Tautan-tautan Akses

Pimpinan United Rekonsiliasi Komentar Terkait Insiden Penyeretan Penumpang


ARSIP – Presdir United Airlines, Oscar Munoz dalam sebuah foto sebelum sebuah wawancara di New York, 2 Juni 2016 (foto: AP Photo/Richard Drew, Arsip)

Terkait insiden penyeretan penumpangnya, pimpinan United Airlines melakukan rekonsiliasi komentar terakhirnya.

Pimpinan United melakukan rekonsiliasi dalam komentar terakhir mengenai insiden penyeretan penumpang

“Tidak seorangpun seharusnya diperlakukan seperti ini” demikian bunyi pernyataan publik baru yang dikeluarkan hari Selasa oleh pimpinan United Airlines, setelah insiden hari Minggu ketika seorang penumpang berdarah-darah setelah diseret keluar dari pesawat United yang kelebihan booking di bandara O’Hare di Chicago.

Pernyataan Munoz itu juga mengatakan “Saya terus terganggu dengan apa yang terjadi pada penerbangan ini.”

Insiden itu menjadi viral lewat media sosial setelah direkam oleh telepon genggam penumpang lainnya.

Munoz menambahkan bahwa perusahaan akan mengkaji mengenai bagaimana menangani situasi kelebihan booking dan bagaimana berinteraksi dengan pihak berwenang bandara dan penegak hukum. Ia mengatakan perusahaannya akan merilis hasil-hasil kajian itu tanggal 30 April.

Munoz merilis dua pernyataan sebelumnya yang berkeras mendukung para awak dan mengatakan dalam pernyataan Senin malam bahwa awak United “mengikuti prosedur yang ada” ketika penumpang itu terpaksa dikeluarkan.

Juru bicara Gedung Putih Sean Spicer mengatakan Presiden Donald Trump sudah menyaksikan apa yang dikatakan Spicer sebagai rekaman video “yang sangat memprihatinkan” pada penerbangan United Airlines. Selain membuat kehebohan di media sosial, insiden itu juga berdampak ancaman boikot.

Spicer mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih hari Selasa insiden itu “sangat disayangkan” tapi “tidak memerlukan penanganan oleh Pemerintah Federal” dan menambahkan ada “banyak” badan penegak hukum untuk melakukan penyelidikan.

Karena penerbangan dari Chicago ke Louiseville kelebihan booking awak penerbangan itu meminta penumpang secara sukarela mengambil penerbangan lainnya dengan imbalan ganti rugi. Menurut laporan media, perusahaan penerbangan itu perlu menyediakan empat kursi bagi karyawannya.

Tidak satupun yang bersedia secara suka rela, sehingga perusahaan secara acak memilih empat orang, salah seorang diantaranya menolak meninggalkan pesawat itu sehingga dikeluarkan secara paksa oleh tiga laki-laki yang diketahui sebagai petugas keamanan penerbangan di bandara Chicago. [my/al]

XS
SM
MD
LG