Tautan-tautan Akses

Setelah 3 Serangan Teror Dalam 3 Bulan, Inggris Pikirkan Kembali Masa Depannya

  • Luis Ramirez

Polisi Inggris berjaga di sebuah blok di East Ham, London timur, Inggris, 5 Juni 2017. (REUTERS/Neil Hall)

Semakin banyak seruan agar Inggris merombak sistem hukumnya setelah mengalami tiga serangan teror dalam beberapa bulan ini, yang terakhir Sabtu (3/6) lalu di London Bridge. Serangan itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas besar Muslim London mengenai kemungkinan berkurangnya kebebasan sipil serta intoleransi.

London mulai pulih dari serangan teror dan berupaya melangkah maju, tetapi para pemimpin Inggris menjelaskan bahwa setelah mengalami begitu banyak serangan teroris dalam waktu singkat, banyak hal yang tidak bisa dilanjutkan sebagaimana biasanya.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan, “Sejujurnya, ada terlalu banyak toleransi terhadap ekstremisme di negara kita. Jadi kita perlu jauh semakin kuat dalam mengidentifikasinya dan menumpasnya di seluruh sektor publik dan seluruh kalangan masyarakat. Ini akan memerlukan pembahasan yang agak sulit dan kerap memalukan, tetapi seluruh rakyat negara ini perlu bersatu untuk menghadapi ekstremisme ini. Dan kita perlu menjalani hidup bukan di tengah-tengah masyarakat yang terpisah, terpencil, tetapi sebagai satu Inggris yang utuh."

Tetapi mencapai persatuan semacam itu pada waktu Inggris semakin merasakan ancaman fisik dari dalam negeri sendiri lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ada kekhawatiran mengenai meningkatnya perpecahan antara Muslim dan non-Muslim, dan di kalangan Muslim sendiri.

“Saya warga London. Saya besar di London. Apa yang terjadi kemarin memilukan. Saya terkena imbasnya. Itu bukan hanya serangan terhadap orang-orang tersebut, tetapi juga terhadap saya. Mereka berusaha memecah belah kami,” kata Zishan Ahmad, imam di London.

Yang juga menimbulkan kekhawatiran adalah Inggris sedang mempertimbangkan pengintaian lebih banyak lagi di Internet dan kemungkinan perubahan undang-undang mengenai penahanan, serta memperberat hukuman bagi pelanggaran terkait terorisme. Ada sebagian kalangan yang melihat masalah yang lebih besar lagi.

“Sebagian orang benar-benar takut akan dampaknya dan apa yang mungkin terjadi dan hal-hal semacam itu, tetapi yang saya pahami adalah sama sekali bukan demikian. Ini sebenarnya pertanyaan kepada kita, kemana arah tujuan kita sebagai masyarakat,” kata Aktivis masyarakat Farah Egal.

Di beberapa bagian timur London yang banyak dihuni warga Muslim, tempat tinggal setidaknya beberapa penyerang, terasa ada ketegangan, dan berbagai pernyataan dikemukakan secara berhati-hati.

“Satu orang yang melakukannya dan ini ditimpakan kepada komunitas Muslim secara keseluruhan. Tak ada komunitas yang menghendaki kekejaman seperti ini... Kami mengecamnya dan kita harus mengecamnya bersama-sama,” kata Mahmudur Rahman dari masjid di London Timur.

Warga yang tinggal beberapa meter dari Borough Market dan London Bridge memiliki misi untuk tidak memberikan apa yang diinginkan teroris.

“Kita harus terus maju. Kita adalah rakyat Inggris. Kita telah mengalami hal yang lebih buruk dan kami bertekad akan terus maju dan berpartisipasi sebagai komunitas dan sebagai bangsa,” tegas Dugald Black, salah seorang penduduk di kawasan London Bridge.

Polisi bersenjata semula jarang terlihat di Inggris. Sekarang ini, di Borough Market, polisi bersenjata menjadi pengingat bahwa tiga serangan dalam tiga bulan mungkin akan mengubah negara ini selamanya. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG