Tautan-tautan Akses

Menyikapi memanasnya situasi di negara bagian Rakhine, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Minggu sore (3/9) bertolak ke Myanmar.

"Atas perintah presidan dan setelah berkomunikasi dengan pemerintah Myanmar, sore ini saya akan berangkat menuju Myanmar untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Aung San Suu Kyi," demikian pernyataan Retno Marsudi sebelum terbang dari bandara Soekarno-Hatta.

Kementerian Luar Negeri Indonesia lewat pernyataan tertulis yang diterima VOA menyatakan pemerintah telah mengambil berbagai langkah guna mendorong pemerintah Myanmar segera memulihkan keamanan dan stabilitas di Rakhine. Antara lain dengan meminta agar semua pihak menghentikan aksi kekerasan, memberikan perlindungan keamanan inklusif, memulihkan keamanan serta menghormati hak asasi manusia masyarakat di Rakhine, termasuk warga Muslim. Secara aktif Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga sudah menghubungi Penasehat Keamanan Nasional Myanmar U Thaung Tun, Menteri Luar Negeri Bangladesh Mahmood Ali, dan mantan Sekjen PBB Kofi Annan yang kini juga menjadi Ketua Komisi Penasehat Negara Bagian Rakhine.

Seorang anak Muslim Rohingya mencium pipi ibunya saat mereka beristirahat setelah berhasil menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar di perbatasan dekat kawasan Teknaf, Cox's Bazar, 2 September 2017. Puluhan ribu warga Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dalam 24 jam terakhir dengan kapal atau berjalan kaki untuk menghindari kekerasan di Myanmar barat, menurut UNHCR Sabtu (2/9).
Seorang anak Muslim Rohingya mencium pipi ibunya saat mereka beristirahat setelah berhasil menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar di perbatasan dekat kawasan Teknaf, Cox's Bazar, 2 September 2017. Puluhan ribu warga Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dalam 24 jam terakhir dengan kapal atau berjalan kaki untuk menghindari kekerasan di Myanmar barat, menurut UNHCR Sabtu (2/9).

Kemlu RI Luncurkan Program Bantuan Kemanusiaan Untuk Rakhine

Menindaklanjuti komunikasi itu, pada 31 Agustus Retno Marsudi meluncurkan program bantuan kemanusiaan khusus untuk Myanmar, Humanitarian Assistance for Sustainable Community for Myanmar. Program yang merupakan pengejawantahan komitmen 11 LSM itu memberikan bantuan jangka menengah dan panjang bagi rakyat Myanmar, khususnya di negara bagian Rakhine, dalam bentuk bantuan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pembangunan kapasitas. Total bantuan yang merupakan sumbangan masyarakat Indonesia itu mencapai dua juta dolar Amerika.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Jum'at lalu (1/9) juga mengontak Sekjen PBB Antonio Guterres.

Hampir 400 Orang Tewas dalam Aksi Kekerasan di Rakhine

VOA hari Sabtu (2/9) mengutip laman militer di Facebook yang melaporkan bahwa hampir 400 orang tewas dalam aksi kekerasan di negara bagian Rakhine pekan lalu. Para pejabat militer mengatakan 370 korban tewas itu adalah pemberontak, 29 lainnya adalah polisi dan warga sipil. Namun warga minoritas Muslim-Rohingya melaporkan bahwa desa-desa mereka telah diserang. Human Right Watch mengindikasikan kebenaran laporan itu dengan merujuk pada citra satelit yang direkam pada hari Kamis (31/8) di desa berpenduduk Muslim Chein Khar Li, di Rathedaung, yang memperlihatkan hancurnya 700an bangunan. Human Right Watch mengatakan 99 persen desa itu hancur akibat kebakaran. “Ini hanya satu dari tujuh belas tempat yang kami temukan dimana pembakaran berlangsung,” ujar Phil Robertson, Wakil Direktur Human Rights Watch Untuk Asia.

PBB: Sedikitnya 38 Ribu Orang Telah Melarikan Diri ke Bangladesh

PBB menyatakan sedikitnya 38 ribu orang telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, sebagian besar adalah warga Muslim-Rohingya. Para pemuka masyarakat di Bangladesh mengatakan pada VOA, sejumlah warga Hindu yang juga merupakan kelompok minoritas di Myanmar, juga telah ikut menyebrangi perbatasan.

Pengungsi Rohingya melewati jalanan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, 1 September 2017.
Pengungsi Rohingya melewati jalanan berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, 1 September 2017.

Kemlu Bahas Kekerasan di Rakhine dengan Tokoh-Tokoh Islam

Di Jakarta, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Sabtu pagi melangsungkan pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam Indonesia, antara lain dari Majelis Ulama Indonesia MUI, PBNU, Muhammadiyah, dan KAHMI. Para tokoh agama ini menekankan pentingnya menghentikan segala bentuk tindak kekerasan terhada warga dan umat Islam di Rakhine, dan melindungi seluruh penduduk di Myanmar. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya pemberian akses kepada lembaga-lembaga kemanusiaan internasional untuk bisa menjangkau Rakhine.

Kedubes Myanmar di Jakarta Dilempar Bom Molotov

Aksi demonstrasi sejumlah warga Indonesia yang marah melihat apa yang terjadi di Rakhine pun tak terhindari. Seratusan demonstran berunjukrasa di depan Kedutaan Besar Myanmar di Jl. Agus Salim, Menteng, Jakarta, Sabtu siang. Selain menyerukan pemerintah Myanmar untuk menghentikan segala bentuk aksi kekerasan terhadap warga Muslim-Rohingya, demonstran juga mendesak pemerintah Indonesia untuk menerima pengungsi Muslim-Rohingya untuk sementara waktu sambil melakukan langkah diplomatik lebih tegas agar pemerintah Myanmar bersedia menerima kembali para pengungsi dengan jaminan keamanan.

Ironisnya aksi demonstrasi itu diwarnai pelemparan bom molotov. Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Prabowo Argo Yuwono membenarkan laporan pelemparan bom molotov yang sempat menimbulkan kebakaran kecil. Api berhasil dipadamkan oleh polisi yang menjaga lokasi, namun pihak Kedubes Myanmar tetap melaporkan kasus itu ke kepolisian. Tidak ada korban luka-luka dalam insiden ini.

Para demonstran Muslim menggambarkan kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar barat saat demo hari Minggu, 3 September 2017, di Jakarta. (AP Photo/Dita Alangkara)
Para demonstran Muslim menggambarkan kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar barat saat demo hari Minggu, 3 September 2017, di Jakarta. (AP Photo/Dita Alangkara)

Menlu Retno Marsudi Siap Temui Beberapa Pejabat Tinggi Myanmar

Sementara Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang tiba di Naypydaw Minggu malam dijadwalkan akan bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata U Ming Aung Hlaing, Menteri pada Kantor Presiden U Kyaw Tint Swe dan Penasehat Keamanan Nasional U Thaung Tun. “Perjalanan ke Myanmar ini membawa amanah masyarakat Indonesia agar bisa membantu mengatasi krisis kemanusiaan dan juga harapan dunia internasional agar krisis kemanusiaan ini segera diselesaikan,” tegas Retno Marsudi. [em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG