Tautan-tautan Akses

WHO Stop Uji Coba Hidroksiklorokuin, Obat HIV untuk Covid-19


Botol yang berisi obat coronavirus, remdesivir, di fasilitas Ilmu Gilead di La Verne, California, AS 11 Maret 2020. (Photo: Reuters)

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada Sabtu (4/7) mengatakan telah menghentikan uji coba obat malaria hidroksiklorokuin dan kombinasi obat HIV lopinavir/ritonavir pada para pasien rawat inap yang mengidap COVID-19, karena obat-obatan itu gagal mengurangi kematian.

Sementara itu, WHO juga melaporkan lebih dari 200 ribu kasus baru di seluruh dunia akibat penyakit itu untuk pertama kalinya dalam sehari. Sebanyak 53.213 dari 212.326 kasus baru pada Jumat (3/7) ada di AS, kata WHO.

"Hasil uji coba sementara ini menunjukkan bahwa hidroksiklorokuin dan lopinavir/ritonavir memproduksi sedikit atau bahkan tidak mengurangi sama sekali tingkat kematian dari para pasien Covid-19 yang dirawat inap, dibandingkan dengan perawatan standar. Para penyelidik uji coba solidaritas akan menginterupsi uji coba segera," kata WHO dalam pernyataan. Mereka merujuk pada uji coba besar-besaran di beberapa negara yang dipimpin organisasi itu.

Badan PBB itu mengatakan keputusan tersebut, yang diambil berdasarkan rekomendasi dari komite internasional uji coba itu, tidak berdampak pada studi lain yang obat-obatannya digunakan pada para pasien yang tidak dirawat inap atau sebagai profilaksis (obat pencegahan).

Sebuah cabang lain dari uji coba yang dipimpin WHO sedang mempelajari potensi dari obat antivirus produksi Gilead, remdesivir. terhadap Covid-19. Komisi Eropa pada Jumat (3/7) memberi persetujuan untuk menggunakan remdesivir, setelah diketahui bahwa obat itu bisa mempersingkat waktu pemulihan di rumah sakit.

Uji coba solidaritas itu dimulai dengan lima cabang yang mempelajari beberapa pendekatan terkait perawatan pasien Covid-19. Kelimanya adalah perawatan standar; remdesivir; hidroksiklorokuin, lopinavir/ritonavir; dan lopanivir/ritonavir dipadukan dengan interferon. [vm/ft]

XS
SM
MD
LG