Tautan-tautan Akses

Rusia Hukum Aktivis Muda yang Jalankan 'Jaringan Teroris' Bawah Tanah


Polisi Rusia mengamankan gedung pengadilan di Rostov-on-Don saat sidang pengadilan terhadap aktivis 'jaringan teroris' bawah tanah (foto: dok).

Sebuah pengadilan Rusia menjatuhkan hukuman enam hingga 18 tahun penjara terhadap sekelompok aktivis muda yang dituduh menjalankan jaringan "teroris anarkis" bawah tanah. Ini adalah perkembangan terbaru kasus kontroversial yang dinodai oleh tuduhan-tuduhan bahwa bukti dibuat atau diperoleh melalui penyiksaan oleh pejabat keamanan federal negara itu.

Menurut keputusan hari Senin (10/2) di kota Penza, tujuh terdakwa - kebanyakan dari mereka berusia 20 tahunan, merencanakan aksi teror di tengah pemilihan presiden 2018 dan Piala Dunia, sebagai bagian dari kelompok anarkis yang disebut "The Network," atau "Set" dalam bahasa Rusia.

Anggota tim itu juga dihukum atas tuduhan tambahan yaitu, pemilikan senjata dan narkoba.

Tertuduh lain dalam kelompok itu, Igor Shishkin, dijatuhi hukuman tiga setengah tahun bulan Januari 2019, setelah setuju untuk bekerja sama dengan para penyelidik untuk mendapoat keringanan hukuman.

Beberapa lainnya masih menghadapi dakwaan dalam persidangan paralel yang berlangsung di Moskow dan St. Petersburg. Namun, hampir semua pemuda itu mengatakan telah disiksa oleh agen-agen Keamanan Federal (FSB) supaya mengaku.

Namun jaksa menolak untuk menyelidiki tuduhan penyiksaan - dengan alasan penggunaan kejut listrik oleh FSB pada seorang terdakwa bisa dibenarkan.

Dalam kasus lain, pihak berwenang menjelaskan memar-memar di tubuh terdakwa disebabkan gigitan kutu busuk.

Para pengecam juga menyatakan keprihatinan bahwa bukti di dalam perkara itu dibuat-buat atau di luar konteks.

Jaksa penuntut, misalnya, menunjuk pada kecintaan para terdakwa terhadap "Strikeball" - sebuah permainan taktis militer dengan menggunakan senjata pelet dan granat palsu - sebagai bukti dari kelompok yang sedang bersiap melakukan serangan teroris.

Pihak berwenang menempatkan kelompok itu dalam daftar organisasi teroris tahun 2019, meskipun para pengecam kasus itu berpendapat, agen FSB sendiri yang membuat nama Set untuk menimbulkan rasa takut.

Juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov berpendapat, pemerintah tidak punya hak untuk campur tangan dalam tugas-tugas jaksa penuntut.

"Presiden lebih dari satu kali telah menyelidiki situasi ini, dan lebih dari satu kali memerintahkan agar segalanya dilakukan sesuai hukum," kata Peskov, dalam penjelasan hariannya kepada para wartawan. [ps/ii]

Recommended

XS
SM
MD
LG