Tautan-tautan Akses

WHO Optimis Mampu Kendalikan Wabah Ebola di Kongo


Peta Likati, Republik Demokratik Congo

Prospek pengendalian penyebaran virus Ebola yang mematikan dengan cepat di Republik Demokratik Kongo, menurut Direktur World Health Organization untuk kawasan Afrika tergolong baik.

Direktur World Health Organization untuk kawasan Afrika melaporkan prospek pengendalian penyebaran virus Ebola yang mematikan dengan cepat di Republik Demokratik Kongo tergolong baik.

Tanpa bermaksud mengecilkan kesulitan yang dihadapi ke depannya dalam mengakhiri wabah Ebola yang muncul akhir-akhir ini, Matshidiso Moeti mengatakan pada VOA, ia merasa “sangat tergugah” dengan kecepatan pemerintah dan mitra nasional serta internasional merespon pada krisis yang timbul ini.

“Saya cukup optimis karena ini adalah pemerintah yang telah berpengalaman menangani krisis ini, dan telah bertindak cepat dan sekarang kita telah bertindak bersama para mitra.”

“Kami mendapat dukungan logistik dari WFP (World Food Program) dan misi PBB. Jadi saya cukup optimis,” ujar Moeti.

WHO melaporkan 29 kasus yang terduga sebagai Ebola, termasuk tiga kematian sejak Ebola ditemukan di kawasan terpencil di Kongo pada tanggal 22 April. Virus yang mematikan ini dapat menimbulkan demam, pendarahan, mual, dan diare. Virus ini dapat menyebar dengan cepat melalui cairan tubuh dan dapat membunuh lebih dari 50 persen korbannya.

Ini adalah wabah Ebola kedelapan yang tercata di Kongo sejak 1976. Wabah ini pertama kali terdeteksi di Provinsi Bas-Uele, kawasan berhutan lebat di timur laut Kongo dekat perbatasan Republik Afrika Tengah.

Wabah terisolasi

Moeti menyebutkan keterpencilan kawasan itu sebagai “campuran berkah.”

Ia mengatakan kemungkinannya kecil akan adanya “penyebaran wabah dengan cepat ke kawasan lain akibat pergerakan penduduk seperti yang terjadi di Afrika Barat. Meskipun demikian, kami menyimak dengan teliti situasi di Republik Afrika Tengah … dimana kami prihatin dengan ketidakamanan di sana.”

Ia menyatakan sulit sekali untuk beroperasi di sana dan melaksanakan pengamatan atau investigasi di kawasan itu karena jaringan jalan ke arah sana belum berkembang dengan baik dan “kita harus menempuh jarak yang jauh, bukan dengan mobil, namun harus menggunakan sepeda motor.”

Untuk menanggulangi hal ini, ia mengatakan pemerintah telah membangun landasan pesawat untuk memungkinkan helikopter mengangkut para pakar dan barang-barang yang diperlukan untuk menanggulangi krisis.

Moeti, seorang dokter asal Afrika Selatan, menggantikan Luis Gomez Sambo asal Angola sebagai direktur regional WHO untuk Afrika bulan Januari 2015 setelah Sambo dikritik atas kepemimpinannya yang kurang menunjukkan antusiasme dalam menangani wabah Ebola tahun 2014 di Afrika Barat.

World Health Organization mendapat kritikan tajam dari komunitas internasional karena responnya yang lambat dan kurang cakap dalam menanggulangi epidemi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat WHO mengumumkan berakhirnya epidemi Ebola di akhir bulan Januari 2016, virus mematikan tersebut telah membunuh 11.315 orang di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea.

Memanfaatkan pengalaman

Dalam kunjungannya baru-baru ini ke Kinshasa, Matshidiso Moeti mengatakan ia menyaksikan bagaimana pelajaran pahit yang telah ditarik dari pengalaman tragis ini diaplikasikan di Kongo.

“Apa yang saya amati adalah pemerintah itu sendiri bertindak dengan sangat cepat di tingkat pusat dalam menanggulangi masalah di kawasan terpencil ini.”

“Jadi, mereka mengirim tim dari Kinshasa dalam jangka waktu satu atau dua hari sejak menerima peringatan dan melakukan investigasi dan dari tingkat provinsi dengan cepat, pemerintah menanggulanginya di tingkat lokal,” ujarnya.

Moeti memimpin proses reformasi untuk mengubah WHO di Kawasan Afrika menjadi apa yang ia sebut “organisasi yang lebih responsif, akuntabel, efektif, dan transparan.”

Ia mengatakan pada VOA bahwa proses ini adalah komponen dari upaya reformasi WHO di tingkat global dan ia akan memamparkan rencanaya dalam ajang sampingan pada tanggal 22 Mei, hari pembukaan Sidang Kesehatan Dunia untuk tahun ini.

Ia mengatakan program reformasi ini meletakkan fokusnya pada cara untuk meningkatkan beragam tindakan agar dapat menanggulangi keadaan darurat dan penyakit menular secara lebih cepat dan efisien.

“Jelas sekali, sebagaimana kita saksikan secara nyata dengan wabah Ebola, wabah penyakit dapat secara cepat berubah menjadi krisis kemanusiaan berskala besar dengan segala macam dampak yang ditimbulkannya.”

Meskipun tugas untuk mereformasi kesehatan masih jauh dari selesai, Moeti mengatakan, “Dengan bangga saya menyampaikan bahwa kami mulai melihat bagaimana semua perubahan yang telah kami lakukan telah membuat perbedaan dalam cara kami beroperasi.” [ww]

XS
SM
MD
LG