Tautan-tautan Akses

Pemimpin Turki dan Israel Saling Tuduh Pasca Bentrokan di Gaza 


Seorang warga Palestina melemparkan batu ke arah pasukan Israel saat bentrokan yang dipicu oleh aksi protes, 1 April 2018, di mana warga Palestina menuntut hak untuk kembali ke tanah air mereka, di Jalur Gaza selatan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Benjamin Netanyahu sebagai “teroris” setelah perdana menteri Israel itu menolak kritik Ankara terkait kematian demonstran Palestina di Gaza, Jumat (30/3).

Dalam pidato di Adana, kota di Turki Selatan, Minggu (1/4), Erdogan menyebut pemimpin Israel itu seorang penjajah dan menyatakan rakyat Israel tidak akan tenang dengan apa yang dilakukan Netanyahu. Retorika berapi-api Erdogan itu dilontarkan setelah Netanyahu mengatakan militer Israel tidak akan diceramahi oleh mereka yang telah bertahun-tahun mengebom warga sipil.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto:dok).
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto:dok).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saling melontarkan pernyataan penuh kemarahan setelah tentara Israel menewaskan 15 warga Palestina dan mencederai ratusan lainnya dalam bentrokan-bentrokan yang terjadi dalam suatu demonstrasi besar di Gaza hari Jumat. Militer Israel menyatakan pasukannya hanya menarget orang-orang yang menyerang atau berupaya menerobos pagar pembatas.

Perdana Menteri Israel Netanyahu menolak kritik Erdogan dalam cuitan di Twitter hari Minggu, seraya menyebut aksi-aksi Turki terhadap warga sipil di wilayah-wilayah tetangganya.

Presiden Turki itu menanggapinya dalam sebuah pidato. “Hei, Netanyahu! Anda, seorang penjajah dan sebagai penjajahlah Anda berada di wilayah-wilayah itu. Pada saat bersamaan, Anda juga seorang teroris,” seru Erdogan.

Erdogan mengatakan “penindasan” Israel terhadap warga Palestina akan masuk sejarah dan rakyat Israel tidak akan tenang dengan hal ini. Menteri luar negeri Mesir dan Yordania juga mengecam apa yang mereka sebut “agresi” Israel terhadap rakyat Palestina dalam sebuah konferensi di Kairo.

Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry di Kantor PBB, New York, 11 Mei 2016. (Foto: dok).
Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry di Kantor PBB, New York, 11 Mei 2016. (Foto: dok).

“Masyarakat internasional harus bangkit untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan mengupayakan perdamaian,” kata Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry.

Kedua pejabat itu menyerukan suatu upaya baru yang menuju pada pembentukan suatu negara bagi rakyat Palestina.

“Kekerasan yang tidak bisa dibenarkan, yang digunakan oleh Israel terhadap rakyat Palestina, adalah suatu isyarat berbahaya bahwa kita mendekati masa yang sangat sulit, jika kita semua tidak bersama-sama bekerja mengupayakan suatu cakrawala politik yang akan menempatkan kita pada jalan menuju solusi politik bagi krisis ini,” kata Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi.

Sekelompok pengunjuk rasa Israel dan Arab berdemonstrasi di Tel Aviv hari Minggu untuk mendukung solusi damai bagi konflik tersebut.

Baca juga: Israel dan Turki Tegang pasca Tewasnya 15 Warga Palestina

“Demonstrasi di sini, saya harap, adalah satu dari sekian banyak demonstrasi yang pada akhirnya kita akan meyakinkan baik pemerintah maupun opini publik bahwa pertahanan adalah masalah penting, tetapi upaya-upaya perdamaian jauh lebih signifikan,” kata Avraham Burg, mantan ketua parlemen Israel.

Para pemimpin Gaza telah merencanakan protes selama enam pekan untuk menekankan hak kembalinya pengungsi Palestina dan keturunan mereka ke bekas tanah air mereka di Israel. [uh/lt]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG