Tautan-tautan Akses

Jokowi : “Emang Enak Enggak Ada Radio?”


Radio antik koleksi milik kolektor Matthew Staunton, di Dublin, 17 September 2009. (Foto: Ilustrasi)

Sebagian besar radio/jaringan radio di seluruh Ibu Kota Jakarta, Senin (11/12), mematikan siarannya secara serempak mulai jam 7.45 WIB. Ada yang mematikan siaran selama satu menit, tetapi ada pula yang selama 15 menit. Kebingungan pun melanda warga ibu kota yang mempertanyakan hal ini lewat sosial media.

"Waduh seremmmm..,” cuit Farhan Hakim yang memasang video pendek radio dengan hanya satu nada panjang.

“#RadioGueMati Gak enak hidup tanpa radio....off 1-3 menit saja, serasa sepi...gak kebayang kalo semua radio off sepanjang hari...sepanjang bulan...sepanjang tahun.......pastinya hampa..” cuit Bernardus S. Hardjo di @BernardusHendro.

“Whatttt kalo radio se-Jakarta mati gue harus ngapain dong hari ini??? #RadioGueMati” cuit Paquita Genuschka di @pgenuschka.

Tagar #RadioGueMati segera menjadi “trending topic” di Twitter dan hampir semua sosial media. Dalam waktu kurang dari dua jam, tagar itu sudah digunakan lebih dari 23 juta kali.

Selama tidak ada siaran apa pun di sejumlah stasiun radio di Jakarta ini, para penyiar radio meramaikan soal “matinya siaran radio” di wahana sosial media masing-masing.

Penyiar HardRockFM Gofar Hilman mencuit “Kalo selamanya #radioguemati kebayang gak? Lo masih bisa Spotify, Joox dll sih. Tapi, gak ada penyiarnya. Ibarat Brazil tanpa Ronaldo dan Roberto Carlos taro depan,” di @pergijauh.

Radio yang mengklaim pendengarnya sebagai ana-anak muda, Prambors FM, mencuit “suasana Prambors pagi ini, pas RADIO SEJAKARTA MATI! Yuk kasih tau perasaan kamu dan apa yang kamu lakuin pas radio mati! Apakah kayak @desta80s dan @missdongdong ? Kasih tau ke twitter atau Instagram pake hashtag #RadioGueGakMati ya!” di @Prambors.

Demikian pula penyiar-penyiar di MNC Trijaya FM, yang mencuit “Kami mohon bantuan Anda, Profesional Trijaya.. Posting text, picture, video, or anything untuk saat ini supaya radionya cepet nyala lagi.. #radioguemati.”

Sementara Radio Elshinta FM membuat survei sederhana dengan pertanyaan : “Apakah radio tetap menjadi media informasi dan edukasi?” Dan hampir 94% menjawab “ya”.

Menurut Denny J. Sompie, salah seorang pejabat PRSSNI DKI Jakarta, kampanye ini untuk mengingatkan warga ibu kota akan arti penting radio karena selama ini ada kesan bahwa pendengar radio turun dan orang lebih memilih industri yang sedang naik daun seperti televisi dan media online.

“Semua radio mengajak pendengarnya untuk sharring (berbagi.red) apa rasanya kalau radio mati,” ujar Denny. Ditambahkannya, “kami ingin menginformasikan bahwa saat ini radio itu penting. Jangan ditingalkan.” Lebih jauh Denny mengatakan kampanye ini merupakan bagian dari aksi “ayo dengar radio!”

Tak hanya menarik perhatian warga Jakarta, kampanye #radioguemati ini juga menarik perhatian orang nomor satu di Indonesia. Presiden Joko Widodo lewat Twitter memasang video pendek disertai cuitan “emang enak nggak ada radio. Saya Joko Widodo, pendengar radio. Kalau kamu?” di @jokowi.

Cuitan Presiden Jokowi ini sudah dicuit ulang (retweet) lebih dari 1.800 kali.

Menurut rencana kampanye ini akan berlanjut dengan konferensi pers dan pertemuan sesama “orang radio”, Senin(11/12) malam. [em]

XS
SM
MD
LG