Tautan-tautan Akses

AS

Kasus Penembakan Breonna Taylor, Terdakwa Menyatakan Tak Bersalah


Pengacara keluarga Breonna Taylor, Ben Crump (tengah) berbicara dalam konferensi pers di Louisville, Kentucky, 25 September 2020. (Foto: AP)

Detektif polisi Kentucky yang menghadapi dakwaan terkait penembakan fatal Breonna Taylor, Senin (28/9), mengaku tidak bersalah.

Permohonan Brett Hankinson ini disampaikan lima hari setelah dewan juri mendakwanya atas tiga dakwaan melakukan tindakan berbahaya karena melepaskan tembakan ke arah rumah tetangga Taylor. Jika terbukti bersalah, ia dapat menghadapi hukuman lima tahun penjara pada setiap dakwaan yang diajukan.

Pengacara Hankinson meminta kliennya agar diizinkan menyimpan senjata api untuk membela diri, dengan mengatakan Hankinson – yang dipecat Juni lalu - “telah menerima sejumlah ancaman.” Hakim menolak permintaan tersebut.

Dewan juri menolak mendakwa Hankinson atau dua polisi narkotika lain yang tidak mengenakan seragam dan melepaskan tembakan di dalam rumah Taylor. Keputusan untuk tidak mendakwa para polisi itu memicu demontrasi di kota Louisville, dan di seantero Amerika.

Wali Kota Louisville Greg Fischer, Senin (28/9), mencabut jam malam yang diberlakukan setelah orang menolak mengakhiri demonstrasi yang dilakukan pada malam hari. Fischer dalam pernyataannya mengatakan jam malam yang diberlakukan selepas pukul 21.00 telah membuahkan hasil.

“Kami sedih melihat terjadinya aksi kekerasan, termasuk penembakan dua polisi, satu diantaranya hingga kini masih dirawat di rumah sakit untuk mengobati komplikasi luka-luka yang dideritanya. Namun, kami yakin kebijakan jam malam membantu, untuk memastikan lebih sedikit orang berada di luar rumah pada malam hari,” ujarnya.

Gubernur Kentucky Andy Beshear mengatakan demonstrasi umumnya berlangsung damai, dan hanya sedikit orang yang mengambil keuntungan dari situasi itu untuk melakukan aksi kekerasan.

“Saya ingin mengatakan 99,99 persen orang yang turun ke jalan melakukannya secara damai, menyampaikan suara mereka akan didengar dan kita harus mendengar mereka. Kita harus mendengar trauma dan kepedihan yang dirasakan,” tegas Beshear. [em/pp]

Lihat komentar (3)

XS
SM
MD
LG