Tautan-tautan Akses

PBB dan 3 Negara Anjurkan Masyarakat Integrasikan Bekas Pejuang Boko Haram


Presiden Nigeria Muhammadu Buhari (kedua dari kanan) menerima Amina Ali, salah seorang gadis Chibok yang berhasil dibebaskan dari penculiknya militan Boko Haram, dalam sebuah acara di Abuja, Nigeria (foto: dok).

PBB bersama pemerintah Kamerun, Nigeria dan Chad menganjurkan masyarakat setempat mengintegrasikan bekas pejuang Boko Haram dan orang yang tadinya ditawan oleh kelompok pemberontak itu. Prakarsa ini terus menghadapi perlawanan dari masyarakat.

Dua ratus perempuan dan anak-anak yang dikatakan bekas militan Boko Haram sekarang berada di penampungan darurat di Kolofata, di perbatasan utara Kamerun dengan Nigeria.

Para perempuan itu mengatakan sebagian besar mereka tadinya ditangkap lalu disekap di hutan Sambisa dijadikan sebagai tukang masak dan bulan-bulanan perkosaan dan budak seks. Akhirnya mereka dipaksa menjadi anggota Boko Haram sebagai petempur, mata-mata, dan pengebom bunuh diri. Putra mereka dilatih untuk bertempur dan putrinya dijadikan pengebom bunuh diri.

Di antara bekas militan itu terdapat seorang ibu berputra tiga bernama Mamouni Adji umur 34 tahun. Ia mengatakan mereka diselamatkan dari kamp latihan Boko Haram ketika gabungan pasukan multinasional Kamerun, Chad dan Nigeria menyerang Sambisa tiga minggu berturut-turut bulan Mei tahun ini.

Adji mengatakan, ia pulang kampung dengan harapan menemukan kedamaian, alih-alih disambut dengan kekerasan oleh masyarakat yang menganggap mereka sebagai militan Boko Haram. Ia mengatakan mimpi buruknya belum berakhir.

Adji mengatakan, kalau saja ia tidak sedang pergi membeli makanan dua pekan lalu, ia sudah mati oleh api yang melalap rumahnya. Tidak ada yang tinggal kecuali salinan kartu penduduk membuktikan bahwa ia adalah warga desanya.

Boko Haram merekrut paksa ribuan pemuda di Kamerun, Nigeria, Chad dan Niger dalam upaya menegakkan negara Islam di Afrika Barat.

Muhammad Djamil, ketua Himpunan Pemuda Muslim Nigeria mengatakan masyarakat harus menerima bekas petempur yang kembali dan berhenti melakukan stigmatisasi yang bisa membuat mereka bertambah radikal. Menurutnya, pihak militer harus berhenti mempersekusi mereka seolah-olah mereka masih petempur.

Djamil menambahkan, "Penegak hukum menggunakan kekerasan yang berlebihan terhadap mereka sedemikian rupa sehingga yang tidak bersalah pun turut tewas bersama militan. Ini membuat warga tak bersalah berpendapat pemerintah tidak berada di pihak mereka malah menentang mereka dan sekarang bahkan memberi dukungan lebih besar kepada ekstremis."

Penduduk desa mengatakan, bekas petempur dan tawanan itu mungkin pulang membawa ideologi Boko Haram atau mata-mata. Kamerun dan PBB membagi-bagikan bibit, kambing, domba dan babi kepada mereka yang pulang dan mengimbau masyarakat agar menerima kepulangan mereka. [al]

XS
SM
MD
LG