Tautan-tautan Akses

Pameran Rinci Pembantaian Penduduk Asli di Australia


Orang-orang berkumpul untuk menonton permintaan maaf Perdana Menteri Kevin Rudd kepada penduduk asli Australia Aborigin di luar gedung parlemen di Canberra, 13 Februari 2008.

Untuk pertama kalinya, museum di Australia memaparkan pembantaian oleh kolonialis terhadap penduduk asli dari sudut pandang warga Aborigin. Diperkirakan ribuan penduduk asli dibunuh oleh pemukim kulit putih sampai tahun 1940an, namun sebagian besar sejarah tersebut belum diungkapkan.

Dekat kota Portland terdapat lokasi tertua pembantaian penduduk asli yang diketahui di negara bagian Victoria, Australia. Ada ketegangan pada awal 1830-an antara pemukim Eropa, yang telah mendirikan sebuah pos penangkapan ikan paus, dan seorang penduduk suku Aborigin mengenai bangkai ikan paus. Rincian persis konfrontasi itu sulit ditentukan, namun antara 60 sampai 200 orang aborigin dibunuh dalam apa yang dikenal sebagai pembantaian Convincing Ground.

Pembunuhan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kisah yang dipaparkan pada pameran baru di Museum Melbourne. Disebut "Hari Hitam, Matahari Naik, Darah Mengalir," pertunjukan multimedia itu dipapaparkan di museum Pusat Kebudayaan Aborigin Bunjilaka.

Kisah itu dipaparkan oleh penduduk asli, yang telah difilmkan di beberapa lokasi pembantaian.

Pejabat mengatakan kesaksian tersebut mencoba mengisi kesenjangan dalam dokumentasi pembunuhan yang ada dalam proses pengadilan, laporan surat kabar dan catatan orang Aborigin.

Kurator Genevieve Grieves mengatakan bahwa pameran tersebut mengandung informasi sejarah yang bernilai.

"Kami akan membahas secara mendalam enam kisah yang mencakup pembantaian, perlawanan, polisi setempat yang digunakan untuk melawan orang-orang Aborigin di Victoria dan bagian lain negara ini, dan kami benar-benar melakukannya melalui suara orang pertama. Jadi kami hanya berbicara dengan orang-orang yang terkait dengan ruang-ruang itu dan mendapat catatan sejarah itu yang ada dalam ingatan warga pribumi dan dalam non-pribumi," ujarnya.

Grieves mengatakan ini adalah pertama kalinya sebuah pameran permanen baru di sebuah museum Australia merinci cerita tentang pembantaian dari perspektif pribumi.

Menurut University of Newcastle di New South Wales, sekitar 1.200 warga pribumii di negara bagian Victoria dibunuh dalam 40 pembantaian dari tahun 1830 sampai tahun 1850an. Pihak akademisi mengatakan bahwa pemukim kulit putih bersenjata atau petani akan menyergap kamp Aborigin di malam hari atau dini hari.

Pada bulan Juli, peta online yang menandai pembantaian klan Aborigin di seluruh wilayah penjajahan kolonial Australia diluncurkan. Peta ini merinci lebih dari 150 lokasi serangan kekerasan terhadap kelompok pribumi yang terjadi di Australia timur setelah kedatangan pemukim Eropa pada akhir 1700-an. [my/al]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG