Tautan-tautan Akses

AS

Presiden Trump: Kehadiran Pasukan AS di Afghanistan Tingkatkan Tekanan terhadap Pakistan

  • Steve Heman

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan Pidato Kepresidenan di Fort Myer, Arlington, Virginia, 21 Agustus 2017, terkait strategi yang diyakininya akan menjadi posisi terbaik AS untuk akhirnya mengumumkan kemenangan di Afghanistan. (AP Photo / Carolyn Kaster)

Setelah pemerintah mempertimbangkannya selama berbulan-bulan, Presiden Donald Trump, Senin malam (22/8) mengungkapkan strateginya bagi Afghanistan. Wartawan VOA di Gedung Putih Steve Herman melaporkan Trump mengungkapkan suatu “pendekatan berbasis kondisi” untuk mengalahkan terorisme di negara itu dan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi menggunakan militernya untuk membangun demokrasi atau membangun kembali negara-negara lain.

Presiden Donald Trump mengunjungi sebuah pangkalan militer di Virginia, tak sampai 6 kilometer dari Gedung Putih, guna mengumumkan komitmennya untuk melanjutkan perang yang pernah ia cemooh sebagai “pemborosan sepenuhnya.” Tujuannya, katanya, adalah untuk menghentikan munculnya kembali tempat-tempat berlindung bagi teroris yang mengancam Amerika dan memastikan mereka tidak memiliki senjata nuklir.

"Kita tidak akan membicarakan tentang jumlah pasukan atau rencana kita untuk kegiatan militer lebih lanjut. Kondisi di lapangan, bukan jadwal arbitrer yang akan memandu strategi kami mulai sekarang. Musuh Amerika tidak boleh mengetahui rencana kita atau percaya bahwa mereka dapat mengusir kita keluar. Saya tidak akan mengatakan kapan kita akan menyerang, tapi kita akan menyerang,” kata Presiden Trump.

Presiden Trump secara terbuka juga memperingatkan Pakistan. “Kami telah membayar miliaran dolar untuk Pakistan pada saat yang sama mereka menampung teroris yang mereka perangi. Tetapi itu harus berubah dan akan segera berubah,” imbuhnya.

Namun demikian ada kekhawatiran bahwa tekanan yang lebih banyak terhadap Pakistan, yang demi kepentingannya sendiri telah lama melindungi kelompok-kelompok teroris yang melakukan serangan melintas perbatasan, bisa menjadi bumerang.

“Menurut pandangan saya, jika kita bersikap keras terhadap Pakistan, ini hanya akan menyebabkan Pakistan bersikap lebih keras dan mempererat hubungannya dengan kelompok-kelompok ini. Ini adalah sebuah teka-teki besar,” kata Michael Kugelman dari lembaga kajian Wilson Center.

Konflik di Afghanistan, yang pemerintah persatuannya terpecah-pecah dan dicemari korupsi yang sistemik, telah berlangsung berlarut-larut hingga 16 tahun sejak serangan al-Qaida terhadap Amerika Serikat.

Mengutarakan perasaan frustrasinya, Trump memberitahu Afghanistan bahwa komitmen Amerika Serikat bukannya tak terbatas dan dukungan Amerika bukan tanpa batas. Rakyat Amerika, katanya mengingatkan, berharap “untuk melihat reformasi yang nyata dan hasil yang nyata.” [uh/ab]

XS
SM
MD
LG