Tautan-tautan Akses

Menlu Iran: Iran Sudah Berusaha Keras Pertahankan Kesepakatan Nuklir


Indonesia Iran
Indonesia Iran

Dalam jumpa pers di Jakarta Kamis (6/9), Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan dia dan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif membicarakan perkembangan situasi di beberapa kawasan dan dunia.

Sementara itu Menteri Zarif menyatakan Iran sudah berusaha keras untuk mempertahankan kesepakatan nuklir dengan Amerika dan Eropa, dan meneruskan sesuai amanat yang merupakan pencapaian diplomasi.

Selain membahas hubungan bilateral, menurut Menlu Retno Marsudi, dirinya juga membicarakan perkembangan situasi di beberapa kawasan dan dunia. Terkait hubungan Indonesia-Iran, Menteri Retno dan Zarif membahas perkembangan sejumlah kerjasama dan kegiatan yang dilakukan oleh kedua negara, di antaranya penyelenggaraan konsultasi konsuler kelima yang berlangsung di Yogyakarta pada 27 Agustus lalu, dan dialog tentang hak asasi manusia di Surakarta pada bulan ini.

Menteri Retno juga menyambut baik kemajuan kerja sama bilateral di bidang pemberdayaan perempuan dan kesehatan. Kedua negara juga sepakat meningkatkan perdagangan bilateral.

Menteri Retno dan Zarif juga membahas isu Timur Tengah. Dia menegaskan Indonesia ingin melihat Timur Tengah sebagai kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera.

"Indonesia meyakini bahwa tidak akan ada perdamaian dunia jika tidak ada perdamaian di Timur Tengah. Indonesia mengharapkan semua pihak ikut berkontribusi dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah," ujar Retno.

Menteri Retno menjelaskan berbagai perbedaan dan konflik di Timur Tengah penting untuk segera diselesaikan melalui dialog. Prinsip penghormatan terhadap kedaulatan wilayah negara dan non-intervensi urusan dalam negeri negara lain perlu terus dihormati.

Mengenai isu Palestina, Menteri Retno mengatakan masalah ini perlu terus menjadi perhatian dunia. Dia menambahkan Indonesia secara konsisten menekankan bahwa solusi dua negara merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Jakarta, Kamis (6/9), Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengaku telah membahas kesepakatan nuklir Iran yang ditandangani di Ibu Kota Austria, Wina, pada pertengahan 2015.

Amerika Serikat sudah menerapkan kembali sanksi-sanksi ekonomi terhadap negara Mullah tersebut setelah tahun lalu keluar dari kesepakatan nuklir Iran. Sanksi-sanksi itu dikenakan pula pada pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan Javad Zarif sendiri.

Dalam jumpa pers tanpa tanya jawab usai pertemuan dengan Menteri Retno, Zarif membela diri dengan menjelaskan bahwa Iran sudah berusaha keras untuk mempertahankan kesepakatan nuklir dengan Amerika dan Eropa, dan meneruskan sesuai amanat yang merupakan pencapaian diplomasi.

Apa yang dilakukan oleh Iran selama ini, lanjut Zarif, telah dijelaskan di paragraf 36 dari kesepakatan tersebut.

"Sejak Amerika menarik diri dari perjanjian nuklir itu dan menerapkan kembali sanksi ekonomi ilegal terhadap Iran, itu adalah terorisme ekonomi karena sanks-sanksi itu menyasar warga sipil Iran. Presiden Trump menyebut hal itu sebagai perang tapi kami menyebutnya sebagai terorisme karena menarget warga sipil Iran," kata Zarif.

Menurut Zarif, Amerika bukan sekadar tidak ingin menormalisasi hubungan ekonominnya dengan Iran, namun juga memberikan sanksi kepada negara-negara yang menormalisasi hubungan ekonomi dengan Iran. Zarif mengatakan hal ini tidak bisa diterima.

Pada pertemuan dengan Menteri Retno, Zarif juga menyampaikan komitmen dan kesediaan Iran untuk melakukan dialog dengan negara-negara Arab Teluk. Dia menegaskan keamanan dan perdamaian di kawasan Teluk Persia tidak bisa ditentukan oleh pihak luar atau dengan mengorbankan negara yang berada di kawasan tersebut.

Tapi keamanan dan perdamaian di Teluk Persia hanya dapat diciptakan melalui kerja sama dan kebersamaan. Karena itu, Zarif menyerukan kepada negara-negara Arab Teluk untuk duduk bersama di meja perundingan.

Ketegangan meningkat di Teluk Persia setelah enam kapal tanker meledak di sana pada mei dan Juni lalu. Bulan lalu, Garda Revolusi Iran menangkap kapal tanker Inggris, Stena Impero, di dekat Selat Hormuz karena dugaan pelanggaran hukum laut. Perisitiwa ini terjadi dua minggu setelah Inggris menangkap sebuah kapal tanker minyak Iran di dekat Gibraltar, menuduhnya melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.

Pertikaian kapal tanker itu telah menyulut Inggris dalam sengketa diplomatik antara negara-negara besar Uni Eropa - yang ingin mempertahankan kesepakatan nuklir Iran - dan Amerika, yang mendorong kebijakan yang lebih keras terhadap Iran.

Soal hubungan bilateral, Zarif mengatakan Iran dan Indonesia sama-sama memahami perlunya kerjasama di antara negara-negara berkembang untuk mencapai kemajuan melalui saling keterkaitan dan kerjasama bilateral. Menurutnya, Iran dan Indonesia perlu mencitakan sebuah integrasi untuk memimpin negara-negara muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan saling membantu dan bersinergi.

Sebelum melawat ke Indonesia, Zarif sudah mengunjungi beberapa negara di Asia, termasuk China, Jepang, Malaysia, dan Bangladesh. [fw/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG