Tautan-tautan Akses

Peringati Hari Kemerdekaan RI Ke-72 Dengan Festival Kopi Prawirotaman

  • Munarsih Sahana

Pengunjung Festival Kopi Prawirotaman yang diselenggarakan pukul 16 hingga pkl 23 Kamis (16/7/2017) di sepanjang Jalan Gerilya Prawirotaman Yogyakarta tidak hanya mencicipi kopi gratis tetapi juga dialog dengan para brewer tentang penyajian kopi (foto: VO

Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72, komunitas pecinta kopi Nusantara di Yogyakarta untuk pertama kalinya menyelenggarakan Festival Kopi di Kampung Wisata Prawirotaman Rabu (16/8/2017) malam. Bagi komunitas ini, memperkenalkan produk kopi asli Indonesia kepada wisatawan lokal dan mancanegara berarti menunjukkan nasionalisme bangsa Indonesia.

Di Yogyakarta saat ini terdapat sekitar 1.500 kedai kopi. Kedai-kedai itumenyajikan kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Para mahasiswa yang berasal dari banyak wilayah di Indonesia ikut memperkenalkan kopi-kopi dari berbagai daerah,mereka termasuk dari Papua, Bali, Temanggung, dan Manoreh. Wisnu Birowo, salah satu penggagas festival kopi Prawirotaman mengatakan, festival kopi diharapkan mampu meningkatkan apresiasi terhadap kopi-kopi daerah yang sebenarnya berpotensi besar tetapi belum dikenal, bahkan cenderung dibeli dengan harga murah.

“Semangatnya teman-teman pecinta kopi Nusantara kan mengangkat kopi-kopi olahan petani-petani di daerah yang kadang untuk memasarkan itu nggak mudah. Kopinya itu bervariasi dan sebenarnya luar biasa enak. Nah, bagaimana kopi teman-teman ini bisa go interasional dan di lain sisi kita ingin edukasi ke mereka karena dengan acara ini kan mereka bisa sharing produk Indonesia, produk Nusantara. Ketika kita bicara kopi berarti kita pun bicara tentang berkebudayaan, bicara tentang budaya orang Indonesia,” ujar Wisnu Birowo.

Jihan Fajari, coffee brewer sedang menyajikan kopi, coffee brweing dihadapan pengunjung Festivak Kopi Prawirotaman, Kamis malam (16/7/2017) (foto: VOA/Munarsih Sahana).
Jihan Fajari, coffee brewer sedang menyajikan kopi, coffee brweing dihadapan pengunjung Festivak Kopi Prawirotaman, Kamis malam (16/7/2017) (foto: VOA/Munarsih Sahana).

Jihan Fajari, mahasiswa asal Madiun yang sudah 2 tahun belajar penyajian kopi mengatakan, festival kopi juga merupakan sarana mengedukasi masyarakat luas tentang beragam jenis kopi dan cara menyajikannya. Kopi di Indonesia itu sebenarnnya banyak macamnya, bukan hanya kopi hitam, dan yang dikenal masyarakat itu kopi mesti pahit. Padahal kopi itu nggak selalu pahit. Tiap-tiap daerah menghasilkan kopi yang berbeda-beda rasanya. Kalau cara menyeduh sendiri ada dua tipe yaitu saring dan tubruk,” ujar Jihan Fajari.

Panitia menyediakan 25 stand bagi peserta dan memberikan 5000 gelas kopi gratis kepada pengunjung. Sri Dewi Lestari dari Koperasi Kebun Makmur menyajikan kopi lereng Merapi yang memiliki rasa sedang dan kandungan kafein rendah.

“Kopi Merapi itu kan kopi yang terkena abu vulkanik Merapi sehingga ciri khas rasanya itu beda dengan kopi-kopi yang lain. Tahun 2010 itu kan terkena letusan Gunung Merapi, abu vulkanik yang beterbangan itu kan mengenai pohon kopi di lereng Merapi lha itu menghasilkan cirri khas rasa sedang, tidak terlalu pahit,” ujar Sri Dewi Lestari.

Erupsi Merapi tahun 2010 telah menghancurkan sekitar 800 hektar tanaman kopi. Saat ini telah tumbuh kembali perkebunan kopi hingga seluas sekitar 350 hektar.

Andri menyajikan kopi yang diproses dengan air dingin yang dikenal sebagai Cold Brewer.

“Cold brew merupakan salah satu bagian dari gerakan dan perkembangan kopi belakangan ini. Selain era penemuan kopi itu pada Gelombang Pertama, kemudian era industrialisasi kopi yang itu dianggap Gelombang Kedua, di Gelombang Ketiga saat ini lebih pada ekplorasi dan tiap orang bebas melakukan eksperimen. Nah, Cold Brew ditemukan di tahun-tahun setelah 2000-an. Indonesia menjadi salah satu yang mau tdak mau harus mengikuti, karena suka atau tidak dunia harus mengakui Indonesia menjadi sumber kopi tercatat nomor 4 di dunia,” ujar Andri.

Bogi Haryo Nugroho, pengunjung festival kopi dari diaspora Indonesia di Kuwait merasa beruntung berkesempatan hadir pada festival Kopi Prawirotaman.

“Kami dari diaspora Kuwait kebetulan hadir pada festival kopi dan kita menyambut hangat. Dan itu sejalan dengan amanah dari salah satu Barista Indonesia asal Yogya di Kuwait, dia punya gagasan besar mau roasting kopi dari Indonesia untuk memperkenalkan kepada teman-teman barista yang bukan dari Indonesia yang ada di Kuwait,” ujar Bogi Haryo Nugroho.

Festival kopi yang digelar di sepanjang jalan Gerilya Prawirotaman juga menarik perhatian banyak wisatawan mancanegara, termasuk Elles dari Belanda.

Festival Kopi Prawirotaman yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-72 juga menarik banyak wisatawan mancanegara yang menginap di kawasan Prwwirotaman (foto: VOA/Munarsih Sahana)
Festival Kopi Prawirotaman yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-72 juga menarik banyak wisatawan mancanegara yang menginap di kawasan Prwwirotaman (foto: VOA/Munarsih Sahana)

“Menyenangkan, banyak warga lokal berkumpul d isini sehingga kami bisa bertemu mereka dan begitu banyak jenis kopi, kami senang mengenal budaya Anda, kami sudah mencicipi dan menunggu kopi lainnya. Kami tidak kaget anda punya banyak kopi tapi surprised ada festival kopi,” ujar Elles, seorang wisatawan asal Belanda.

Di antara stand-stand yang menerima banyak pengunjung adalah stand kopi luwak yang menjual produk kopi seharga lebih dari Rp 1 juta rupiah per kilogram. [ms/ab]

XS
SM
MD
LG