Tautan-tautan Akses

Wapres AS: Tradisi Islam Moderat Indonesia jadi Inspirasi Dunia


Wapres AS Mike Pence (kedua dari kanan) bersama dua putrinya: Audrey and Charlotte, serta istrinya Karen, saat mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta, Kamis (20/4).

Tradisi Islam moderat Indonesia menjadi inspirasi dunia, kata Wakil Presiden Amerika Mike Pence dalam jumpa pers bersama di Jakarta hari Kamis (20/4) minggu lalu. “Di Indonesia, sebagaimana di Amerika, agama adalah pemersatu bukan pemecah belah,” tegas Mike Pence.

Pernyataan Wakil Presiden Pence itu sangat tepat waktu. Ia tiba di Indonesia, negara terbesar di Asia Tenggara, sehari setelah pemilihan gubernur Jakarta yang sangat sengit, dengan petahana Basuki Ahok Cahaya Purnama mengalami kekalahan setelah kampanye panjang yang menimbulkan perpecahan, dan kadang-kadang diwarnai ketegangan dan kekerasan antar agama.

Jurnalis Krithika Varagur, menulis untuk publikasi Foreign Policy, mengatakan Ahok bukan gubernur Tionghoa atau Kristen pertama di Jakarta, kota dengan penduduk 10 juta dan ibukota negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, ia adalah gubernur minoritas ganda yang pertama. Ia maju sebagai calon independen di negara yang dikuasai oleh partai-partai politik yang sangat kuat. Ia terhindar dari noda korupsi dan berani bersuara keras dalam suasana politik dimana politisi cenderung berhati-hati dan berusaha menghindari berbicara secara blak-blakan.

Pernyataan Ahok selagi kampanye bulan September, mengenai apakah Muslim boleh memilih pemimpin non-Muslim, memicu protes Islamis populis berbulan-bulan, yang dua kali membuat Jakarta macet total.

Pesaingnya yang akhirnya tampil sebagai pemenang, mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, adalah tokoh independen yang menggandeng kelompok-kelompok Islamis dalam kampanye, memacu satu segmen warga Jakarta untuk menggerakkan kehebohan yang membuahkan perolehan 58 persen suara untuk Anies Baswedan.

Varagur mengatakan, perubahan status Front Pembela Islam (FPI), kelompok garis keras yang mengatur demonstrasi besar-besaran menentang Ahok, menjadi arus utama, layak dianggap sebagai perkembangan signifikan. Tuduhan FPI membuat Ahok diadili dengan dakwaan menista agama, yang membuat Ahok harus hadir di pengadilan seminggu sekali selama bulan-bulan terakhir masa kampanye.

Dalam kenyataan, menurut artikel itu, pilkada Jakarta tidak mencerminkan pergeseran besar dalam politik di Indonesia, melainkan sebuah kasus pergulatan pemilu yang selalu terjadi antara demokrasi pluralistik dan Islam politik.

Jika upaya FPI ini merupakan ujicoba untuk mengeksploitasi politik identitas untuk memperoleh keunggulan politik di Indonesia, kata Varagur, maka ujicoba itu telah berhasil dengan sangat luar biasa dan pasti akan diulang. Presiden Joko Widodo yang berhaluan moderat menghadapi pemilihan untuk masa jabatan kedua tahun 2019. Pemilihan itu dipastikan akan heboh. [ds]

XS
SM
MD
LG