Tautan-tautan Akses

Kandidat Presiden Perancis Ingin Satukan Eropa, Bukan 'Frexit'


Kandidat presiden Perancis dari kelompok konservatif, Francois Fillon (foto: dok).

Kandidat presiden Perancis dari kelompok konservatif Francois Fillon mengkampanyekan sikap yang lebih keras, untuk lebih mempersatukan Eropa agar bisa mempertahankan diri terhadap aksi kekerasan para ekstremis dan perdagangan yang tidak adil, dan memperingatkan bahwa “Frexit” akan mengakibatkan kekacauan dan matinya Uni Eropa.

Sebagian besar dari 11 calon presiden Perancis skeptis tentang Uni Eropa, di tengah berkembangnya sentimen nasional di seluruh Eropa dan keluarnya Inggris dari blok itu – atau yang dikenal sebagai “Brexit”. Sebagian lainnya, seperti kandidat presiden dari kelompok sayap kanan-jauh Marine Le Pen, bahkan mendukung “Frexit” – istilah bagi keluarnya Perancis dari Uni Eropa.

Tetapi Fillon hari Kamis (6/4) mengatakan Uni Eropa “diperlukan untuk memastikan keamanan dan kemakmuran ekonomi Perancis dan seluruh Eropa.’’

Fillon memperingatkan bahwa usul Le Pen untuk meninggalkan Uni Eropa dan mata uang bersama Euro, “akan menimbulkan kekacauan dan ledakan kekacauan di Eropa.” Jika Perancis akan keluar dari Uni Eropa – yang didirikan 60 tahun lalu untuk mencegah terjadinya perang dunia pada masa depan – blok itu mungkin akan runtuh.

Fillon pernah unggul dalam pertarungan pemilu presiden tetapi tuduhan-tuduhan korupsi yang dilakukannya telah mengurangi peluanganya dalam pemilu dua putaran yang akan berlangsung antara 23 April hingga 7 Mei nanti.

Sebagian dari 11 kandidat presiden Perancis mengkampanyekan “Frexit” atau mengurangi peran Perancis di Uni Eropa. [em/ii]

XS
SM
MD
LG