Tautan-tautan Akses

Pejabat Kesehatan AS akan Bersaksi Mengenai Respons Virus Corona oleh Gedung Putih


Pejabat-pejabat tinggi kesehatan masyarakat AS dijadwalkan bersaksi di hadapan satu panel di Kongres, Selasa, 23 Juni 2020. (Foto: dok).

Pejabat-pejabat tinggi kesehatan masyarakat AS dijadwalkan bersaksi di hadapan satu panel di Kongres hari Selasa (23/6), sementara beberapa wilayah Amerika sedang berjuang menghadapi lonjakan kasus baru virus corona terkonfirmasi maupun rawat inap karena virus tersebut.

Di antara yang dijadwalkan berbicara kepada para anggota Komite Energi dan Perdagangan DPR AS mengenai tanggapan pemerintahan Trump terhadap krisis virus corona ini adalah Kepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Dr. Anthony Fauci, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dr. Robert Redfield, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Dr. Stephen Hahn, dan Laksamana Brett Giroir, Kepala Layanan Kesehatan Masyarakat AS.

Dr. Anthony Fauci.
Dr. Anthony Fauci.

Fauci termasuk di antara pakar kesehatan yang menyatakan masyarakat jangan berfokus pada gelombang kedua virus di AS, karena negara ini belum keluar dari gelombang pertamanya.

Banyak negara bagian yang kini sedang dalam proses melonggarkan restriksi yang diberlakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona.

Gubernur Texas Greg Abbott, Senin (22/6) mengatakan, pemberlakuan kembali restriksi itu hanya akan dilakukan sebagai upaya terakhir, seraya menyatakan bahwa virus itu menyebar pada “tingkat yang tidak dapat diterima sama sekali” dan menolak memberlakukan perintah untuk mewajibkan penggunaan masker di ruang publik. Texas telah mencatat rekor harian penularan baru selama hampir dua pekan ini sementara tingkat rawat inap pasien karena Covid-19 bertambah besar.

Negara bagian tetangganya, Louisiana, telah melampaui angka 3.000 kematian karena Covid-19. Dengan meningkatnya jumlah pasien di sana, Gubernur John Bel Edwards mengatakan ia akan tetap memberlakukan pembatasan yang diterapkan sekarang ini, yang akan berakhir Jumat pekan ini.

Tingkat rawat inap juga melonjak di Georgia, sementara jumlah kasus terkonfirmasi meningkat di lebih dari selusin negara bagian. Di AS kini tercatat lebih dari 120 ribu kematian dan 2,3 juta pasien virus corona.

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus Senin mengatakan pandemi virus corona dipolitisasi dan bahwa kurangnya kepemimpinan global untuk memerangi virus ini merupakan ancaman yang jauh lebih besar daripada ancaman virus itu sendiri.

“Dunia kini sangat membutuhkan persatuan nasional dan solidaritas global. Politisasi pandemi telah memperburuknya,” kata Tedros dalam suatu telekonferensi untuk KTT Pemerintah Dunia yang berbasis di Dubai.

“Ancaman terbesar yang kita hadapi sekarang bukanlah virus itu sendiri. Ancamannya adalah kurangnya solidaritas global dan kepemimpinan global,” lanjutnya.

Tedros tidak menyebut siapa yang menurutnya mempolitisasi pandemi. Presiden AS Donald Trump telah mengkritik WHO atas tanggapannya terhadap wabah virus corona, dengan mengatakan organisasi itu bertindak terlalu lamban dan terlalu banyak memuji China. Ia mengancam akan mengakhiri semua dana AS bagi organisasi tersebut.

Covid-19 Global

Jumlah pasien yang tertular virus corona di seluruh dunia melampaui 9 juta orang pada hari Senin (22/6). Tedros menyatakan perlu waktu tiga bulan untuk mencapai angka satu juta pasien, tetapi penambahan satu juta kasus yang terakhir berlangsung hanya dalam delapan hari. Dua tempat di mana jumlah kasus melonjak adalah di Brazil dan India.

Kementerian Kesehatan Brazil, Senin (22/6) menyatakan negara itu mencatat 21.432 kasus baru terkonfirmasi serta 654 kematian lagi dalam periode 24 jam terakhir.

India, Selasa (23/6) juga melaporkan hampir 15 ribu kasus baru dan jumlah kematian yang telah melampaui 14.000 orang. Para pejabat kesehatan di Filipina, Selasa (23/6) menyatakan negara itu mencatat rekor baru penambahan kasus dalam sehari yang mencapai 1.500 orang.

Di Korea Selatan, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Korea Jung Eun-kyeong mengatakan, gelombang kedua, yang mencakup penambahan 46 kasus baru, Selasa (23/6), dipicu oleh satu hari libur pada awal Mei. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG