Tautan-tautan Akses

Urgensi Memulihkan Anak-Anak Pasca Bencana Letusan Semeru


Ketua KPAI Kak Seto pada 9 Desember memulai "trauma healing" bagi anak korban bencana erupsi Gunung Semeru di salah satu pos pengungsi di Candipuro, Lumajang, Jawa Timur. (Foto: VOA/Indra Yoga)

Ketika terjadi bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, pekan lalu, fokus perhatian diarahkan pada upaya penyelamatan dan evakuasi korban, pendirian pos pengungsian, serta pembukaan jalan dan pemulihan infrastruktur yang terdampak.

Perhatian pada anak-anak menjadi urutan kesekian. Padahal menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi, atau yang akrab dipanggil Kak Seto, upaya memulihkan trauma harus dilakukan sejak dini.

Ditemui VOA di sela-sela upayanya menghibur anak-anak di pos pengungsian di SMP 2 Pasirian, Lumajang, pada Kamis (9/12) lalu, Kak Seto mengatakan “ibarat sebuah luka di tangan, kalau tidak segera diobati maka akan menimbulkan kecacatan. Maka bagi anak-anak yang berada di daerah bencana, jangan lupakan mereka. Segera ada pendekatan psikologis, diajak untuk berani mengeluarkan perasaannya, diajak bermain gembira seperti sebelum terjadinya bencana ini.”

Selama dua hari Kak Seto tanpa lelah mengunjungi pos pengungsian di Pasirian, Candipuro, dan Penanggal. Ia mengajak anak-anak bernyanyi, menari, menggambar, bermain cerdas-tangkas, mendongeng dan bermain sulap. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Bintang Puspayoga dan Deputi Bidang Perlindungan Anak KemenPPPA Nahar ikut datang menyimak upaya “trauma healing” tersebut.

Diwawancarai secara terpisah, Susianah, salah seorang komisioner KPAI yang selama empat hari ikut mengawasi langsung perlindungan anak pengungsi, menjabarkan bentuk layanan yang diberikan.

“Pertama, layanan dukungan psikososial untuk mengembalikan fungsi sosialnya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang dilakukan seperti Pondok Ceria, menggambar, dongeng, bercerita. Kedua, assessment (pemeriksaan.red) kesehatan mental pasca bencana. Nah jika hasil assessment-nya mengarah pada trauma, maka dilakukan tahapan terapi kesehatan mental, terapi pereda kegelisahan, psikoterapi peristiwa traumatik, dan terapi kesehatan psikologis,” ujarnya.

Salah satu anak pengungsi korban letusan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, menunjukkan hasil karyanya dalam kegiatan yang diadakan KPAI, pada 9 Desember 2021, yang bertujuan untuk menyembuhkan trauma yang dialami dari bencana yang terjadi. (Foto: KPAI)
Salah satu anak pengungsi korban letusan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, menunjukkan hasil karyanya dalam kegiatan yang diadakan KPAI, pada 9 Desember 2021, yang bertujuan untuk menyembuhkan trauma yang dialami dari bencana yang terjadi. (Foto: KPAI)

Pengungsi Capai 9.997 Jiwa

Hingga hari Senin (13/12) korban jiwa akibat erupsi Gunung Semeru telah mencapai 48 orang. Korban luka-luka yang masih dirawat di berbagai rumah sakit mencapai 18 orang, sementara korban yang melakukan rawat jalan di puskesmas dan pos kesehatan berjumlah 2.004 orang.

Jumlah pengungsi yang terdata di Posko Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Semeru mencapai 9.997 jiwa, yang tersebar di 148 titik berbagai wilayah. Titik pengungsi terbanyak terdapat di Kabupaten Lumajang yaitu 141 titik, dengan jumlah penyintas 9.754 jiwa.

Tim SAR dan warga desa membawa kantong yang berisi jenazah korban letusan Gunung Semeru, dalam proses evakuasi di Candi Puro, Lumajang, Jawa Timur, pada 7 Desember 2021. (Foto: AP)
Tim SAR dan warga desa membawa kantong yang berisi jenazah korban letusan Gunung Semeru, dalam proses evakuasi di Candi Puro, Lumajang, Jawa Timur, pada 7 Desember 2021. (Foto: AP)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD mengatakan untuk mempercepat pencarian korban, tim SAR kini menurunkan 11 anjing pelacak yang berasal dari Polda Jawa Timur, Polres Malang dan Mabes Polri. Puluhan alat berat masih digunakan untuk menangani dampak bencana ini, terutama untuk membuka jalur jalan antara Lumajang dan Malang.

BPBD juga meminta warga, pengunjung dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius satu kilometer dari puncak Gunung Semeru, dan mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

Selain bantuan finansial dan materil, para pengungsi – khususnya anak-anak – membutuhkan bantuan moril. “Ini yang sebetulnya sangat didambakan oleh semua anak-anak di seluruh dunia kalau mengalami suatu kebencanaan, agar mereka tidak langsung terpuruk dan hancur, tetapi ada resiliensi dan kemampuan beradaptasi,” ujar Kak Seto sebelum meninggalkan Lumajang. [iy/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG