Tautan-tautan Akses

Aktivitas Meningkat, Semeru Naik Status Menjadi Siaga

Penduduk desa menyelamatkan barang-barang mereka dari rumah mereka yang rusak di Desa Curah Kobokan di Lumajang pada 8 Desember 2021, setelah letusan Gunung Semeru. (Foto: AFP)
Penduduk desa menyelamatkan barang-barang mereka dari rumah mereka yang rusak di Desa Curah Kobokan di Lumajang pada 8 Desember 2021, setelah letusan Gunung Semeru. (Foto: AFP)

Aktivitas Gunung Semeru di Jawa Timur terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Badan Geologi memutuskan untuk menaikkan status gunung tersebut, dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III).

Sekretaris Badan Geologi, Ediar Usman, dalam penjelasan resmi kepada media pada Jumat (17/12) petang menyebut keputusan itu didasarkan pada indikasi yang muncul pada pengamatan visual dan pengamatan seismograf. Keduanya, sudah menunjukkan adanya aktivitas awan panas Semeru menunjukkan peningkatan.

Sekretaris Badan Geologi, Ediar Usman. (Foto: VOA/Nurhadi)
Sekretaris Badan Geologi, Ediar Usman. (Foto: VOA/Nurhadi)

Selain itu, menurut Ediar, ada pula peningkatan kegempaan yang didominasi gempa letusan, embusan, dan guguran. Jumlah gempa guguran pun mengalami peningkatan dalam tiga hari terakhir.

“Mengingat kegiatan Gunung Api Semeru masih tinggi dan telah terjadi peningkatan jarak luncur awan panas guguran serta aliran lava, maka Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Gunung Api Semeru dinaikan dari level Waspada menjadi Siaga terhitung mulai tanggal 16 Desember 2021 pukul 23:00 WIB,” kata Ediar.

Gempa Semeru Meningkat

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, terjadi tiga luncuran awan panas pada Kamis. Pertama pukul 09:01 WIB sejauh 4,5 km dari puncak, pukul 09:30 WIB, namun secara visual tidak teramati karena Semeru tertutup kabut, dan luncuran terakhir pada pukul 15:42 WIB. sejauh 4,5 km dari puncak.

Kepala PVMBG, Andiani memberikan keterangan terkait kenaikan status Semeru, Jumat petang, dari Pos Pengamatan di Lumajang. (Foto: VOA/Nurhadi)
Kepala PVMBG, Andiani memberikan keterangan terkait kenaikan status Semeru, Jumat petang, dari Pos Pengamatan di Lumajang. (Foto: VOA/Nurhadi)

Kepala PVMBG Andiani juga menyebut kegempaan Semeru saat ini didominasi oleh gempa letusan, embusan, dan guguran.

“Jumlah gempa guguran meningkat dalam tiga hari terakhir sebanyak 15-73 kejadian per hari dari rata-rata 8 kejadian per hari sejak tanggal 1 Desember 2021. Gempa vulkanik dalam dan tremor harmonik terjadi dalam jumlah yang tidak signifikan,” kata Andiani.

Selain itu, Andiani juga mengatakan aktivitas awan panas guguran masih berpotensi terjadi. Pihaknya mencatat adanya endapan aliran lava atau lidah lava, dengan panjang aliran kurang lebih 2 km dari pusat erupsi.

“Aliran lava tersebut masih belum stabil dan berpotensi longsor terutama di bagian ujung alirannya, sehingga bisa mengakibatkan awan panas guguran,” imbuhnya.

Peta rawan bencana paling baru untuk Semeru dari PVMBG, kawasan berwarna merah tua adalah yang paling bahaya. (Foto: VOA/Nurhadi)
Peta rawan bencana paling baru untuk Semeru dari PVMBG, kawasan berwarna merah tua adalah yang paling bahaya. (Foto: VOA/Nurhadi)

Pada Jumat (17/12) petang, Andiani berada di Pos Pengamatan Gunung Semeru. Dia memastikan pengamatan aktivitas gunung tersebut berlangsung 24 jam. Sumber daya yang dikerahkan PVMBG untuk memantau Semeru juga sangat cukup.

Dia menambahkan, selain awan panas, potensi terjadinya aliran lahar juga masih tinggi mengingat curah hujan yang cukup tinggi di Semeru.

“Didukung data dari BMKG diperkirakan musim hujan masih akan berlangsung selama tiga bulan ke depan,” tambahnya.

Secondary explosion, lanjut Andiani, juga berpotensi terjadi di sepanjang aliran sungai apabila luncuran awan panas yang terjadi masuk atau mengalami kontak dengan air sungai.

Karena itulah, PVMBG meminta masyarakat untuk mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi dan PVMBG. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak.

“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai, di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” tambah Andiani.

Tim penyelamat dan warga membawa kantong jenazah berisi jenazah korban erupsi Gunung Semeru, di Desa Candi Puro, Lumajang, Jawa Timur, 7 Desember 2021. (Foto: AP)
Tim penyelamat dan warga membawa kantong jenazah berisi jenazah korban erupsi Gunung Semeru, di Desa Candi Puro, Lumajang, Jawa Timur, 7 Desember 2021. (Foto: AP)

Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari puncak Semeru, karena rawan bahaya lontaran batu pijar. Selain itu, seluruh pihak juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Terutama, sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.

Kemen ESDM Janjikan Peralatan

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam kunjungan ke Pos Pengamatan Semeru, Jumat (17/12), meminta masyarakat mematuhi peta bahaya yang telah disusun kementeriannya.

"Untuk daerah-daerah yang sudah terpetakan, dan petanya sudah keluar dan bisa digunakan, agar menjadi perhatian masyarakat untuk tidak berkegiatan pada radius-radius yang telah diindikasi di dalam peta,” kata Arifin dalam pernyataan resmi kementerian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menianjau Pos Pengamatan Semeru di Lumajang, Jumat (17/12). (Foto: Courtesy/Kemen ESDM)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menianjau Pos Pengamatan Semeru di Lumajang, Jumat (17/12). (Foto: Courtesy/Kemen ESDM)

Arifin menyebut, setelah erupsi Semeru 4 Desember 2021, terdapat sekitar 8 juta kubik pasir yang turun dan menyumbat aliran sungai. Jalur sungai tersebut, yaitu Besuk Kobokan, adalah jalur aliran lahar dari Semeru ketika terjadi erupsi.

"Apabila ini tersumbat, akibatnya jika ada kejadian lagi akan meluas ke daerah di sekitarnya. Untuk itu kami melakukan pemetaan baru dan mengimbau masyarakat untuk mematuhinya,” tambahnya.

Aktivitas Meningkat, Semeru Naik Status Menjadi Siaga
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:11 0:00

Kementerian ESDM juga berjanji melengkapi sistem pengamatan yang telah ada di Pos Pemantauan Semeru. Peralatan pemantauan akan ditambah dan dimoderninasi. Salah satunya yang akan segera direalisasikan adalah pemasangan thermal camera di area Besuk Kobokan untuk memantau suhu luncuran awan panas ketika terjadi erupsi.

“Kalau memang ada luncuran awan panas, langsung ketahuan temperaturnya berapa. Nah, cuma kan jaraknya 13 km ya, karena ke atas sana lagi tertutup kabut. Kita sedang cari jalan, bagaimana caranya kita bisa lebih ke titik pengamatan yang lebih dekat,” ujarnya lagi. [ns/ka]

XS
SM
MD
LG