Tautan-tautan Akses

Dampak Corona: AS Ciptakan Sejumlah Aplikasi 'Belajar di Rumah' agar Anak Lebih Kreatif


Siswa tengah bekerja dengan komputer di Reynoldsburg High School di Reynoldsburg, Ohio,16 Maret 2015. (Foto: AP/Jay LaPrete)

Penutupan sekolah akibat corona memaksa orangtua harus mencari opsi lain untuk mendidik anak-anak di rumah. Belajar online dikhawatirkan akan membuat anak-anak menghabiskan waktu di depan komputer. Elizabeth Lee memiliki rincian beberapa aplikasi yang menggabungkan aktivitas fisik dan digital.

Banyak orang tua yang merasa khawatir bahwa kalau anak-anak tinggal dirumah, mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di depan layar komputer. Namun kini ada alternatifnya.

"Terutama kalau Anda membuang-buang waktu di YouTube, Instagram, dan TikTok, itu merupakan penggunaan waktu di layar komputer yang buruk dan harus kita hilangkan," kata David Drobik dari Vividbooks.

Martin Hrostman dari Tink Digital menambahkan,”Teknologi itu bagus, dan dimana-mana tersedia, jadi banyak hal fantastis di sana. Tetapi itu juga membuat anak-anak menjadi pasif.”

Ketimbang main game video dan mengkonsumsi ide-ide orang lain, insinyur perangkat lunak, Martin Horstman, menciptakan sebuah cara agar anak-anak mengungkapkan gagasan mereka sendiri lewat kombinasi dari ketrampilan dunia nyata dengan teknologi. Ini adalah sebuah aplikasi yang dinamakan 'Doodlematic'.

Caranya; pertama, rancang dan buat sebuah game dengan warna-warna yang spesifik. Sebuah warna lain akan memberitahu program apakah itu avatar, sebuah sasaran, atau sebuah bahaya. Ambil foto dari sebuah ponsel lewat aplikasi, maka dia berubah menjadi sebuah game video. Membuat game video bisa mengajarkan ketrampilan hidup yang penting, menurut Horstman.

“Kami sangat yakin bahwa kreativitas dan daya imanjinasi merupakan keterampilan yang sedemikian pentingnya untuk setiap jalur karir yang hendak Anda jalankan," kata Horstman.

Anak-anak bisa mendisain dua game animasi bebas pungutan, dan kemudian hanya membayar AS$30 untuk menciptakan 1.000 game animasi lainnya.

Alice dan Joseph Wilkinson tengah mengikuti kelas online di rumah mereka di Manchester, Inggris, 23 Maret 2020. (Foto: Reuters / Phil Noble)
Alice dan Joseph Wilkinson tengah mengikuti kelas online di rumah mereka di Manchester, Inggris, 23 Maret 2020. (Foto: Reuters / Phil Noble)

Sebuah aplikasi lainnya disebut 'Vividbooks' yang menggunakan teknologi AR atau augmented reality yang menggabungkan dunia nyata dan virtual. Aplikasi ini menghidupkannya lewat konsep ilmu fisika yang sulit. Demikian penjelasan dari perancang Vivid Books, David Drobik.

“Kalau Anda tengok teks-book tradisionil yang digunakan anak-anak sekarang dan yang digunakan selama 40 tahun yang lalu, maka Anda lihat beberapa diagram kecil dan banyak teks di sekelilingnya," kata David Drobik.

Fisika misalnya, lanjutnya, ditentukan oleh banyak kondisi dan banyak sekali konsepnya, dan ini bisa divisualkan, lewat sebuah layar digital dimana animasi mampu menjelaskan berbagai konsep berbeda, dan ini jauh lebih mudah ketimbang siswa harus membaca banyak teks.

Lewat sebuah komputer meja atau perangkat mobile, halaman-halaman 'Vividbook' bisa dicetak. Dengan sebuah aplikasi, ketika ponsel itu dihadapkan pada sebuah halaman, maka perangkat itu langsung mengenali gambar. Selain itu juga tahu bahwa dia harus memainkan sebuah jenis animasi tertentu, kata David Drobik.

Aplikasi ini kini tersedia di ponsel Apple. Versi Web dan Android diharapkan tersedia pada Juni. Selama masa pandemik ini, para orang tua bisa mengakses halaman teks-book secara bebas. Usia anak yang disasarkan adalah 10 sampai 12 tahun. Perusahaan ini merencanakan menambah subyek kimia dan biologi, dan memperluas bahan pengajaran ini untuk lebih banyak usia.

Aplikasi-aplikasi ini menggabungkan hal-hal positif dari dunia nyata dan digital sehingga anak-anak akan tetap aktif secara mental, serta tetap terlibat sementara mereka tidak bisa bersekolah. [ew/jm]

​

XS
SM
MD
LG