Tautan-tautan Akses

Upaya Tunawisma Cari Lapangan Kerja Lewat Jejaring Sosial


ARSIP - Petugas-petugas kepolisian berjalan melintasi seorang pria tunawisma menjelang berlangsungnya pernikahan anggota kerajaan, Putri Eugenie dan Jack Brooksbank di Kastil Windsor, Inggris, 10 Oktober 2018 (foto: Reuters/Hannah McKay)

Saat Hana berhasil beremigrasi ke Inggris bersama putranya dari Afrika Timur, ia bersyukur dapat lolos dari persekusi dan mendapatkan tempat tinggal bersama saudara perempuannya di sebuah apartemen sempit di London.

Seharusnya itu adalah hanya jalan keluar sementara, namun setahun kemudian, keempatnya masih tinggal bersama dalam kondisi berdesak-desakan, dengan Hana berbagi tempat tidur dengan anak lelakinya, dan saudara perempuannya berbagi tempat tidur dengan anak balitanya.

“Saat ia tiba di Inggris, saya berjuang dengan berbagai hal. Tidak mudah menjadi seorang orang tua tunggal dan tunawisma,” ujar Hana,

Dengan tidak ada peluang kerja, ia tidak memiliki peluang untuk mencari tempat tinggal sendiri di London, dimana biaya sewa termasuk yang termahal di dunia.

Masalah tunawisma semakin meningkat di Inggris dalam kurun waktu hampir sepuluh tahun terakhir, dimana 82.000 keluarga tinggal di tempat tinggal sementara, termasuk lebih dari 123.000 anak, sebagaimana ditunjukkan dalam data pemerintah.

Namun Hana yang berusia 32 tahun berharap untuk dapat mengatasi masalah ini, setelah sebuah perusahaan sosial, Beam, meluncurkan kampanye crowdfunding menyediakan biaya baginya untuk mengikuti latihan kerja sebagai terapis kecantikan.

“Telah ada sebuah perubahan dramatis, sekarang saya akan menjadi seorang terapis kecantikan profesional. Saya segera ingin memulai kerja, di hari terakhir latihan kerja,” ujar Hana dalam sebuah wawancara lewat telepon.

Ia termasuk satu di antara 50 tunawisma yang berhasil mendapatkan peluang untuk berpartisipasi dalam pelatihan kerja lewat Beam, yang menurut perusahaan itu adalah platform pertama yang dibuat khusus untuk membantu tunawasima lewat donasi crowfunding lewat profil daring mereka.

Para peserta, yang dirujuk ke Beam oleh lembaga amal untuk para tunawisma, juga mendapat dukungan dari para pekerja sosial di sepanjang studi yang mereka ikuti dan selama upayanya untuk mendapatkan lapangan kerja.

“Kami sungguh-sungguh ingin membuat orang kembali mandiri. Mereka tidak boleh dipandang dari kondisi mereka sebagai tunawisma,” ujar pendiri Beam, Alex Stephany, yang meluncurkan platform tersebut tahun lalu.

Ia mengatakan setiap kampanye crowdfunding dibiayai secara penuh sebelum kampanye berikutnya diluncurkan untuk memastikan setiap orang memiliki peluang untuk ikut dalam kursus pelatihan kerja sesuai dengan pilihannya, baik itu kursus akuntansi, asisten dokter gigi, atau ketrampilan sebagai tukang kayu.

“Banyak sekali orang yang butuh pertolongan, dan juga banyak sekali orang yang ingin menolong, dan teknologi menjadi bagian yang sangat yang penting yang membuatnya aman dan mudah bagi orang-orang untuk melakukannya,” ujar Stephany dalam sebuah wawancara.

Darurat Perumahan

Lembaga amal yang bekerja untuk tunawisma, Shelter, yang bermitra dengan Beam, menyalahkan meningkatnya biaya sewa swasta, dikuranginya manfaat, dan langkanya perumahan sosial yang menyebabkan lonjakan tajam dalam permasalahan tunawisma.

“Kita saksikan kemiskinan setiap hari dan keputusasaan anggota masyarakat. Orang yang tidak mampu membayar biaya sewa karena tingginya harga. Kami sebut kondisi ini darurat perumahan, ini kondisi yang mengerikan,” ujar Alison Mohammed, direktur layanan Shelter.

Diskriminasi terhadap kaum tunawisma juga membuat sulit bagi mereka untuk mendapatkan tempat tinggal untuk disewa, ujarnya.

Sebuah hotel di utara Inggris, di koa Hull, mendapat kritikan pekan ini setelah membatalkan reservasi yang telah dibayar oleh lembaga amal lokal untuk memberikan tempat tidur bagi para tunawisma pada Malam Natal dan Hari Natal.

‘Pesan dari surga’

Mohammed mengatakan inisiatif seperti yang ditunjukkan oleh Beam dapat memanfaatkan niat baik publik untuk membantu kalangan tunawisma, namun itu adalah hanya “sekeping teka-teki.”

“Apapun yang dapat memanfaatkan keinginan publik untuk berbuat sesuatu mengenai masalah tunawisma ini adalah gagasan yang baik,” ujarnya dalam sebuah wawancara lewat telepon.

“Inisiatif ini tidak akan memecahkan langkanya perumahan sosial, namun inisiatif ini akan membantu orang yang berkeinginan untuk keluar dalam posisi ini dan mengambil langkah selanjutnya,” ujar Mohammed.

Menurut Beam ada selusin orang yang sejauh ini telah mendapatkan lapangan pekerjaan dan kelompok ini berharap untuk mengembangkan inisiatifnya di luar London dan meluncurkan inisiatif serupa di seluruh penjuru negeri.

Untuk Hana, yang akan menyelesaikan studi terapi untuk kecantikan tahun depan, ada ratusan orang asing yang perduli tentang kesejahteraannya dan masa depannya di Inggris telah menjadi sumber rasa nyaman.

Ia juga percaya ia akan menemukan tempat tinggalnya sendiri.

“Saya tidak mengenal orang-orang ini dan bahkan saya belum pernah melihat wajah mereka, namun mereka memberi dorongan yang sangat besar. Ini seperti pesan yang dikirimkan dari surga,” ujarnya. [ww]

Recommended

XS
SM
MD
LG