Tautan-tautan Akses

AS, Inggris Larang Penumpang Bawa Perangkat Elektronik ke Kabin Pesawat


Banyak penumpang pesawat udara dari Turki dan beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara, kini tidak bisa bepergian dengan membawa perangkat elektronik ke dalam kabin. (Foto: ilustrasi).

Inggris ikut bergabung dengan Amerika Serikat hari Selasa (21/3) dalam melarang penumpang membawa laptop, tablet, kamera dan berbagai perangkat elektronik lainnya ke kabin untuk penerbangan dari Turki dan beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Perangkat elektronik yang lebih besar daripada ponsel kini harus dimasukkan ke dalam bagasi.

Banyak penumpang pesawat udara kini tidak bisa membayangkan bepergian tanpa perangkat elektronik.

“Orang membawa laptop dan iPad karena berbagai jenis alasan yang berhubungan dengan pekerjaan, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dan jika mereka tidak boleh membawanya, maka apa yang akan mereka lakukan?,” kata Amitava Dutt, seorang penumpang dari Abu Dhabi.

Tetapi kelompok-kelompok teror telah menggunakan perangkat elektronik sebagai bom, seperti yang terakhir terjadi dalam sebuah pesawat terbang di Somalia. Pemerintahan Trump, Selasa (21/3) mengumumkan tentang langkah-langkah untuk mencegah serangan teroris semacam itu terhadap warga Amerika.

“Data intelijen yang kita ketahui menunjukkan bahwa kelompok-kelompok teroris terus menarget penerbangan komersial dan agresif dalam mencari metode inovatif untuk melakukan serangan-serangan, termasuk alat peledak dalam berbagai benda bawaan konsumen," kata juru bicara Gedung Putih Sean Spicer, ketika ditanya oleh seorang wartawan dalam konferensi pers hari Selasa.

Pemerintah Inggris mengumumkan larangan serupa hari Selasa. Para penumpang telah menjalani pemeriksaan keamanan yang ketat di bandara dan sebagian mengatakan langkah ekstra itu tidak diperlukan.

“Dengan pemeriksaan yang cukup, hal itu tidak diperlukan.”

“Saya kira ini agak berlebihan.”

“Saya kira ini tidak akan membantu. Teroris bisa melakukan begitu banyak hal.

Tetapi para pakar keamanan mengatakan melarang penumpang membawa perangkat elektronik ke kabin pesawat merupakan langkah yang bijaksana.

“Apa yang pada dasarnya kita lihat adalah bahwa dengan menempatkan perangkat elektronik yang lebih besar ke dalam bagasi pesawat, maka itu berarti kita memisahkan peralatan dari orang yang bisa meledakkannya,” kata Daniel Gerstein, dari Rand Corporation.

Daniel Gerstein, ahli keamanan di Rand Corporation, mengatakan kepada VOA melalui Skype bahwa jika teroris pindah ke maskapai-maskapai penerbangan yang tidak melarang barang-barang elektronik yang lebih besar dibawa ke kabin, maka lebih banyak negara akhirnya akan mengadopsi kebijakan itu.

“Jadi ini bisa menjadi prosedur baru yang akhirnya merupakan hal yang normal, atau bisa jadi kita akan melihatnya berkurang dengan cepat jika kita menemukan prosedur pemeriksaan yang memungkinkan penumpang dan peralatan mereka naik dan turun pesawat terbang dengan aman,” lanjutnya.

Akibatnya, sebagian penerbangan ke Amerika Serikat dan Inggris mungkin akan terasa panjang dan membosankan bagi penumpang yang ingin melewatkan waktu dengan menggunakan laptop dan peralatan elektronik lainnya. [lt/uh]

XS
SM
MD
LG