Tautan-tautan Akses

Kebijakan “Telework” Akibat Corona Paksa Warga Mainkan Peran Ganda


Siswa kelas 4 di Cottage Lake Elementary mencoba mencari tahu instruksi penugasan di laptopnya saat pembelajaran online yang diterapkan di Distrik Northshore School selama dua minggu akibat corona, di Woodinville, Washington, AS, 11 Maret. 2020. (Foto: Reuters/Lindsey Wasson)

Banyak sekolah di Amerika ditutup hingga akhir tahun ajaran karena pandemi virus korona, sehingga pendidikan anak-anak kini sepenuhnya ada di tangan orang tua, yang kebanyakan juga mengikuti kebijakan karatia wilayah dan kini bekerja dari rumah.

Dalam keluarga Juliana Col, beberapa hari terakhir ini, setiap pagi digunakan untuk belajar.

“Kalian ingin berdoa dengan cepat? Tuhan, terima kasih atas berkah bisa bekerja dari rumah dan mewujudkan homeschooling dan tolong bantu kami untuk memahami dan mempelajari berbagai kemungkinan dan petualangan baru di dunia. Amin," kata Juliana.

Seluruh sekolah di negara bagian Virginia ditutup hingga akhir tahun ajaran nanti. Hal ini membuat para orang tua kini juga harus memainkan peranan sebagai guru. Tidak terkecuali Juliana Col, yang kini berfungsi sebagai ibu dan guru.

Tracey Pucci dan putranya, Foxton Harding, 12, menonton video latihan yang dibuat oleh para guru Foxton di Northshore Middle School ketika sekolah beralih ke pembelajaran online selama dua minggu di rumah mereka di Bothell, Washington, AS, 11 Maret 2020.
Tracey Pucci dan putranya, Foxton Harding, 12, menonton video latihan yang dibuat oleh para guru Foxton di Northshore Middle School ketika sekolah beralih ke pembelajaran online selama dua minggu di rumah mereka di Bothell, Washington, AS, 11 Maret 2020.

Sekolah anak-anak Juliana mengirim tugas harian setiap pagi lewat internet, yang kemudian harus dicetak oleh orang tua. Video tutorial juga dikirim untuk membantu belajar secara mandiri.

“Saya memastikan untuk menciptakan ritme yang sehat, yang telah dijalankan sekolah demi keberhasilan anak-anak, baik ketika mereka ada ujian, maupun ketika harus memeriksa tugas secara virtual," kata Juliana.

Bagi anak-anak Juliana, ada situasi baik dan buruk.

“Saya rindu bermain dengan teman-teman kelas dan guru saya, tetapi saya suka melakukan aktivitas di rumah dan bermain bersama keluarga saya," kata Isaiah.

Juliana berusaha meluangkan waktu untuk kegiatan di luar rumah. Hal ini memotivasi anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Dan meskipun tetap menjaga jarak dengan orang lain sebagaimana yang dianjurkan otorita berwenang terkait “social distancing,” putra Juliana, Caleb, punya satu teman yang dapat ditemuinya.

“Karena saya tidak bersekolah, saya menemui teman di dekat rumah. Kami bermain tembak-tembakan selama satujam, dan juga bola basket dan sepak bola," kata Caleb.

Sambil membantu anak-anaknya belajar, Juliana menghubungi teman-teman kerjanya lewat internet. Semua bekerja dari rumah seperti dirinya. Salah satu diantaranya adalah Melody Duncan, yang berbicara melaluinya lewat video telekonferensi.

“Saya harus membagi waktu antara pekerjaan kantor, memasak dan beristirahat. Karena jika tidak maka semua akan jadi waktu istirahat saja," kata Melody Duncan.

“Kita jadi dapat memutuskan untuk menginvestasikan waktu ini untuk menumbuhkembangkan diri kita sendiri, memperluas hubungan dan mimpi kita. Ini karena kita mendapat berkah dapat bekerja dari tempat di mana seharusnya kini kita berada," kata Juliana.

Di Amerika, era perebakan virus corona telah memberi makna baru pada kalimat “stay at home mom.” [em/ii]

XS
SM
MD
LG