Tautan-tautan Akses

Menerka Arah Pariwisata Bali Pasca Pandemi


Warga menuju sebuah pura di Bali. (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)
Warga menuju sebuah pura di Bali. (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)

Sebagai daerah yang menjadikan pariwisata sebagai sumber utara ekonomi, Bali mengalami pukulan sangat berat dari pandemi virus corona. Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, Bali, I Gde Pitana mencatat, setiap kali sektor wisata kolaps, ekonomi provinsi itu secara otomatis terpuruk. Peristiwa Bom Bali dan serangan Sebelas September di New York masuk dalam catatan Gde Pitana itu.

Kali ini, virus corona memberi dampak jauh lebih signifikan dibanding peristiwa buruk yang sudah terjadi sebelum ini.

Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, Bali, I Gde Pitana. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, Bali, I Gde Pitana. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

“Datanya dari BI Cabang Bali, akhir Juli pertumbuhan ekonomi Bali itu negatif 10,98 persen, year on year. Ini adalah pertumbuhan ekonomi negatif paling dalam dari 34 provinsi di Indonesia. Itu artinya pariwisata yang menjadi penyebab jatuhnya ekonomi ini, dan juga sekaligus pariwisata akan mengangkat ekonomi Bali,” kata Gde Pitana.

Paparan itu dia sampaikan dalam seminar daring Format Kepariwisataan Bali Era Baru, pada Senin (31/8). Seminar diselenggarakan oleh Pusat Unggulan Pariwisata, Universitas Udayana, Bali.

Pitana menambahkan, meski menjadi penyumbang kejatuhan, pariwisata tetap akan menjadi sekoci penyelamat bagi ekonomi Bali. Hanya saja, lanjutnya, sektor ini tidak boleh dibiarkan terlalu dominan. Bali harus kembali pada strategi lama sekaligus melestarikan warisan leluhur, dengan memberi perhatian lebih kepada dua sektor lain, yaitu pertanian dan industri kerajinan.

Taman Mumbul, Sangeh, Bali (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)
Taman Mumbul, Sangeh, Bali (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)

Data tahun 2019 menunjukkan, sektor pariwisata berkontribusi 78 persen terhadap perekonomian Bali. Sangat jauh dari sektor pertanian yang hanya menyumbang 14,5 persen. Ketimpangan ini menyebabkan ketergantungan yang terlalu besar pada sektor pariwisata.

Padahal, kata Pitana, akibat pandemi ini setidaknya ada lima faktor yang membuat pariwisata butuh waktu untuk bangkit. Faktor pertama adalah aturan perjalanan yang kini lebih rumit, misalnya pelaku harus melakukan tes sebelum bepergian. Setelah itu, keputusan berwisata juga dipengaruhi kepercayaan wisatawan terhadap keamanan daerah tujuan wisata terkait virus corona. Faktor ketiga adalah kondisi ekonomi yang melemah, sedangkan di sisi lain ada unsur keempat, yaitu biaya wisata menjadi lebih mahal.

Faktor kelima yang sangat menentukan adalah kebijakan masing-masing negara.

Menerka Arah Pariwisata Bali Pasca Pandemi
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:29 0:00

“Ada kebijakan pemerintah di negara pasar, yang melarang warganya untuk melakukan perjalanan wisata ke luar negeri, termasuk ke Bali. Kita lihat tetangga kita, misalnya Australia,” kata Pitana.

Jalan keluar sementara ini, lanjutnya, adalah wisatawan nusantara. Namun, pasar inipun terkendala banyak faktor, seperti syarat bepergian dan faktor harga. Mau tidak mau, kata Pitana, yang menjadi harapan besar kini adalah wisatawan lokal. Orang Bali, harus mau berwisata di daerahnya sendiri, paling tidak untuk menggerakkan ekonomi dalam skala terbatas.

Waktu Melakukan Evaluasi

Semua peristiwa memiliki sisi positif yang membawa manfaat. Begitu pula pandemi ini yang disadari atau tidak memberi waktu bagi sektor pariwisata untuk melakukan refleksi. Pendapat itu disampaikan pejabat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Frans Agung, yang juga menjadi pembicara dalam seminar.

Frans melihat, sektor pariwisata selama ini lebih banyak didekati dari dimensi ekonomi saja, padahal dalam banyak referensi pariwisata itu multi disiplin dan munti dimensi. Bali, kata Frans, sebenarnya sudah memiliki ruang dan panduan untuk melakukan itu. Ruang yang seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan pariwisata secara holistik.

Staf Ahli Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf, Frans Teguh. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Staf Ahli Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf, Frans Teguh. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

“Hari ini kita mengalami pandemi, global krisis, ini adalah momentum untuk koreksi, untuk melakukan evaluasi berbagai pendekatan-pendekatan pembangunan, untuk terus mempunyai platform keseimbangan antara aspek kesehatan, lingkungan, ekonomi, sosial, budaya. Ini sudah harus menjadi sebuah keniscayaan,” kata Frans.

Obyek Pariwisata dan Hotel di Candi Dasa, Karangasem, Bali (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)
Obyek Pariwisata dan Hotel di Candi Dasa, Karangasem, Bali (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)

Ajakan serupa juga datang dari Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. Pria yang akrab dipanggil Cok Ace ini mengajak semua pihak memanfaatkan pandemi Covid-19 sebagai refleksi kembali ke budaya Bali. Cok Ace mengingatkan, manusia, alam dan budaya harus menyatu dan menjadi bagian dari komitmen Bali ke depan.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

“Format pariwisata Bali ke depan harus mampu mengkolaborasi social capital dengan economic capital, sebab tidak mungkin kita terus-menerus mengekstraksi keuntungan ekonomi dari pariwisata tanpa menjaga aset dasarnya, yaitu budaya Bali yang terlahir dari masyarakat, dan alam lingkungan Bali,” kata Cok Ace.

Bali Tunda Terima Wisman

Pemerintah Bali awalnya menetapkan 11 September 2020 sebagai awal pembukaan kembali pintu bagi wisatawan asing. Namun, dengan sejumlah pertimbangan, pembukaan itu ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Gubernur Bali, Wayan Koster mengumumkan penundaan itu pada 26 Agustus.

Dihubungi terpisah, Ida Ayu Indah dari Dinas Pariwisata Provinsi Bali kepada VOA menjelaskan, penundaan itu disesuaikan dengan keputusan pemerintah pusat. Pembukaan perbatasan adalah kewenangan pusat, sehingga jika Indonesia belum menerima kunjungan warga asing, Bali harus mematuhinya.

Selain itu, tambah Ida Ayu, banyak negara masih melarang warganya bepergian keluar negeri, sehingga meski Bali dibuka, larangan itu akan mencegah wisatawan asing keluar dari negaranya.

“Kalau seandainya sekarang Bali sudah dibuka, belum tentu negara asing misalnya seperti Australia atau New Zealand atau negara-negara Eropa belum membolehkan masyarakatnya untuk travelling keluar, karena mereka sendiri juga masih ketat menangani pandemi,” kata Ida Ayu.

Industri pariwisata Bali telah terdampak selama enam bulan terakhir. Selama beberapa waktu, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyesuaikan layanan wisata dengan standar kesehatan baru. Ida Ayu memastikan, saat inipun pelaku pariwisata Bali telah siap menerima kunjungan.

Seorang perempuan menunggu para wisatawan di Pura Puseh, Desa Batuan, Gianyar, Bali, 5 Februari 2020. (Foto: Reuters)
Seorang perempuan menunggu para wisatawan di Pura Puseh, Desa Batuan, Gianyar, Bali, 5 Februari 2020. (Foto: Reuters)

Yang terus dilakukan adalah berbagai program promosi agar Bali tetap ada di benak para wisatawan. Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sejumlah program branding tetap berjalan. Bali ke depan tidak hanya dicitrakan sebagai tujuan wisata yang indah dengan budaya masyarakatnya, tetapi juga aman dan sehat untuk dikunjungi.

“Gabungan Industri Pariwisata Indonesia dengan bantuan anggaran dari Kementerian Parekraf sudah membuat video penerapan protokol kesehatan. Wisatawan datang di bandara Bali, bagaimana dia diperlakukan. Kemudian transportasi sampai diantar ke hotel. Bagaimana standar hotel Bali sekarang ini di masa pandemi, sekarang beda,” lanjut Ida Ayu. [ns/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG