Tautan-tautan Akses

Narapidana di Jakarta Bersemangat Ikut Memilih dalam Pilkada


Penghitungan suara hasil pilkada di Jakarta hari Rabu (15/2).

Mungkin karena demokrasi Indonesia yang masih muda, baru berusia 19 tahun, rakyat Indonesia tampak bersemangat dengan kesempatan untuk memilih.

Indonesia memberikan hak pilih yang luar biasa luas kepada warganya di mana pun mereka berada. Bahkan narapidana di penjara-penjara di seluruh Indonesia ikut memberikan suara dalam pemilihan kepala daerah hari Rabu (15/2), termasuk dalam pemilihan gubernur Jakarta.

Meski militer tidak bisa ikut memberikan suara di Indonesia, narapidana yang menjalani hukuman kurang dari lima tahun boleh memilih. Ribuan narapidana perempuan ikut memberikan suara dengan tertib, bahkan meriah, di TPS-TPS di penjara di seluruh Jakarta, Rabu (15/2).

Suara mereka sebagian besar mencerminkan perpecahan dalam jumlah surat suara pemilihan Jakarta, di mana gubernur petahana Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama memenangkan sekitar 43 persen, Mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan memperoleh sekitar 40 persen, dan Agus Harimurti Yudhoyono, putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menggait 17 persen suara.

Karena tidak ada pemenang dengan jumlah suara minimal 50 persen, Ahok dan Anies Baswedan akan bersaing dalam putaran kedua pada bulan April, sesuai aturan pemilihan di Jakarta.

Seorang pria menunjukkan jarinya usai memberikan suara di salah satu TPS di Jakarta, Rabu (15/2).
Seorang pria menunjukkan jarinya usai memberikan suara di salah satu TPS di Jakarta, Rabu (15/2).

Narapidana di penjara wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur mulai antre sekitar pukul 07:00 pagi untuk menyoblos surat suara mereka. Meskipun ada lebih dari seribu tahanan di fasilitas itu, hanya 157 dari mereka yang berhak memberikan suara.

Mereka dipanggil untuk memilih di bilik yang terbuat dari kardus. Ketika selesai memberikan suara, dan keluar dari bilik, mereka mencelupkan jari ke tinta berwarna biru dalam botol, yang menjadi tanda yang membanggakan bahwa mereka telah memberikan suara.

“Kami sudah mengikuti semua perdebatan di TV dari dalam penjara ini,” kata Latifa, seorang wanita setengah baya yang, seperti kebanyakan narapidana di penjara itu, ditangkap karena pelanggaran narkoba. “Kami sudah bangun sejak pukul 06:00, pagi dan kami benar-benar bersemangat untuk memilih.”

Latifa dan temannya Ella berencana untuk memilih Ahok, gubernur keturunan Tionghoa dan beragama Kristen yang kini duduk sebagai tertuduh dalam kasus penistaan agama Islam karena dia mengutip sebuah ayat al-Quran tentang pemilihan pemimpin Muslim.

“Ini bukan karena saya Kristen juga,” kata Ella. “Dia satu-satunya orang terbaik untuk tugas itu.” Suami Ella mendekam di penjara lain, dan anak-anaknya saat ini tinggal di rumah kakaknya di Jakarta. “Saya ingin anak-anak saya dibesarkan di Jakarta yang dipimpin oleh Ahok,” tambahnya.

Narapidana lainnya, Maya, berdiri dalam antrean sambil menyusui bayinya yang berusia sembilan bulan, yang ikut bersamanya ke penjara ketika ia dihukum sekitar akhir tahun lalu. Secara diam-diam ia menggelengkan kepala dan mengatakan kepada VOA, “Saya tidak pernah bisa memilih Ahok setelah apa yang dikatakannya.”

Ia tidak bersedia mengungkapkan calon mana dari dua calon lain yang hendak dipilihnya, tetapi ia menambahkan, “Saya tidak bersemangat untuk pemilihan ini. Saya hanya merasa ini tugas saya untuk memilih.”

Pada akhir hari pemilihan, Agus Harimurti Yudhoyono dan pasangannya Sylviana Murni yang keluar sebagai pemenang di penjara di Pondok Bambu itu, dengan 55 suara lawan Ahok yang memperoleh 51 suara.

Jumlah pemilih dalam pemilihan di Jakarta dilaporkan melebihi 80 persen dari 7,1 juta pemilih yang memenuhi syarat. Ada 13.000 TPS di seluruh kota Jakarta untuk pilkada ini, yang merupakan hari libur umum di seluruh Indonesia. [pr/lt]

XS
SM
MD
LG