Tautan-tautan Akses

Interpol Buru Ghosn, Lebanon Bergeming


Interpol meminta Lebanon menangkap Carlos Ghosn setelah mantan petinggi industri mobil itu lari dari Jepang saat menanti pengadilan atas tuduhan pelanggaran finansial. (Foto: dok).

Interpol telah secara resmi menjadikan Carlos Ghosn sebagai buronan dan meminta Lebanon menangkapnya setelah mantan petinggi industri mobil itu lari dari Jepang sewaktu menantikan pengadilan atas dakwaan melakukan pelanggaran finansial. Pihak berwenang menudingnya menggelapkan uang perusahaan jutaan dolar. Reporter VOA Arash Arabasadi mencoba menelusuri usaha pelariannya yang menimbulkan banyak pertanyaan.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Carlos Ghosn berada di Beirut, Lebanon, dan ia kini diburu Interpol dan Jepang.

Pihak berwenang Jepang menyatakan mereka tidak tahu bagaimana Ghosn bisa menghindar dari pengawasan ketat dan memasuki Lebanon. Akan tetapi pihak berwenang Lebanon menyatakan ia masuk negara itu secara legal dengan paspor Perancis dan bahwa tidak ada alasan untuk mengambil tindakan terhadap Ghosn.

Menteri Kehakiman Lebanon Albert Serhan mengatakan, "Kami tidak melihat adanya pelanggaran hukum. Ia melalui perbatasan seperti halnya warga Lebanon lainnya dengan paspor yang sah.”

Keberhasilan Ghosn lari dari jerat hukum menimbulkan banyak pertanyaan. Namun, banyak pihak mengaku tidak terkejut karena Ghosn - menurut mereka - memiliki segalanya.

Ia pernah memimpin perusahaan-perusahaan mobil ternama Nissan, Mitsubishi, dan Renault, di mana ia juga memegang posisi CEO.Namun pada November 2018, pihak berwenang menangkap Ghosn.Mereka mendakwanya melakukan pelanggaran finansial karena melaporkan pendapatan yang lebih rendah dari kenyataannya, dan menggelapkan uang milik Nissan sebesar lima juta dolar.

Rumah kediaman Carlos Ghosn di Beirut, Lebanon, 2 Januari 2020.
Rumah kediaman Carlos Ghosn di Beirut, Lebanon, 2 Januari 2020.

Ghosn melanggar syarat pembebasannya dengan jaminan di Jepang dan kabur ke Lebanon sebelum persidangan atas tuduhan pelanggaran finansial itu mulai digelar. Kedua negara itu tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

Stephen Givens, seorang analis dan pengacara perusahaan, memprediksi kasus Ghosn. “Ini pada dasarnya akan berakhir dengan kebuntuan. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya di Lebanon, dan kita mencari bukti apa saja yang mungkin bisa diajukan ke pengadilan seandainya pengadilan itu memang ada.”

Ghosn, pada malam Tahun Baru, sempat menjelaskan mengapa ia melanggar syarat pembebasannya dengan jaminan.

"Ada konspirasi. Ada yang menikam saya dari belakang. Inilah yang sedang terjadi.”

Ghosn mengatakan, ia tidak menghindari pengadilan, namun menghindari ketidakadilan dan penindasan politik.

Media-media memberitakan, Ghosn kabur ke Lebanon dengan cara meminta bantuan salah satu perusahaan keamanan swasta untuk menyelundupkannya keluar dari Jepang menggunakan jet pribadi. Ghosn kemudianmenggunakan pesawat jet berbeda untuk terbang ke Bandara Ataturk di Istanbul, Turki dan selanjutnya ke Lebanon.

Pihak berwenang di Turki menahan tujuh orang yang diduga membantu Ghosn melarikan diri dengan pesawat jet pribadi.

Kamis, pihak berwenang Lebanon mengukuhkan mereka telah menerima surat pemberitahuan resmi dari Interpol, yang pada intinya meminta penegak hukum setempat untuk menangkap Ghosn sebagai seorang buronan.

Menteri Kehakiman Lebanon Albert Serhan mengatakan, "Sudah bukan rahasia bahwa Ghosn berada di Lebanon. Kami adalah negara yang menghormati prinsip-prinsip hukum. Kami adalah negara hukum dan karena itu semua tindakan diambil berdasarkan hukum Lebanon.”

Masa depan kasus ini masih tidak jelas. Ghosn memiliki kewarganegaraan dan memegang paspor Lebanon, Perancis dan Brazil. Perancis sudah mengatakan tidak akan mengekstradisi warganya. [ab/uh]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG