Tautan-tautan Akses

Korban Semeru Munculkan Pertanyaan Terkait Mitigasi Bencana 


Warga berkumpul di posko pengungsian di Desa Sumber Wuluh di Lumajang pada 5 Desember 2021, pasca erupsi Gunung Semeru yang menewaskan sedikitnya 14 orang. Foto: AFP/Juni Kriswanto)

Erupsi Semeru bukan peristiwa yang tiba-tiba karena aktivitas gunung tersebut meningkat pada periode yang panjang. Ada dugaan mitigasi bencana yang tidak berjalan dengan baik menyebabkan tragedi ini menimbulkan banyak korban.

Hingga Senin (6/12) pukul 11.00, BNPB mencatat korban erupsi Semeru Sabtu (4/12) berjumlah 15 orang meninggal, 27 hilang dan lebih dari 5 ribu warga terdampak.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Andiani menyebut, jatuhnya korban ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.

“Kenapa ada korban? Ini juga menjadi PR dari teman-teman Pemda, karena sudah ada WA grup antara pengamat kami dengan teman-teman di daerah, terkait aktivitas Semeru ini,” kata Andiani dalam pernyataan hari Senin siang.

Kepala PVMBG, Andiani memberikan update terkait erupsi Semeru di Pos Pengamatan Gunung Semeru, Lumajang, Senin (6/12). (foto:VOA)
Kepala PVMBG, Andiani memberikan update terkait erupsi Semeru di Pos Pengamatan Gunung Semeru, Lumajang, Senin (6/12). (foto:VOA)

PVMBG sendiri sudah menetapkan status Semeru dalam kategori Waspada, sejak 12 Mei 2012. Indonesia menerapkan empat status gunung berapi sesuai aktivitasnya, yaitu Normal, Waspada, Siaga dan Awas. Dalam status Waspada, gunung berapi dinilai telah mengalami kenaikan aktivitas. Penilaian tingkat bahaya digiatkan dan lembaga-lembaga terkait, harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Status ini belum kami rasa perlu untuk ditingkatan, namun kami rasa juga belum waktunya diturunkan. Karena sebetulnya, kejadian awan panas guguran ini, sebelumnya sudah terjadi,” tambah Andiani.

Semeru memang mengalami peningkatan aktivitas beberapa pekan terakhir, dengan jarak luncur awan panas guguran sekitar empat kilometer. Meski pada Minggu (5/12) PVMBG menyebut jarak luncur awan panas hanya empat kilometer, setelah pengecekan pada Senin, kata Andiani, jarak luncur awan panas guguran pada Sabtu dinyatakan sejauh 11 kilometer.

Gunung Semeru mengeluarkan abu vulkanik saat erupsi, terlihat dari Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Senin, 6 Desember 2021.
Gunung Semeru mengeluarkan abu vulkanik saat erupsi, terlihat dari Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Senin, 6 Desember 2021.

Jarak luncur sebelas kilometer itu jauh lebih panjang dari jarak aman yang direkomendasikan PVMBG sendiri, yaitu lima kilometer. Namun Andiani berkilah, yang mereka rekomendasikan lima kilometer itu termasuk jarak dari aliran sungai, dalam hal ini Sungai Kobokan.

“Besuk Kobokan adalah aliran di mana awan panas itu terjadi. Awan panas guguran pada aliran Besuk Kobokan itu sebelas kilo. Di aliran Besuk Kobokan ini, yang kami mintakan daerah itu dihindari,” tandasnya.

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang dikeluarkan PVMBG, lanjut Andiani, sebenarnya adalah bentuk peringatan dini yang mereka lakukan.

Terkait jarak luncur yang begitu jauh dan berlipat dari jarak aman yang direkomendasikan, menurut Andiani dipengaruhi sejumlah faktor. “Awan panas guguran terbentuk dari kubah lava yang gugur karena ketidakstabilan. Juga karena grativitasi. Jarak luncuran itu dekat atau tidak, tergantung dari kemiringan kemudian materialnya,” papar Andiani.

Penanda 90 Hari Terakhir

Pakar Geofisika Universitas Gadjah Mada, Dr Wahyudi, mengatakan aktivitas Semeru sebenarnya dapat diketahui berdasar pengamatan data. Pada September 2020 misalnya, mulai bisa diamati munculnya aktivitas berupa kepulan asap putih dan abu-abu setinggi 200-700 m di puncak. Aktivitas ini berlanjut hingga Oktober 2020, bahan pada 1 Desember 2020 terjadi awan panas. Jarak luncurnya bervariasi ketika itu, mulai 2 -11 kilometer, ke arah Sungai Kobokan di sisi tenggara.

