Tautan-tautan Akses

AS

Meriahkan Hari Kemerdekaan, Museum Nasional Sejarah AS Gelar Pameran Khusus


Pameran “The Nation We Built Together” di Museum Nasional Sejarah Amerika, Washington DC. (Foto: VOA/videograb)

Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Amerika, banyak museum yang menyelenggarakan pameran khusus yang didedikasikan bagi peristiwa-peristiwa yang penting dalam sejarah Amerika. Maxim Moskalkov mengunjungi Museum Nasional Sejarah Amerikadi Washington DC.

Pameran berjudul “The Nation We Built Together” atau “Bangsa yang Kita Bangun Bersama” menempati ruangan seluas hampir 2.787 meter persegi. Untuk menampilkan lebih dari seribu artefak itu, pameran itu membutuhkan waktu lebih dari lima tahun dan biaya sekitar 160 juta dolar.

Pameran itu menampilkan pena tinta yang digunakan untuk menandatangani Amendemen ke-15 Konstitusi Amerika mengenai hak memilih bagi laki-laki Amerika keturunan Afrika. Ada pula patung presiden George Washington seberat 12 ton yang berpose sebagai dewa Yunani. Pengunjung museum juga dapat melihat kursi yang diduduki John F. Kennedy dan Richard Nixon saat melakukan debat calon presiden yang ditayangkan televisi pada tahun 1960.

Tim Winkle, kurator Museum Nasional Sejarah Amerika (Foto: VOA/videograb)
Tim Winkle, kurator Museum Nasional Sejarah Amerika (Foto: VOA/videograb)

Tim Winkle, kurator Museum Nasional Sejarah Amerika mengatakan, pameran itu ditujukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana asal mula bangsa Amerika hingga sekarang ini.

“Sebagian dari kita sudah berada di sini, seperti orang Amerika keturunan Indian dan lainnya. Sebagian datang ke Amerika secara sukarela. Dan kebebasan juga dimiliki mereka yang datang ke sini. Sebagian dibawa paksa ke sini, seperti kaum budak. Sebagian sudah berada di sini dan bangsa ini menyebar hingga ke seluruh negeri," kata Tim Winkle, kurator Museum Nasional Sejarah Amerika.

Museum Nasional Sejarah Amerika juga menampilkan keanekaragaman agama termasuk sejarah hubungan di kalangan warga Kristen, Yahudi, Muslim, pengikut kepercayaan suku Indian dan keturunan Afrika.

Peter Manseu, memberi penjelasan tentang buku yang terkenal dengan sebutan “The Jefferson Bible” (Foto: VOA/videograb)
Peter Manseu, memberi penjelasan tentang buku yang terkenal dengan sebutan “The Jefferson Bible” (Foto: VOA/videograb)

Peter Manseu, kurator museum yang menampilkan bagian “Agama di Masa Awal Amerika” memberi penjelasan tentang buku yang terkenal dengan sebutan “The Jefferson Bible”.

“Thomas Jefferson menghabiskan banyak waktunya selama pensiun di Monticello dengan membaca ayat Alkitab dan memikirkan bagaimana ia dapat menyelaraskan warisan Kristen, di mana ia juga menjadi bagian dari itu, dengan ide-ide pencerahan. Ia lalu memutuskan bahwa cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menambahkan ayat-ayatnya sendiri," jelas Peter.

Pameran lain ditujukan untuk menampilkan proses politik Amerika, wacana-wacana hebat serta berbagai kompromi, prinsip-prinsip, gagasan dan keberhasilan penting yang dicapai seperti berakhirnya kerajaan, penghapusan perbudakan, dan sejarah yang kelam seperti penembakan Martin Luther King dan lainnya.

Harry Rubenstein, kurator museum dari bagian “American Democracy: a Great Leap of Faith” mengatakan, “Pameran ini benar-benar memperlihatkan masa ketika generasi pendiri bangsa berupaya menciptakan demokrasi, mereka dihadapkandengan masalah serius yang juga dihadapi generasi lain. Bagaimana Anda dapat membuat cita-cita ini menjadi suatu sistem yang benar-benar efektif?.”

Artefak terbesar di antara dua juta artefak lainnya yang dapat dilihat adalah, sebuah rumah dua lantai yang berusia 200 tahun . Di dalam rumah itu, para pengunjung dapat ikut menghayati kisah lima generasi warga Amerika, mulai dari kaum kolonis pertama, kaum budak yang memperjuangkan kebebasan mereka, hingga pendatang yang berupaya mendapat kesetaraan hak, dan para pahlawan Perang Dunia II. [em-lj/jm-uh]

XS
SM
MD
LG