Tautan-tautan Akses

Dlingo: Menguji Konsep "Destinasi Digital" Kementerian Pariwisata


Salah satu sudut swafoto yang terkenal di Pinus Pengger, Dlingo, Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi)

Dulu, kawasan Dlingo di Bantul, Yogyakarta dikenal sebagai kawasan miskin. Predikat itu berubah total sejak dua tahun lalu, ketika 2 juta lebih wisatawan berkunjung tiap tahun kesana. Apa rahasianya?

Alunan suara biola dan cello menggema di tengah hutan pinus Mangunan, Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta. Konser pemusik remaja yang tergabung dalam Amari dan siswa SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta itu digelar tanpa pengeras suara. Seratusan penonton menyimak dari bangku-bangku kayu disusun setengah lingkaran di tanah perbukitan yang menurun.

“Musik adalah wahana tepat untuk menyalurkan energi anak-anak, daripada misalnya sibuk main games. Karena itulah kami menggelar konser disini, dan ini adalah untuk kedua kalinya,” kata Fafan Isfandiar, konduktor sekaligus pimpinan Amari Yogyakarta.

Panggung terbuka di tengah hutan pinus itu adalah daya tarik tersendiri dan menjadi bagian dari sejumlah titik wisata di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Titik wisata lain, yaitu Puncak Becici, pernah dikunjungi mantan Presiden Obama pada 29 Juni 2017. Obama dan keluarga juga menikmati menu lokal di restoran Bumi Langit, masih di perbukitan yang sama.

Jika Anda datang kesini tiga tahun yang lalu, mungkin tidak akan menduga perubahan terjadi begitu cepat. Dlingo ketika itu adalah daerah tandus dan miskin. Kawasan hutan pinus pelan-pelan popular oleh wisatawan lokal yang singgah dalam perjalanan menuju tempat wisata lain yang lebih terkenal ketika itu, misalnya pantai Selatan. Media sosial turut mendongkrak promosi, karena foto-foto kawasan ini tersebar cepat, terutama di kalangan anak muda.

Sekelompok anak muda menikmati pemandangan kota Yogya di kawasan Pinus Pengger, Dlingo, Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi)
Sekelompok anak muda menikmati pemandangan kota Yogya di kawasan Pinus Pengger, Dlingo, Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi)

Purwo Harsono, salah satu tokoh pegiat wisata di kawasan ini mencatat, pada tahun 2017 ada lebih dari 2,2 juta wisatawan yang berkunjung. Semester pertama tahun ini angkanya sudah mencapai 1,2 juta orang. Untuk mendongkrak angka itu, pengelola akan terus menambah daya tarik, misalnya dengan sendratari yang direncanakan akan mulai pentas akhir tahun ini. Pentas gabungan drama dan tari itu, kata Purwo akan mengambil tema cerita penyerangan Kerajaan Mataran ke Batavia dengan menggunakan kapal Kaladuta.

“Kapal Kaladuta ini sudah kita ajukan dalam pembahasan, akan kita pasang di pinggir tebing. Panjangnya sekitar 50 meter lebarnya 15 meter, dan di atasnya bisa dipakai untuk pementasan sendratari tersebut, di bawahnya bisa untuk glamping camp . Di siang hari, bisa dilakukan atraksi membentangkan layar kapal,” ujar Purwo.

Hebatnya, perubahan drastis dalam dua tahun terakhir itu lahir bukan karena kedatangan investor besar. Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan, hampir seluruh titik wisata di kawasan itu dikembangkan sendiri oleh masyarakat.

“Bantul ini memiliki obyek wisata dan desa wisata yang mayoritas menggunakan konsep CBT, Community Based Tourism atau pariwisata berbasis komunitas, artinya bukan berbasis pendanaan dari investor,” ungkap Abdul Halim.

Pemerintah mencatat, dari sisi ekonomi, tumbuhnya sektor pariwisata ini menjadi pengungkit ekonomi. Sektor perdagangan dan jasa bergerak naik untuk melayani kebutuhan wisatawan. Usaha persewaan kamar tumbuh subur, begitu pula jasa bertualang menggunakan mobil off road. Menurut laporan Badan Pusat Statistik, Kecamatan Dlingo bahkan memiliki pertumbuhan ekonomi paling tinggi saat ini. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk terus menerapkan konsep CBT dalam pengembangan obyek wisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya (duduk, pakai blangkon) dalam kunjungan ke kawasan Dlingo, Yogyakarta meluncurkan program "Destinasi Digital", Selasa 31 Juli 2018. (Foto: VOA/Nurhadi)
Menteri Pariwisata Arief Yahya (duduk, pakai blangkon) dalam kunjungan ke kawasan Dlingo, Yogyakarta meluncurkan program "Destinasi Digital", Selasa 31 Juli 2018. (Foto: VOA/Nurhadi)

Kawasan wisata Dlingo, kini masuk dalam program Destinasi Digital dari Kementerian Pariwisata. Lebih dari itu, kawasan ini bahkan dipilih sebagai salah satu lokasi peluncuran program nasional itu secara resmi. Dalam definisi yang dipaparkan Kementerian Pariwisata, destinasi digital adalah tujuan wisata yang heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di Instagram. Destinasi digital merupakan gerakan mengkampayekan obyek wisata lewat media sosial secara masif.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam kunjungan ke Yogyakarta Selasa, 31 Juli menyebutkan, pemerintah menetapkan target ada 100 destinasi digital di 34 provinsi atau rata-rata 3 di setiap daerah. DI Yogyakarta sendiri akan memiliki 8 destinasi digital, yang menurut Arief jauh di atas rata-rata provinsi lain. Destinasi digital penting, karena menurut Arief akan menjadi tren wisata di masa depan.

“Kini paling banyak digunakan adalah digital media, itu adalah cara paling efektif dan efisien, efisien karena biayanya seperempat dari media konvensional, dan efektif karena 70 persen turis sudah menggunakan digital media. Karena itu destinasi digital selalu populer di kalangan turis,” tukas Arief.

Arief memastikan, kementerian akan mendukung penuh program ini hingga tahun depan. Dalam segi pembiayaan, di akhir tahun ini pengelola dapat memperoleh bantuan melalui Kredit Usaha Rakyat, kucuran melalui rekdasana, pembangunan home stay bersubsidi dan menjadi lokasi pengelolaan dana Corporate Social Responsibility dari BUMN.

Dlingo, kawasan yang dulu miskin dan tandus itu, kini akan menjadi pembuktian apakah konsep destinasi digital dari pemerintah akan menuai hasil. [ns/em]

Dlingo: Menguji Konsep Destinasi Digital Kementerian Pariwisata
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:22 0:00

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG