Tautan-tautan Akses

Dunia Bereaksi Cepat atas Ucapan Vulgar Trump Soal Haiti dan Negara-Negara Afrika


Presiden Donald Trump berbicara dalam sebuah pertemuan di Ruang Roosevelt Gedung Putih, Washington DC, 11 Januari 2018.

Dunia bereaksi cepat terhadap penggunaan kata-kata tidak senonoh oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Komentar kasar dari Presiden Trump di hadapan anggota Kongres untuk menjelaskan tentangannya terhadap masuknya imigran dari Haiti dan Afrika ke Amerika, telah memicu kemarahan dan kecaman baik di dalam maupun di luar negeri.

Juru bicara HAM PBB, Rupert Colville, menyebut komentar itu sebagai rasis. “Ini membuka sisi kemanusiaan yang terburuk, merestui dan mendorong rasisme dan xenophobia yang berpotensi menghilangkan nyawa banyak orang,” kata Colville.

Trump mengejutkan para legislator dalam suatu pertemuan di Gedung Putih mengenai imigrasi hari Kamis (11/1), sewaktu ia dilaporkan menyebut Haiti dan negara-negara Afrika dengan ungkapan kata-kata yang tidak senonoh.

Ia menggunakan ungkapan itu sewaktu mempertanyakan mengapa orang-orang dari negara tersebut datang ke Amerika. Pernyataan ini pertama kali diberitakan media, termasuk oleh The Washington Post, The New York Times dan CNN. Kata-kata kasar itu memiliki arti kotor dan miskin.

Trump mengatakan Amerika Serikat seharusnya mengizinkan masuk lebih banyak orang dari berbagai tempat seperti Norwegia, yang perdana menterinya bertemu dengan Trump di Gedung Putih pada hari Rabu.

Uni Afrika menyatakan sangat terkejut oleh pernyataan presiden. Juru bicara Uni Afrika Ebba Kalondo mengatakan kepada Associated Press, mengingat realitas sejarah mengenai betapa banyaknya orang Afrika yang datang ke Amerika sebagai budak, pernyataan tersebut bertentangan dengan semua perilaku dan praktik yang dapat diterima. Ini, lanjutnya, mengejutkan karena Amerika masih menjadi contoh global mengenai bagaimana migrasi melahirkan suatu negara yang dibangun atas nilai-nilai keberagaman dan kesempatan yang kuat.

Kongres Nasional Afrika, partai yang berkuasa di Afrika Selatan, menyebut pernyataan Trump itu sebagai sangat menghina.

Raoul Peck, mantan menteri kebudayaan Haiti mengatakan, dia merasa terkejut, terperanjat dan marah dengan komentar Trump itu.

“Tanggung jawab sebagai seorang Presiden dari negara besar ini bukan sebuah perlombaan atau reality show di TV,” demikian bunyi cuitan Peck.

“Jabatan ini menuntut pendidikan dan pemahaman mendasar atas kemanusiaan dan juga kepandaian. Trump tidak lulus dalam penilaian seperti ini,” tandasnya. [uh/ps]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG