Tautan-tautan Akses

Pengalaman Dua Guru Indonesia Mengajar di AS dalam Masa Pandemi Corona


Kelas Indonesia-OLLI (foto: courtesy).
Kelas Indonesia-OLLI (foto: courtesy).

Perebakan virus corona terus mencekam dunia, termasuk di Amerika. Bagaimana pengalaman dua orang guru perempuan Indonesia yang mengajar di Amerika dalam keadaan seperti ini?

Pandemi virus corona kian mencekam dunia dan berdampak secara global. Di AS sendiri, sejumlah rumah sakit, dokter, perawat dan pekerja kesehatan menghadapi persoalan karena keterbatasan masker wajah dan baju pelindung. Sementara sekolah-sekolah ditutup di sejumlah negara bagian AS, guru dan para murid menjalani aktivitas belajar secara virtual.

Kepada VOA Washington, salah seorang guru perempuan asal Indonesia berbagi pengalaman pertama kali mengajar pendidikan anak usia dini di AS. Ikrim Maizana, penerima beasiswa Community College Initiative Program asal Sumatera Barat itu merasa kagum dengan daya kritis dan minat baca anak-anak di salah satu sekolah TK di Virginia itu.

“Mereka kritis, langsung nanya-nanya saja dengan tatapan yang sangat lucu. Mereka sangat menyukai buku. Itulah yang saya inginkan bagi anak-anak didik saya di Indonesia yaitu suka membaca buku,” ungkapnya.

Ikrim Maizana, pelajar di Northern Virginia Community College jurusan Early Childhood Education (foto: courtesy).
Ikrim Maizana, pelajar di Northern Virginia Community College jurusan Early Childhood Education (foto: courtesy).

Mengajar pertama kali dalam Bahasa Inggris juga dialami oleh Listra Lubis yang mengajar Kelas Indonesia pada program Osher Longlife Learning Institution (OLLI) di Duke University, North Carolina. Profesional perempuan asal Sumatera Utara yang menemani suami tugas belajar di AS berupaya mengulangi penjelasan beberapa kali ketika mengajari peserta lanjut usia yang umumnya para pensiunan dari lembaga pemerintahan dan organisasi sosial.

Beberapa peserta Kelas Indonesia OLLI yang dibuka pada musim semi 2019 dan musim dingin bulan Januari-Febuari 2020 lalu tertarik untuk membahas politik Indonesia yang tidak termasuk dalam silabus.

“Ketika ada pertanyaan tentang politik saya berusaha hanya menanggapi sebatas luarnya saja. Jadi topik politik ini hal yang menarik bagi mereka dan menjadi tantangan terbesar bagi saya,” kata Listra.

Peserta Kelas Indonesia OLLI menikmati masakan Indonesia (foto: courtesy).
Peserta Kelas Indonesia OLLI menikmati masakan Indonesia (foto: courtesy).

Kelas Indonesia nonkredit yang berlangsung selama 6 minggu itu berhasil diselesaikan tanggal 22 Febuari 2020, tidak lama setelah pengukuhan dua kematian pertama infeksi virus corona, pria berusia 50-an dan 70-an pada akhir Febuari di Kirkland, Seattle sebelah timur negara bagian Washington.

Kelas yang diminati sejumlah lansia di Durham itu berkesempatan mencicipi masakan Indonesia seperti nasi goreng, sate ayam dan kue pukis. Beberapa dari mereka berencana berkunjung ke Asia Tenggara sehingga banyak dibahas tips-tips saat bepergian termasuk ke Indonesia seperti tempat-tempat yang patut dikujungi, waktu yang tepat untuk berlibur, dan lain sebagainya.

Perempuan Indonesia yang menjalani sepuluh bulan pelatihan itu juga aktif dalam kegiatan kepemimpinan dan pengenalan budaya Indonesia kepada masyarakat di Amerika.

Pandemi COVID-19 di AS berdampak pada terhentinya sejumlah aktivitas Ikrim termasuk kegiatan magang, kerja sukarela dan mengajar di TK. Sementara itu, Listra yang seharusnya mengajar pada musim semi 2020 untuk program OLLI di Duke University menerima informasi pembatalan kelas karena meluasnya infeksi virus corona:

“Seluruh kegiatan mengajar tatap muka di Kampus Duke University dibatalkan, juga mengikuti kebijakan ini dan membatalkan Spring Term 2020,” tambah Listra.

Beberapa guru utama masih datang ke sekolah, tempat Ikrim mengajar di Virginia. Walau tidak diperbolehkan datang mengajar karena adanya infeksi virus corona, Ikrim belajar secara online, mengerjakan tugas-tugas, tidak bepergian jauh, dan menjalani ‘social distancing’ atau menjaga jarak dengan orang lain. [mg/ii]

XS
SM
MD
LG