Tautan-tautan Akses

Muslim Sufi Mesir Tetap Rencanakan Peringati Maulid Nabi pasca Serangan


Sandal dan sepatu para korban serangan di masjid Rawdah di Bir al-Abed, Sinai utara, sehari setelah terjadinya serangan maut, Sabtu (25/11).

Muslim Sufi di Mesir mengatakan melanjutkan rencana perayaan hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW, meskipun negara itu masih terguncang akibat pembantaian di masjid Sinai yang menewaskan 305 umat dan mencederai 128 lainnya.

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Jumat (24/11), yang oleh banyak kalangan di Mesir diduga dilakukan karena pihak sufi melakukan shalat di Masjid Al-Rawdah. Alirsan Sufi adalah gerakan mistik dalam Islam yang oleh kelompok militan Islam dianggap sebagai haram.

Penganut Sufi mengatakan mereka akan memperingati Maulid Nabi Muhammad hari Jumat mendatang di seluruh negeri dan di masjid Al-Hussein Kairo, salah satu masjid paling terkenal di Mesir.

Atas perintah Presiden Abdel-Fattah el-Sissi, Mesir berkabung selama tiga hari atas pembantaian yang berlangsung ketika seorang imam hendak menyampaikan khotbah. Dengan meneriakkan Allahu Akbar 25 sampai 30 militan melepaskan tembakan dan melempar granat ke arah sekitar 500 orang yang berada di dalam masjid itu.

Dalam pidato di televisi, pemimpin Mesir itu berjanji akan mengerahkan kekuatan terhadap para penyerang yang melarikan diri dari masjid itu sambil melepaskan tembakan ke arah petugas ambulans yang tiba di tempat kejadian untuk membantu korban serangan itu.

"Pasukan bersenjata dan polisi akan membalas dendam bagi putra-putra kita yang gugur dan memulihkan keamanan dan stabilitas dalam waktu singkat," kata Sissi. Ia memerintahkan pembangunan musoleum untuk mengenang korban serangan itu.

Beberapa jam setelah Sissi berbicara, tentara Mesir mengatakan jet -jet angkatan udara telah menyerang "teroris dan menemukan beberapa kendaraan yang digunakan dalam serangan teroris itu, menewaskan orang-orang di dekat lokasi serangan."

Seorang korban yang selamat dari pembantaian di masjid tersebut, Ebid Salem Mansour, pekerja berusia 38 tahun mengatakan kepada Associated Press, "Semua orang berbaring di lantai dan menundukkan kepalanya. Jika mengangkat kepala akan tertembak."

Ia menambahkan, "Penembakan dilakukan secara acak dan awalnya histeris lalu semakin terarah. Siapa saja yang mereka curigai belum mati atau masih bernapas ditembak mati." [my/jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG