Tautan-tautan Akses

WHO ‘Sangat Prihatin” dengan Laporan Peningkatan KDRT


Seorang perempuan menunjukkan poster dalam unjuk rasa menentang kekerasan terhadap perempuan di Pamplona, Spanyol utara, 8 Maret 2020.
Seorang perempuan menunjukkan poster dalam unjuk rasa menentang kekerasan terhadap perempuan di Pamplona, Spanyol utara, 8 Maret 2020.

WHO mengatakan, pihaknya “sangat risau dengan laporan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat drastis di banyak wilayah Eropa selama berlangsungnya lockdown terkait Covid-19.”

Berbicara dari Kopenhagen pada Kamis (7/5), pemimpin WHO Eropa, Dr. Hans Kluge, mengatakan, dia melihat laporan tentang kenaikan kekerasan dalam rumah tangga. Baik terhadap laki-laki, perempuan, dan anak-anak di berbagai negara termasuk Belgia, Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol dan lain-lainnya di tengah-tengah pandemi virus corona.

Sementara statistiknya sulit didapat, Kluge memperkirakan sekitar 60 persen perempuan menderita akibat kekerasan dalam rumah tangga. Panggilan telepon ke hotline bantuan meningkat lima kali lipat.

Yang lebih merisaukan adalah fakta bahwa kebanyakan kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak dilaporkan.

Kata Kluge, kalau lockdown ini diteruskan untuk enam bulan, WHO memperkirakan akan ada tambahan 31 juta kasus kekerasan berdasarkan gender di seluruh dunia.

Kata Kluge, masalah ini tidak punya solusi tunggal, dan dia menyerukan agar pejabat pemerintah mempertimbangkannya sebagai kewajiban moral mereka untuk memastikan, layanan bantuan tersedia di masyarakat.

Menurut Kluge, beberapa negara sudah menanggapi krisis ini, dan mencatat, Italia telah mengembangkan sebuah aplikasi di mana orang bisa minta bantuan tanpa harus menelepon.

Spanyol dan Perancis punya program di mana asisten apoteker bisa diberitahu kalau ada masalah lewat penggunaan kata sandi. Skotlandia juga sudah mengalokasikan dana tambahan pada layanan sosial terkait kekerasan rumah tangga. [jm/pp]

XS
SM
MD
LG