Wahyudi juga mengatakan, pada 90 hari terakhir peningkatan aktivitas kegempaan, terutama gempa erupsi terus terjadi di Semeru. “Kurang lebih, rata-rata di atas 50 kali perhari, dalam 90 hari terakhir. Bahkan ada yang mencapai lebih seratus kali perhari. Ini sebenarnya tanda-tanda bisa dijadikan prekursor terjadinya erupsi yang lebih besar,” kata Wahyudi.

Wahyudi juga mengatakan, tidak seperti gempa bumi yang prekursornya tidak bisa diketahui, di gunung berapi tanda-tanda ini bahkan cukup lama. “Paling tidak dalam periode beberapa pekan,” ujarnya.

Warga duduk di atas mobil pick-up saat evakuasi pasca erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, 5 Desember 2021. (Foto: Antara/Umarul Faruq via REUTERS)
Warga duduk di atas mobil pick-up saat evakuasi pasca erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, 5 Desember 2021. (Foto: Antara/Umarul Faruq via REUTERS)

Analisa sementara menunjukkan tingginya curah hujan juga turut menyebabkan terjadinya luncuran awan panas dengan jarak luncurannya mencapai 11 kilometer. Secara ilmiah, ujarnya, curah hujan tinggi memang bisa menyebabkan ketidakstabilan pada endapan lava.

“Dalam beberapa kasus, faktor eksternal seperti curah hujan tinggi bisa menyebabkan thermal stress dan memicu ketidakstabilan dalam tubuh kubah lava. Kubah lava sudah tidak stabil, dipicu hadirnya curah hujan tinggi menyebabkan longsor,” paparnya.

Namun, untuk mengetahui faktor dominan penyebab erupsi pada 4 Desember lalu, menurut Wahyudi perlu ada kajian lebih dalam. Analisa data terintegrasi yang dibutuhkan mencakup data gempa vulkanik, deformasi, gas, dan data curah hujan secara temporal dalam beberapa bulan terakhir. Data-data itu kemudian dikaitkan dengan kejadian guguran bermagnitude kecil maupun besar.

Mitigasi dan Adaptasi

Pakar mitigasi gunung berapi UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko menilai, penelitian terhadap Semeru selama ini masih kurang. Banyak ahli cenderung melakukan penelitian di Gunung Merapi, karena memang memiliki daya tarik tersendiri, bahkan di tingkat dunia. Karena itulah, muncul wacana agar setelah kejadian kali ini, sumber daya penelitian di lingkungan perguruan tinggi di bidang kegunungapian, mulai diarahkan juga ke gunung api lain, khususnya Semeru.

“Letusan gunung api itu tidak bisa dicegah, tidak seperti longsor, banjir. Karena itu manusianya harus beradaptasi. Ada dua langkah, yaitu mitigasi dan adaptasi,” kata Danang di Yogyakarta, Senin.

Korban letusan Gunung Semeru terlihat di rumah sakit setempat di Lumajang, Jawa Timur, 5 Desember 2021. (Foto: Antara/Seno via REUTERS)
Korban letusan Gunung Semeru terlihat di rumah sakit setempat di Lumajang, Jawa Timur, 5 Desember 2021. (Foto: Antara/Seno via REUTERS)

Mitigasi, dipaparkan Danang, adalah upaya mengantisipasi agar endapan lahar di sungai-sungai yang berhulu di Semeru, ketika terjadi banjir lahar tidak masuk ke pemukiman. Sedangkan adaptasi masyarakat ditujukan agar muncul rasa tanggap terhadap potensi bencana yang ada.

Danang memberi contoh, setelah letusan besar Merapi 2010, masyarakat di aliran sungai berhulu di Merapi, Yogyakarta, telah belajar untuk tenggap bencana. Ketika hujan deras di puncak, muncul inisiatif pemberitahuan di tingkat warga, untuk memperingatkan warga di kota, yang jaraknya lebih dari 25 kilometer di bawah.

“Di Semeru sepertinya, belum terbentuk, tetapi ini bisa dibentuk sebetulnya. Sebagaimana masyarakat Merapi belajar dari letusan 2010,” tambahnya.

Danang memastikan, teknologi penting dalam mitigasi bencana gunung berapi, tetapi yang paling penting adalah peran masyarakat.

Korban Semeru Munculkan Pertanyaan Terkait Mitigasi Bencana
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:34 0:00

Dia juga mengingatkan, kawasan Semeru khususnya di aliran yang dipenuhi material, masih menyimpan potensi bencana susulan, yiatu banjir bandang yang membawa material vulkanik. “Bulan Desember, Januari, dan Februari kita perlu memperhatikan potensi aliran lahar dan juga erupsi susulan,” ucapnya lagi.

Danang menambahkan, fenomena La Nina memunculkan potensi hujan tinggi yang harus diwaspadai. [ns/ab]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG