama satu pengelola yang memang profesional. Nah, untuk pengolahan limbah atau sampahnya diangkut menjadi satu manajemen untuk pemusnahannya. Jadi tidak menyebar di mana-mana,” imbuhnya. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG