Tautan-tautan Akses

Imbas Corona: Universitas Harvard Lakukan Sejumlah Langkah Penghematan


Orang-orang berjalan melewati pintu masuk Perpustakaan Widener di kampus Universitas Harvard, di Cambridge, Massachusetts, 16 Juli 2019. (Foto: AP)
Orang-orang berjalan melewati pintu masuk Perpustakaan Widener di kampus Universitas Harvard, di Cambridge, Massachusetts, 16 Juli 2019. (Foto: AP)

Universitas paling bergengsi di AS telah memberlakukan pembekuan gaji dan perekrutan serta langkah-langkah pengetatan ikat pinggang lainnya di tengah-tengah bencana ekonomi akibat pandemik COVID-19.

Harvard University telah membatalkan belanja tertentu, demikian menurut sebuah surat elektronik yang disebar luaskan kepada masyarakat Universitas Harvard minggu lalu.

Universitas itu sedang mempertimbangkan untuk menunda semua proyek investasinya. Demikian dinyatakan dalam surat elektronik yang dikirim oleh Presiden Universitas Lawrence S. Bacow, Wakil Direktur Eksekutif Katherine N. Lapp, dan Rektor Alan M Garber.

“Harvard, sebagaimana universitas-universitas lainnya di seluruh dunia, tidak luput dari konsekuensi ekonomi pandemik,” demikian bunyi surat elektronik itu, dan menyebut efek dari COVID-19 itu sebagai mengacaukan.”

Eksterior Departemen Kimia dan Biologi Kimia di Universitas Harvard. (Foto: Reuters)
Eksterior Departemen Kimia dan Biologi Kimia di Universitas Harvard. (Foto: Reuters)

“Kami harus mencari cara yang lebih efisien biaya guna mengoperasikan layanan kami. Hal ini melibatkan seluruh sekolah dan unit administrasinya bekerja sama guna menghindari duplikasi pekerjaan,” demikian ditulis pejabat universitas.

Harvard University yang terletak di Cambridge, Massachussetts, secara konsisten menduduki peringkat atas dari universitas-universitas terbaik di dunia.

Harvard College, yang mengelola program undergraduate atau sarjana, punya laju penerimaan 5,3 persen, atau sekitar 2000 mahasiswa baru dari lebih 43 ribu pendaftar untuk tahun ajaran 2023. Dua belas persen mahasiswanya berasal dari luar negeri.

“Sumber-sumber penerimaan kami, berupa uang kuliah, hibah, program eksekutif, filantropi, dan dukungan untuk penelitian, terancam, dan kami antisipasi akan mucul penambahan permintaan untuk bantuan finansial ketika keanjlokan ekonomi akibat pandemik memukul anggaran para keluarga mahasiswa,” demikian bunyi surat tersebut.

Harvard melaporkan sumbangan hibah mencapai $40.9 miliar pada September 2019, dan 55 persen mahasiswa menerima bea siswa dari Harvard.

“Meskipun kami memasuki krisis ini dalam posisi finansial yang relatif kuat, tetapi sumber daya kami terbatas. Kalau kita ingin mempertahankan misi utama kami berupa pengajaran dan pemberian bea siswa, kami menghadapi keputusan-keputusan yang sulit dan menyakitkan dalam hari-hari mendatang.”

Harvard, sebagaimana Lembaga Pendidikan tinggi AS lainnya pada tingkatan Ivy League, merupakan lembaga yang menerima mahasiswa berdasarkan potensi kemampuan belajar mereka dan menyediakan bantuan finansial.

Universitas menaksir biaya uang kuliah dan pungutan dari mahasiswa per tahun mencapai $73.200, dan paket bantuan finansialnya, baik itu berupa bea-siswa Harvard, pemerintah federal, atau pihak luar lainnya, mencapai $56.500 dari biaya itu.

Baik Bacos, Lapp, maupun Garber mengatakan, mereka masing-masing akan mengurangi gaji mereka sebesar 25 persen [jm/em]


XS
SM
MD
LG